TOLITOLI, LenteraWayracana.id | — Di tengah kemarau yang mulai menekan kebutuhan air masyarakat, halaman SMP Negeri 5 Tolitoli, Jalan Siswa No. 3 Dinopi, Kelurahan Nalu, Jumat (11/9/2026) pagi, berubah menjadi ruang perenungan bersama.

Keluarga besar sekolah—mulai dari kepala sekolah, guru, staf Tata Usaha hingga seluruh siswa—melaksanakan Shalat Istisqa, sebagai ikhtiar spiritual memohon turunnya hujan sekaligus momentum pendidikan karakter bagi generasi muda.

Shalat berlangsung sekitar pukul 07.15 WITA. Ustadz Muhammad Solehan, S.Pd., Penyuluh Agama Islam Kecamatan Baolan sekaligus Pengurus MUI Kabupaten Tolitoli, bertindak sebagai imam. Sementara Ghufron Arsyah Prawira, S.Sos., alumni UIN Datokarama Palu sekaligus Ketua DPK BKPRMI Kecamatan Baolan, menyampaikan khutbah.

Bagi SMP Negeri 5 Tolitoli, kegiatan tersebut tidak ditempatkan semata sebagai ritual keagamaan. Di balik permohonan hujan, terselip pesan pendidikan yang lebih luas: manusia memiliki keterbatasan, alam harus dihormati, dan doa semestinya berjalan beriringan dengan ikhtiar.

Kepala Sekolah: Shalat Istisqa Bukan Sekadar Seremonial

Kepala SMP Negeri 5 Tolitoli, Badrun Latip Hi. Koring, S.Pd., M.Pd., mengatakan pelaksanaan Shalat Istisqa dilatarbelakangi kondisi kemarau yang dirasakan masyarakat dan berdampak terhadap kebutuhan air.

