Mulia, Papua Tengah , LenteraWayracana.id | — Masjid Al-Mujahidin, Kampung Trikora, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, menjadi ruang perjumpaan antara aparat keamanan dan masyarakat dalam suasana religius pada Minggu (30/8/2026).

Sekitar 300 jemaah menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah/2026 Masehi yang digelar Kodim 1714/Puncak Jaya bersama jajaran TNI, Polri, Satgas, Majelis Masjid Ar-Rahman, serta masyarakat muslim setempat.

Mengangkat tema “Maulid Nabi Sebagai Momentum Meneladani Akhlak Rasulullah SAW dan Mempererat Persaudaraan”, kegiatan tersebut tidak semata menjadi agenda keagamaan. Di tengah dinamika sosial masyarakat Papua, peringatan Maulid juga menjadi medium memperkuat kohesi sosial, membangun komunikasi, sekaligus merawat ruang kebersamaan lintas unsur.

Acara dipimpin Ketua BKM Masjid Al-Mujahidin, Ustaz H. Abdul Mannan, S.H., MKP. Sementara tausiyah disampaikan Ustaz Kabul Yani, M.A., Ketua Masjid Timika.
Sejumlah pejabat dan unsur TNI-Polri turut hadir, di antaranya Dandim 1714/PJ Letkol Inf Bagus Kurniawan, M.Han., bersama Ketua Persit KCK Cabang XLI Dim 1714/PJ Ny. Resa Bagus Kurniawan; Dansatgas 527/BY Letkol Inf Heri Suseno; Dansatgas 136/Tuah Sakti Letkol Inf Yudi Satria Prabowo; Dankima Yonif 721/Makasau Kapten Inf Amir; Kasad Lantas Polres Puncak Jaya Iptu Totok; Dansatis Mandala Kapten Inf Ahmad Jufri Lubis; Pasi Intel Kodim 1714/PJ Lettu Inf Suparman; serta Danramil 1714-01/Mulia Lettu Inf Sugianto.

Hadir pula tokoh agama, tokoh masyarakat, personel TNI-Polri, Satgas, dan warga muslim di sekitar lokasi.
Keteladanan Nabi sebagai Etika Kehidupan
Rangkaian kegiatan berlangsung khidmat, dimulai dari pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, selawat Nabi, sambutan, tausiyah, hingga doa penutup.
Dalam sambutannya, Ketua BKM Masjid Al-Mujahidin menyampaikan penghargaan kepada Kodim 1714/PJ, Polres Puncak Jaya, Satgas, panitia, serta seluruh jemaah yang mendukung terselenggaranya peringatan tersebut.
Menurutnya, Maulid Nabi hendaknya tidak berhenti pada seremoni keagamaan. Nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW perlu diterjemahkan menjadi perilaku konkret dalam menjalankan tugas maupun kehidupan sosial.
Pesan tersebut menemukan relevansinya dalam konteks kehidupan masyarakat yang membutuhkan bukan hanya stabilitas keamanan, tetapi juga kekuatan modal sosial berupa kepercayaan, persaudaraan, dan kepedulian antarsesama.
Dalam perspektif sosial, agama dapat menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun harmoni masyarakat ketika nilai-nilai yang diajarkan diterjemahkan ke dalam sikap saling menghormati dan menjunjung kemanusiaan.
Tausiyah: Merawat Kerukunan di Tanah Papua
Dalam tausiyahnya, Ustaz Kabul Yani mengajak jemaah meneladani akhlak Rasulullah SAW, memperbanyak selawat, serta memperkuat silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah.
Ia juga menekankan pentingnya kerukunan dan toleransi antarumat beragama untuk menciptakan suasana yang damai dan kondusif di Kabupaten Puncak Jaya dan Tanah Papua.
Pesan tersebut menjadi penting karena perdamaian tidak lahir hanya dari absennya konflik. Perdamaian juga tumbuh dari kemampuan masyarakat membangun komunikasi, mengelola perbedaan, dan menempatkan persaudaraan sebagai nilai bersama.
Dalam ruang sosial seperti itulah Maulid Nabi memiliki dimensi yang lebih luas: menjadi pengingat bahwa keteladanan Rasulullah SAW dapat diwujudkan melalui sikap santun, keadilan, kepedulian, serta penghormatan terhadap sesama.
TNI-Polri Hadir dalam Ruang Kebersamaan
Dandim 1714/PJ Letkol Inf Bagus Kurniawan, M.Han., berharap peringatan Maulid Nabi dapat memperkuat persaudaraan seluruh elemen masyarakat.
“Mari kita teladani akhlak Rasulullah SAW dalam setiap langkah pengabdian dan pelayanan kepada masyarakat, demi menjaga kedamaian dan kebersamaan di bumi Puncak Jaya,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pengabdian aparat di tengah masyarakat memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar menjalankan fungsi keamanan. Kehadiran dalam kegiatan sosial-keagamaan juga menjadi bagian dari upaya membangun kedekatan dan komunikasi dengan masyarakat.
Di sisi lain, pengamanan kegiatan dilakukan secara terpadu oleh personel Kodim, Polres, dan Satgas wilayah Kabupaten Puncak Jaya. Sinergi tersebut memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib, dan lancar.
Pada akhirnya, suasana Maulid di Masjid Al-Mujahidin bukan sekadar menyisakan rangkaian acara dan tausiyah. Ia menghadirkan pesan sederhana namun fundamental: bahwa persaudaraan perlu dirawat melalui perjumpaan, keteladanan, dan kepedulian.
Di tengah bentang Papua yang kaya keberagaman, nilai tersebut menjadi semacam jembatan sosial—menghubungkan aparat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga dalam satu ruang kebersamaan.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H pun diharapkan menjadi momentum untuk membawa nilai-nilai akhlak Rasulullah SAW keluar dari ruang masjid, lalu menjadikannya etika dalam kehidupan sehari-hari: menghormati perbedaan, menjaga kerukunan, memperkuat persaudaraan, serta bersama-sama merawat kedamaian di Kabupaten Puncak Jaya. (LW.ID)

