TOLITOLI, LenteraWayracana.id | — Di balik kibaran Sang Merah Putih pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia di Kabupaten Tolitoli, terdapat kisah tentang disiplin, ketekunan, kehilangan, dan sebuah kebanggaan yang tak mudah diterjemahkan ke dalam kata-kata.
Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Nabila Ashila, anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Tolitoli yang sukses menjalankan tugasnya dalam upacara peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI di Lapangan Hi. Hayyun, Senin, 17 Agustus 2026.
Tugas Paskibraka bukan sekadar berjalan dalam formasi atau mengibarkan bendera. Di balik setiap langkah terdapat proses panjang berupa latihan fisik, pembentukan karakter, ketepatan gerak, konsentrasi, serta kepatuhan terhadap tata upacara. Karena itu, keberhasilan mengibarkan Sang Merah Putih merupakan akumulasi dari disiplin dan kerja keras yang dilakukan jauh sebelum upacara berlangsung.
Bagi Nabila, keberhasilan tersebut menjadi momentum yang memiliki makna personal. Putri dari IPTU Samir Muhammad, SH., MH., Kapolsek Baolan, itu akhirnya dapat menuntaskan amanah yang dipercayakan kepadanya bersama seluruh anggota Paskibraka Kabupaten Tolitoli.
Pada Selasa, 18 Agustus 2026, para anggota Paskibraka Kabupaten Tolitoli dijadwalkan kembali dari asrama setelah menyelesaikan rangkaian tugas pengibaran dan penurunan bendera.

Selama menjalani masa pengukuhan dan pemusatan latihan, Nabila juga dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul. Sejumlah rekan sesama Paskibraka bahkan tampak mengabadikan kebersamaan melalui swafoto bersama dirinya sejak momentum pengukuhan di kediaman Bupati Tolitoli yang dilakukan oleh Wakil Bupati.
Namun, popularitas Nabila di antara rekan-rekannya bukan hadir tanpa alasan. Jauh sebelum menjadi anggota Paskibraka tingkat Kabupaten Tolitoli, ia telah menorehkan prestasi dalam bidang baris-berbaris.
Saat masih duduk di bangku SMP, Nabila pernah meraih Juara I Pembaris Sulawesi Tengah tahun 2025 bersama timnya dalam ajang Lomba Keterampilan Baris-Berbaris (LKKB). Atas prestasi tersebut, Bupati Tolitoli Amran Hi. Yahya memberikan penghargaan kepada Nabila dan timnya.
Prestasi itu sekaligus menjadi indikator bahwa kedisiplinan bukan sesuatu yang muncul secara instan. Dalam perspektif pembentukan karakter, aktivitas baris-berbaris mengandung pendidikan mengenai konsistensi, koordinasi, kepemimpinan, ketahanan mental, serta kemampuan menempatkan kepentingan kelompok di atas kepentingan pribadi.
Di Balik Prestasi, Ada Kisah Kehilangan
Di balik senyum dan keberhasilan Nabila menjalankan tugas negara tersebut, tersimpan kisah keluarga yang menyentuh.
IPTU Samir Muhammad menuturkan, Nabila kehilangan ibu kandungnya ketika masih berusia sekitar empat bulan. Sejak usia yang sangat dini itu, Nabila tumbuh tanpa kehadiran sosok ibu kandung dalam perjalanan hidupnya.
Kehilangan tersebut tentu menjadi bagian dari perjalanan emosional seorang anak. Namun, kehidupan kemudian membentuk Nabila menjadi pribadi yang terus melangkah, belajar, berlatih, dan mengukir prestasi.
Bagi sang ayah, keberhasilan Nabila menjadi anggota Paskibraka dan menjalankan tugas pengibaran bendera merupakan kebanggaan yang memiliki dimensi lebih dalam daripada sekadar pencapaian seremonial.
“Teruslah berlatih, berbuat, dan menata karier. Perjalanan hidup masih panjang. Saya percaya ibu Nabila tersenyum melihat putrinya sekarang,” ujar IPTU Samir Muhammad dengan nada haru.
Kalimat tersebut menjadi titik emosional dari kisah Nabila. Sebab, di balik sebuah upacara kenegaraan yang berlangsung khidmat, ada keluarga yang menyimpan cerita, ada doa yang tidak selalu terdengar, serta ada seseorang yang mungkin tidak lagi hadir secara fisik tetapi tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup seorang anak.
Kebanggaan Sang Paman dari Pinrang
Kebanggaan terhadap capaian Nabila juga datang dari keluarga besarnya. AIPTU Suparman Muhammad, anggota Reskrim Polres Pinrang, Sulawesi Selatan, yang merupakan paman kandung Nabila, turut menyampaikan apresiasi atas keberhasilan keponakannya.
Ia menilai keberhasilan Nabila bersama Paskibraka Kabupaten Tolitoli menjadi kebanggaan keluarga sekaligus pengalaman berharga bagi perjalanan masa depannya.
“Salam sukses dan merdeka. Kami ikut bangga atas keberhasilan Nabila bersama Paskibraka Kabupaten Tolitoli,” ujarnya.
Bukan Sekadar Mengibarkan Bendera
Kisah Nabila pada HUT ke-81 Kemerdekaan RI memperlihatkan bahwa simbolisme bendera Merah Putih memiliki dimensi pendidikan yang kuat bagi generasi muda.
Sang Merah Putih yang dikibarkan di tiang upacara bukan hanya kain berwarna merah dan putih. Ia merupakan simbol kedaulatan, identitas, perjuangan, dan cita-cita kebangsaan. Karena itu, orang-orang yang diberi amanah untuk mengibarkannya memikul tanggung jawab moral agar prosesi berlangsung penuh kehormatan.
Bagi Nabila Ashila, tugas itu kini telah ditunaikan.
Lelah latihan telah terbayar. Keringat selama masa pembinaan berubah menjadi kebanggaan. Dan sebuah pengalaman yang berlangsung hanya beberapa menit di lapangan upacara, kemungkinan besar akan menjadi kenangan panjang dalam perjalanan hidupnya.
Di usianya yang masih muda, perjalanan Nabila masih terbentang luas. Prestasi di dunia baris-berbaris dan pengalaman sebagai anggota Paskibraka dapat menjadi modal awal untuk membangun karakter, kepemimpinan, serta masa depan yang lebih besar.
(Armen Djaru)

