TOLITOLI , LenteraWayracana.id | — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Masjid Nuur Ma’ani, Perumahan BTN Villa Mas Dapalak, Tolitoli, tidak sekadar menjadi seremoni keagamaan. Momentum tersebut menjadi ruang refleksi tentang pentingnya masjid, pendidikan Al-Qur’an, keluarga, dan masyarakat dalam membentuk generasi yang berakhlak di tengah derasnya perubahan zaman.

Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H sekaligus syukuran Milad ke-6 TKA-TPA-TQA Qurrota A’yun Dapalak yang digelar Sabtu, 5 September 2026.

Kegiatan yang dilaksanakan bersama Panitia Pembangunan Masjid Nuur Ma’ani tersebut sekaligus menandai perjalanan enam tahun TKA-TPA Qurrota A’yun Dapalak dalam memberikan pendidikan Al-Qur’an dan pembinaan keagamaan bagi anak-anak di lingkungan Perumahan BTN Villa Mas Dapalak dan sekitarnya.

Milad ke-6 Qurrota A’yun sendiri jatuh pada 2 September 2026.
Tema yang diusung tahun ini cukup luas sekaligus relevan dengan tantangan zaman: “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW, Menguatkan Gerakan Memakmurkan Masjid, Meneguhkan Ukhuwah dan Membentuk Generasi Qur’ani yang Berakhlak Mulia serta Berdaya di Era Digital Menuju Indonesia Emas 2045.”

