TOLITOLI, LenteraWayracana.id — Bela negara tidak selalu bermula dari barisan berseragam atau medan pertahanan. Ia dapat tumbuh dari ruang-ruang pendidikan, tempat generasi muda ditempa untuk mengenali tanggung jawab sosial, memahami bangsanya, serta memiliki kesiapan menghadapi persoalan yang hadir di tengah masyarakat.
Semangat itulah yang hendak dibangun TKA-TPA Qurrota A’yun Dapalak, Kabupaten Tolitoli, melalui Jambore Santri Bela Negara 2026. Kegiatan ini akan digelar selama tiga hari dua malam, Jumat–Minggu, 16–18 Oktober 2026, di halaman TPQ Qurrota A’yun Dapalak, Kompleks BTN Villa Mas Dapalak, Kelurahan Nalu, Kecamatan Baolan.
Jambore tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 22 Oktober, sekaligus menyemarakkan Puncak Milad ke-6 TKA-TPA Qurrota A’yun Dapalak yang jatuh pada 2 September 2026.
Mengusung tema “Santri Tangguh • Berjiwa Kesatria • Siap Berkontribusi untuk Negeri”, kegiatan ini dirancang bukan sekadar sebagai perkemahan, melainkan sebagai ruang pembinaan karakter dan perkaderan generasi muda.
Kepala TKA-TPA Qurrota A’yun Dapalak, Ghufron Arsyah Prawira, mengatakan jambore tersebut diarahkan untuk memperluas cakrawala peserta. Pendidikan keagamaan, menurutnya, perlu berjalan beriringan dengan pembentukan karakter sosial dan kebangsaan.

«“Kami ingin kegiatan ini tidak hanya menjadi kegiatan perkemahan, tetapi menjadi ruang pembinaan bagi generasi muda untuk belajar tentang kedisiplinan, wawasan kebangsaan, kepedulian sosial, serta kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai kondisi, khususnya bencana,” ujar Ghufron.»
Pandangan tersebut menempatkan santri bukan semata sebagai peserta didik dalam ruang keagamaan, tetapi sebagai bagian dari ekosistem sosial yang memiliki potensi untuk mengambil peran di tengah masyarakat.
Dalam konteks itu, bela negara memperoleh makna yang lebih luas: mencintai lingkungan, memiliki kepedulian terhadap sesama, mampu bekerja sama, disiplin dalam bertindak, dan siap memberikan kontribusi ketika masyarakat menghadapi situasi darurat.
Ghufron berharap peserta memperoleh pengalaman yang dapat membentuk ketangguhan mental sekaligus kepekaan sosial.
«“Harapan kami, peserta dapat memperoleh pengalaman yang bermanfaat, membangun mental yang kuat, memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan, serta memiliki semangat untuk berkontribusi secara positif bagi daerah dan negeri,” lanjutnya.»
Jambore ini menyasar santri TKA-TPA Qurrota A’yun Dapalak, Pemuda Remaja Masjid, Pramuka, dan Palang Merah Remaja (PMR).
Komposisi peserta yang beragam tersebut membuka ruang perjumpaan antarkelompok generasi muda. Dari sana, kegiatan diharapkan tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga memperkuat kemampuan berkomunikasi, bekerja dalam tim, serta membangun solidaritas.
Sejumlah materi pembekalan juga telah disiapkan dengan melibatkan berbagai unsur.
Kodim 1305/BT direncanakan memberikan materi mengenai wawasan kebangsaan, kedisiplinan, dan pembinaan karakter. Sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) direncanakan memberikan materi mitigasi dan kesiapsiagaan bencana, termasuk simulasi kebencanaan.
Peserta juga akan mendapatkan pembekalan mengenai bahaya narkoba, bullying, serta dampak sosial penyebaran berita bohong atau hoaks.
Rangkaian materi tersebut menunjukkan bahwa konsep pembinaan yang dibangun dalam jambore berusaha menyentuh persoalan nyata yang dihadapi generasi muda: dari ancaman bencana hingga tantangan sosial di ruang digital.
Tiga Hari Menempa Kemandirian
Ketua Panitia Pelaksana, Frianitia Ayu Lestari, mengatakan panitia telah menyiapkan berbagai kegiatan yang diarahkan untuk melatih kemandirian, kedisiplinan, kerja sama, kepedulian, dan rasa tanggung jawab.
«“Selama tiga hari dua malam, peserta akan digembleng mengikuti berbagai kegiatan yang telah disiapkan untuk melatih kedisiplinan, kemandirian, kerja sama, kepedulian, dan tanggung jawab. Kami berharap seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan serius, tetapi tetap dalam suasana kebersamaan,” kata Frianitia.»
Bagi panitia, keterlibatan Pemuda Remaja Masjid, Pramuka, dan PMR bukan sekadar memperluas peserta. Lebih jauh, keberagaman tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan berbagai komunitas muda dalam satu ruang pembelajaran.
«“Kami ingin kegiatan ini menjadi momentum untuk mempertemukan dan memperkuat kebersamaan generasi muda. Semoga peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga membawa pengalaman dan nilai-nilai positif yang dapat diterapkan di lingkungan masing-masing,” ungkapnya.»
Membentuk Santri yang Tangguh dan Responsif
Di tengah perubahan sosial yang bergerak cepat, pendidikan karakter membutuhkan pendekatan yang tidak berhenti pada teori. Anak-anak muda membutuhkan pengalaman langsung—belajar memimpin, bekerja sama, menghadapi keterbatasan, memahami risiko, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Karena itu, Jambore Santri Bela Negara 2026 dapat dibaca sebagai upaya mempertemukan nilai keagamaan, karakter kebangsaan, kecakapan sosial, dan literasi kebencanaan dalam satu ruang pendidikan yang bersifat praktis.
Harapannya, peserta tidak hanya pulang membawa pengalaman berkemah, tetapi juga membawa perspektif baru tentang arti menjadi generasi muda yang berguna bagi lingkungan sekitarnya.
Pada akhirnya, ketangguhan sebuah bangsa tidak hanya dibangun melalui institusi besar. Ia juga tumbuh dari pembiasaan kecil: disiplin, peduli, mampu bekerja sama, berani membantu sesama, serta memiliki kesadaran bahwa kehidupan bermasyarakat menuntut setiap orang untuk mengambil bagian.
Melalui Jambore Santri Bela Negara 2026, TKA-TPA Qurrota A’yun Dapalak berupaya menanamkan nilai-nilai tersebut sejak dini, agar santri dan generasi muda Tolitoli tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga karakter, daya tanggap, dan keberanian untuk berkontribusi bagi masyarakat dan negeri.
(Ghufron)