Menurut Badrun, sekolah memiliki tanggung jawab yang tidak berhenti pada pencapaian akademik. Pendidikan juga harus membentuk manusia yang memiliki fondasi moral, spiritual, kepedulian sosial, serta kesadaran ekologis.
“Sebagai umat Islam kita melakukan ikhtiar dengan berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar diturunkan hujan yang membawa manfaat, keberkahan dan kebaikan bagi kita semua,” ujar Badrun.
Ia menilai pengalaman keagamaan secara langsung penting bagi siswa. Nilai agama, kata dia, tidak cukup hanya dipahami melalui buku pelajaran, tetapi perlu diterjemahkan dalam tindakan dan pengalaman kehidupan nyata.
Dalam konteks tersebut, Shalat Istisqa menjadi semacam laboratorium spiritual bagi peserta didik. Para siswa diajak memahami bahwa terdapat persoalan kehidupan yang tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan kemampuan manusia, sehingga diperlukan kerendahan hati, doa, introspeksi dan ikhtiar.
“Dalam kondisi seperti ini, kita diajarkan untuk berikhtiar, berdoa, memperbanyak istighfar dan memohon pertolongan kepada Allah SWT,” katanya.
Badrun menyebut sejumlah karakter yang hendak ditanamkan melalui kegiatan tersebut, antara lain ketakwaan, kesabaran, kerendahan hati, kebersamaan, rasa syukur, kepedulian dan tanggung jawab.
Memohon Hujan, Sekaligus Mengajarkan Merawat Alam
Ada pesan lain yang dianggap tidak kalah penting: manusia tidak cukup hanya meminta hujan, tetapi juga harus menjaga sumber kehidupan yang telah tersedia.
Badrun mengajak para siswa menggunakan air secara bijaksana, menjaga kebersihan dan lingkungan, serta menghindari perilaku yang berpotensi merusak alam.
“Kita jangan hanya meminta hujan, tetapi setelah hujan turun kita tidak peduli lagi dengan lingkungan. Doa harus disertai dengan ikhtiar,” tegasnya.
Pesan tersebut mempertemukan dimensi spiritual dengan kesadaran ekologis. Kemarau bukan hanya persoalan kurangnya air, tetapi juga kesempatan untuk mengajarkan generasi muda mengenai hubungan manusia dengan lingkungan.
Bagi dunia pendidikan, pendekatan semacam ini menjadi penting karena karakter kepedulian terhadap lingkungan tidak lahir secara instan. Ia tumbuh melalui kebiasaan, keteladanan dan pengalaman yang terus-menerus.
Badrun berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial.
Ia ingin nilai-nilai yang diperoleh siswa dari Shalat Istisqa dibawa ke ruang kehidupan sehari-hari: menghormati guru dan orang tua, menjaga akhlak, bersyukur, menghemat air, merawat lingkungan serta memiliki kepedulian terhadap sesama.
Khatib Ajak Jamaah Bermuhasabah di Tengah Kemarau
Sementara itu, Ghufron Arsyah Prawira dalam khutbahnya mengajak jamaah membaca kemarau bukan sekadar melalui perspektif fenomena alam, tetapi juga sebagai momentum untuk melakukan muhasabah.
Menurut Ghufron, berbagai dinamika alam merupakan bagian dari keteraturan ciptaan Allah SWT. Karena itu, manusia memiliki amanah untuk menjaga keseimbangan kehidupan dan tidak memperlakukan alam secara eksploitatif.
“Kemarau dan kekeringan bukanlah sekadar fenomena alam biasa, melainkan pengingat agar kita mau berhenti sejenak, mengoreksi diri atau bermuhasabah,” ujarnya.
Ia mengajak jamaah memperbanyak istighfar, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, sesama manusia dan lingkungan.
Pesan itu kemudian dipertegas dengan ajakan agar doa tidak berhenti di langit, tetapi memperoleh bentuk konkret di bumi.
“Setelah itu, mari kita buktikan dengan perbuatan. Mari menjaga lingkungan, tidak menyia-nyiakan air, memperbanyak istighfar, memperbaiki diri dan terus berbuat kebaikan,” pesannya.
Doa Dipanjatkan, Harapan Hujan Mengiringi
Usai pelaksanaan shalat dan khutbah, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama. Khatib menghadap kiblat dan memimpin doa memohon kepada Allah SWT agar hujan segera diturunkan.
Suasana berlangsung khidmat. Para siswa, guru dan seluruh jamaah mengaminkan doa yang dipanjatkan, berharap hujan turun membawa rahmat, menyuburkan tanah, mengisi kembali sumber-sumber air dan memberikan kehidupan bagi tanaman serta makhluk hidup.
Di balik doa tersebut terdapat harapan sederhana yang sangat manusiawi: air kembali tersedia, aktivitas masyarakat berjalan normal, dan kemarau tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih berat.
Ulasan: Ketika Sekolah Menjadi Ruang Pendidikan Ekologis
Shalat Istisqa di SMP Negeri 5 Tolitoli memperlihatkan bagaimana institusi pendidikan dapat merespons persoalan lingkungan melalui pendekatan spiritual dan pendidikan karakter.
Kemarau dalam perspektif kehidupan masyarakat bukan hanya persoalan meteorologis. Ia menyentuh kebutuhan paling mendasar manusia—air. Karena itu, respons terhadap kekeringan idealnya tidak hanya berupa permohonan, tetapi juga perubahan perilaku.
Di sinilah kegiatan tersebut memiliki relevansi pendidikan. Siswa diperkenalkan pada tiga mata rantai yang saling berkaitan: doa, ikhtiar dan tanggung jawab ekologis.
Doa memberikan dimensi spiritual; ikhtiar menghadirkan tindakan; sedangkan kepedulian lingkungan memastikan bahwa manusia tidak hanya menunggu alam memberikan kehidupan, tetapi turut menjaga keberlangsungannya.
Dengan demikian, Shalat Istisqa di SMP Negeri 5 Tolitoli dapat dibaca sebagai lebih dari sekadar kegiatan keagamaan. Ia menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan iman, karakter, solidaritas dan kesadaran lingkungan.
Kepala SMP Negeri 5 Tolitoli berharap Allah SWT segera menurunkan hujan yang bermanfaat dan penuh keberkahan bagi masyarakat.
“Semoga Allah SWT mengabulkan doa kita, menurunkan hujan yang cukup, bermanfaat dan penuh keberkahan,” pungkas Badrun. (LW.id)