Tema tersebut menyiratkan satu pesan penting: pendidikan agama tidak cukup berhenti pada kemampuan membaca Al-Qur’an. Lebih jauh, pendidikan harus mampu melahirkan manusia yang menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai orientasi perilaku, sekaligus memiliki kemampuan menghadapi transformasi sosial dan teknologi.
Enam Tahun Qurrota A’yun: Dari Pendidikan Al-Qur’an hingga Pembentukan Karakter
Kepala TKA-TPA Qurrota A’yun Dapalak sekaligus mewakili panitia, Ghufron Arsyah Prawira, S.Sos., mengatakan perjalanan enam tahun lembaga tersebut bukan sekadar persoalan usia.
Menurutnya, di balik angka enam tahun terdapat proses panjang yang dibangun melalui doa, pengabdian, perjuangan, kebersamaan, dan harapan terhadap masa depan anak-anak.
«“Enam tahun bukan sekadar angka. Di dalamnya ada doa, perjuangan, pengabdian, kelelahan, kebersamaan, dan harapan.”»
Ghufron menegaskan, orientasi Qurrota A’yun tidak hanya mencetak anak yang mampu membaca Al-Qur’an, tetapi membangun generasi yang mampu menghidupkan nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Anak-anak diharapkan tumbuh sebagai pribadi yang memiliki akhlak mulia, mencintai masjid, menghormati orang tua dan guru, serta mampu memanfaatkan teknologi untuk kegiatan yang produktif dan bernilai positif.
Persoalan tersebut menjadi semakin penting di tengah era digital. Anak-anak hidup dalam ruang informasi yang nyaris tanpa batas. Teknologi memberikan peluang besar untuk belajar, tetapi pada saat yang sama menghadirkan tantangan terhadap pembentukan karakter.
Karena itu, menurut Ghufron, pendekatan yang tepat bukan menjauhkan anak dari teknologi, melainkan membekali mereka dengan iman, ilmu, dan akhlak agar mampu menggunakan teknologi secara bijak.
«“Teknologi harus menjadi sarana untuk belajar dan menyebarkan kebaikan, bukan sesuatu yang menjauhkan anak-anak kita dari Al-Qur’an, masjid, dan nilai-nilai agama.”»
Pendidikan Anak Bukan Hanya Tugas Guru
Ghufron juga menekankan bahwa pembentukan karakter anak tidak dapat dibebankan hanya kepada lembaga pendidikan atau guru mengaji.
Keluarga, masjid, guru dan lingkungan sosial merupakan ekosistem pendidikan yang saling berkaitan. Apa yang diperoleh anak di lembaga pendidikan akan jauh lebih kuat apabila memperoleh penguatan di rumah dan lingkungan.
“Mendidik anak-anak menjadi generasi Qur’ani bukan hanya tugas guru mengaji. Ini adalah tanggung jawab kita bersama, terutama orang tua, guru, masjid, dan lingkungan masyarakat,” tuturnya.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan berbasis Al-Qur’an pada hakikatnya bukan hanya transfer pengetahuan, melainkan proses pembentukan kebiasaan, keteladanan dan karakter.
Anak dapat diajarkan membaca ayat, tetapi keteladanan orang dewasa di sekitarnya yang akan membantu mereka memahami bagaimana nilai ayat tersebut diterapkan dalam kehidupan.
Ustadz Aswad: Masjid Jangan Hanya Ramai Saat Ada Kegiatan
Pesan senada disampaikan Ustadz Aswad, S.Ag., M.Pd.I., selaku pembawa hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW.
Dalam tausiyahnya, ia mengajak masyarakat menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat, terutama dalam mendidik dan menyiapkan generasi sejak usia dini.
Menurutnya, memakmurkan masjid tidak sebatas menghadirkan jamaah dalam salat berjamaah. Masjid juga harus menjadi ruang pendidikan, pembinaan anak, majelis ilmu, serta berbagai aktivitas positif yang memberikan manfaat sosial.
«“Jangan sampai masjid hanya ramai ketika ada kegiatan besar, tetapi setelah itu kembali sepi.”»
Pernyataan tersebut menjadi kritik reflektif sekaligus ajakan agar fungsi masjid dikembalikan sebagai pusat kehidupan sosial-keagamaan masyarakat.
Masjid yang hidup bukan hanya masjid yang ramai secara fisik, tetapi masjid yang mampu melahirkan aktivitas pendidikan, memperkuat solidaritas sosial, serta menumbuhkan generasi yang memiliki kedekatan dengan agama.
TPQ dan Orang Tua Harus Berjalan Bersama
Ustadz Aswad juga mengingatkan para orang tua mengenai pentingnya pendidikan agama bagi anak.
Menurutnya, anak merupakan amanah sehingga pendidikan mereka harus dipersiapkan secara utuh, baik dalam aspek ilmu pengetahuan maupun agama.
Menitipkan anak kepada TPQ, kata dia, bukan berarti memindahkan seluruh tanggung jawab pendidikan kepada guru.
Sebaliknya, pendidikan anak membutuhkan kolaborasi antara orang tua dan guru.
«“Guru mengajarkan, orang tua menguatkan, dan lingkungan menjaga.”»
Kalimat tersebut menggambarkan sebuah konsep pendidikan yang sederhana namun fundamental. Sekolah, TPQ, keluarga dan masyarakat tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri.
Ketika nilai yang diajarkan di TPQ memperoleh penguatan di rumah dan lingkungan, proses pembentukan karakter anak akan memiliki fondasi yang lebih kokoh.
Ustadz Aswad juga memberikan apresiasi terhadap keberadaan TKA-TPA Qurrota A’yun Dapalak yang selama enam tahun berupaya memberikan pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak.
Ia mengajak masyarakat agar tidak membiarkan guru-guru mengaji bekerja sendirian tanpa dukungan sosial.
Masjid dan TPQ di Tengah Tantangan Era Digital
Jika ditarik dalam perspektif yang lebih luas, keberadaan masjid dan TPQ memiliki posisi strategis dalam menghadapi tantangan generasi di era digital.
Anak-anak saat ini tidak hanya belajar dari guru dan orang tua. Mereka juga memperoleh informasi dari media sosial, video digital, gim, serta berbagai platform internet.
Situasi tersebut membuat pendidikan karakter menjadi semakin kompleks.
Dalam konteks itu, masjid dan TPQ dapat menjadi ruang sosial yang memberikan keseimbangan antara perkembangan teknologi dan pembentukan nilai.
Teknologi tidak harus diposisikan sebagai ancaman. Dengan pendampingan yang tepat, teknologi justru dapat menjadi instrumen pembelajaran, dakwah, kreativitas dan pengembangan pengetahuan.
Namun, kecanggihan teknologi tanpa fondasi etika dapat kehilangan arah. Karena itu, iman, ilmu dan akhlak menjadi tiga unsur yang perlu berjalan beriringan.
Enam Tahun Menanam Al-Qur’an, Menumbuhkan Akhlak
Syukuran Milad ke-6 TKA-TPA Qurrota A’yun Dapalak pada akhirnya bukan hanya menjadi penanda bertambahnya usia lembaga.
Ia menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan sekaligus membaca tantangan masa depan.
Ghufron mengatakan bertambahnya usia justru harus diikuti dengan bertambahnya tanggung jawab.
«“Semakin bertambah usia, semakin besar pula tanggung jawab kita.”»
Ia berharap Qurrota A’yun terus berkembang sebagai tempat pendidikan yang melahirkan generasi Qur’ani, berilmu, berakhlak, mencintai masjid, berdaya dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat serta bangsa.
Dari lingkungan yang sederhana, cita-cita itu sesungguhnya memiliki makna yang besar. Sebab masa depan sebuah bangsa tidak hanya dibangun melalui gedung-gedung megah dan kemajuan teknologi, tetapi juga melalui karakter manusia yang tumbuh di dalamnya.
Karena itu, pendidikan Al-Qur’an sejak usia dini dapat dipandang sebagai investasi sosial jangka panjang.
Bukan sekadar mengajarkan anak membaca kitab suci, tetapi menanamkan nilai agar mereka memiliki kompas moral ketika berhadapan dengan dunia yang semakin terbuka.
Dari masjid mereka belajar.
Dari Al-Qur’an mereka menemukan cahaya.
Dari Rasulullah SAW mereka belajar akhlak.
Dan dari orang tua, guru serta masyarakat, mereka belajar tentang keteladanan.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H dan Milad ke-6 TKA-TPA Qurrota A’yun Dapalak pun menemukan maknanya: bahwa memakmurkan masjid dan menanamkan nilai Al-Qur’an kepada anak-anak bukan pekerjaan sehari, melainkan ikhtiar panjang untuk menyiapkan manusia yang mampu menjawab zaman tanpa kehilangan akar moralnya. (Ghufron)

