Baturaja, Sumatera Selatan, LenteraWayracana.id | — Dentuman daya gempur dari darat dan udara menjadi bagian dari puncak Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Super Garuda Shield (SGS) 2026. Dalam skenario Land Joint Strike (LJS), kekuatan militer Indonesia dan Amerika Serikat diuji bukan semata dari kemampuan persenjataan, melainkan dari sejauh mana koordinasi, komunikasi, serta rantai komando mampu bekerja secara terpadu di medan operasi.

Komandan Kodiklat TNI Letjen TNI Mohamad Naudi Nurdika selaku Direktur Latihan (Dirlat) Latgabma SGS 2026 hadir langsung menyaksikan pelaksanaan latihan tersebut dari Pos Tinjau T12, Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklat TNI AD, Baturaja, Sumatera Selatan, Senin (7/9/2026).

Latihan ini memperlihatkan wajah peperangan modern yang semakin bergantung pada kecepatan informasi, presisi pengambilan keputusan, dan interoperabilitas antarsatuan. Dalam konteks tersebut, kemampuan tempur tidak lagi berdiri sendiri. Setiap unsur harus bergerak dalam satu orkestrasi operasi yang terukur.

Teknologi dan Komando Menjadi Kunci
Dalam skenario LJS, teknologi komunikasi militer dimanfaatkan untuk membangun koordinasi serangan secara real time. Sistem tersebut memungkinkan berbagai unsur tempur menerima informasi, menjalankan perintah, dan menyesuaikan manuver berdasarkan perkembangan situasi medan.

Indonesia mengerahkan sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista), antara lain Astros, MLS Vampire, pesawat F-16, serta helikopter AH-64E Apache.
Sementara itu, Amerika Serikat turut menampilkan kekuatan HIMARS dan helikopter AH-64E Apache.
Kombinasi kekuatan tersebut menciptakan gambaran operasi gabungan yang menempatkan daya tembak, mobilitas, pengintaian, komunikasi, dan komando dalam satu rangkaian aksi.
Bagi personel yang terlibat, situasi seperti ini bukan sekadar demonstrasi teknologi. Setiap unsur dituntut memahami prosedur, mengenali peran masing-masing, serta mampu berkomunikasi secara efektif dengan pasukan dari negara mitra.
4.743 Personel, Satu Tujuan Operasional
Latihan LJS melibatkan 4.743 personel. Skala tersebut menggambarkan kompleksitas sebuah operasi militer multinasional yang membutuhkan tingkat sinkronisasi tinggi.
Di balik deru mesin dan daya ledak alutsista, terdapat aspek yang jauh lebih fundamental: manusia.
Personel dari berbagai unsur dan negara harus bekerja dalam kerangka operasi yang sama, dengan prosedur dan bahasa komando yang dapat dipahami bersama. Di sinilah interoperabilitas menemukan makna praktisnya—bukan hanya mampu bertempur bersama, tetapi mampu berpikir, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan bertindak sebagai sebuah kesatuan operasi.
Secara ilmiah populer, interoperabilitas dapat dipahami sebagai kemampuan berbagai sistem dan organisasi yang berbeda untuk saling terhubung dan bekerja secara efektif. Dalam operasi militer modern, kemampuan ini menjadi salah satu fondasi penting untuk menghadapi dinamika ancaman yang semakin kompleks.
Lebih dari Sekadar Latihan Tempur
Latgabma SGS 2026 juga memiliki dimensi strategis yang lebih luas. Latihan ini diarahkan untuk meningkatkan interoperabilitas sekaligus memperkuat diplomasi pertahanan di kawasan Indo-Pasifik.
Artinya, medan latihan bukan hanya ruang untuk menguji kemampuan tempur. Ia juga menjadi ruang pembelajaran bersama, pertukaran pengalaman, pembentukan kepercayaan, dan penguatan hubungan pertahanan antarnegara.
LJS memperlihatkan bahwa kekuatan militer modern tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa besar daya gempur yang dimiliki. Faktor penentu lainnya adalah kemampuan mengintegrasikan berbagai platform, sistem komunikasi, informasi, dan sumber daya manusia ke dalam satu keputusan operasional yang presisi.
Dalam perspektif kawasan Indo-Pasifik yang memiliki dinamika keamanan kompleks, latihan multinasional seperti SGS dapat menjadi instrumen untuk membangun kesiapsiagaan sekaligus memperkuat jejaring kerja sama pertahanan.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Kekuatan sesungguhnya terletak pada manusia yang mampu mengendalikan teknologi tersebut, bekerja dalam satu komando, dan membangun kepercayaan di antara kekuatan yang berbeda.
Latgabma SGS 2026 pun menjadi panggung tempat ketangguhan itu diuji—bukan hanya melalui dentuman persenjataan, tetapi melalui kemampuan membangun sinergi dalam satu medan operasi. (LW.ID)

