Tolitoli, LenteraWayracana.id – Kehadiran para pemangku kepentingan dari berbagai tingkatan pemerintahan, unsur TNI-Polri, lembaga penegak hukum, legislatif, hingga tokoh adat menjadi penanda bahwa pelestarian budaya bukan sekadar agenda seremonial, melainkan sebuah ikhtiar kolektif untuk menjaga identitas dan memperkuat jati diri bangsa.

Pada kegiatan yang berlangsung di Kecamatan Dondo, Kabupaten Tolitoli, tampak hadir Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah, Syam Zaini, S.Pd., M.Si., mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah. Hadir pula anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah Faizal Alatas, S.H., Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat yang mewakili Bupati Tolitoli, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang terdiri dari Lanal Tolitoli, Polres Tolitoli, Kodim 1305/BT, Kejaksaan Negeri Tolitoli, serta unsur pemerintahan lainnya.

Turut hadir Camat Dondo, Camat Dampal Utara (Damput), Dewan Adat Masyarakat Dondo, anggota DPRD Kabupaten Tolitoli Jemi Yusuf, serta berbagai elemen masyarakat yang bersama-sama menunjukkan komitmen terhadap pelestarian nilai-nilai budaya daerah.
Momentum tersebut mencerminkan sebuah paradigma pembangunan yang semakin menempatkan kebudayaan sebagai fondasi peradaban. Dalam perspektif pembangunan modern, kebudayaan bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga modal sosial yang memiliki daya transformasi terhadap kualitas kehidupan masyarakat.

Kehadiran lintas institusi dalam satu ruang kebersamaan menjadi simbol bahwa sinergi antarlembaga merupakan prasyarat penting dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai lokal di tengah derasnya arus globalisasi. Budaya lokal bukan sekadar artefak sejarah, melainkan sistem pengetahuan yang mengandung filosofi kehidupan, etika sosial, dan karakter kolektif masyarakat.
Secara deskriptif, suasana kegiatan berlangsung penuh keakraban dan nuansa kekeluargaan. Dialog antara pemerintah, aparat keamanan, tokoh adat, dan masyarakat memperlihatkan harmonisasi yang menjadi modal utama dalam membangun daerah. Kebersamaan tersebut menghadirkan pesan bahwa pembangunan fisik akan lebih bermakna apabila berjalan seiring dengan pembangunan karakter dan pelestarian identitas budaya.
Dari sudut pandang ilmiah populer, kebudayaan memiliki fungsi strategis sebagai perekat kohesi sosial. Semakin kuat masyarakat menjaga akar budayanya, semakin besar pula kemampuan mereka menghadapi tantangan perubahan zaman tanpa kehilangan identitas. Oleh karena itu, keterlibatan seluruh unsur pemerintah dan masyarakat dalam kegiatan budaya merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan pembangunan daerah.

Di balik kemeriahan acara, tersimpan nilai human interest yang menyentuh. Masyarakat Dondo tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku utama yang merawat tradisi, menghormati leluhur, sekaligus mewariskan nilai-nilai tersebut kepada generasi muda. Inilah wajah kebudayaan yang hidup—bukan sekadar dikenang, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sinergi yang diperlihatkan pada kegiatan ini menjadi pesan kuat bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama. Ketika pemerintah, aparat keamanan, legislatif, tokoh adat, dan masyarakat berjalan dalam satu irama, maka budaya akan tetap menjadi cahaya yang menerangi arah pembangunan menuju masa depan yang berakar pada kearifan lokal.
Sumber: Diolah dari informasi kegiatan yang disampaikan oleh penyelenggara dan data kehadiran unsur Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, Pemerintah Kabupaten Tolitoli, Forkopimda, DPRD, serta Dewan Adat Masyarakat Dondo.

