BANJARBARU — Langkah cepat pemerintah memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan kembali ditunjukkan melalui dukungan logistik dan peralatan pemadaman dari udara.

Atas arahan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, TNI Angkatan Udara mengerahkan pesawat angkut berat Airbus A-400M dari Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Pesawat tersebut tiba di Lanud Sjamsudin Noor, Banjarbaru, pada Minggu (23/8/2026), membawa sejumlah peralatan penanganan karhutla yang dikirim Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan Kementerian Pertanian (Kementan).

Bantuan yang diangkut meliputi 50 unit mesin pompa air, 30 set pompa air, 19 koli masker, serta 2 koli bucket pump (3 assy). Peralatan tersebut menjadi bagian penting dari penguatan kapasitas operasional personel yang berada di garis depan penanganan kebakaran.

Secara strategis, pengiriman menggunakan pesawat angkut berat TNI AU menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak semata-mata bertumpu pada kekuatan personel, tetapi juga membutuhkan mobilisasi logistik yang cepat, terukur, dan adaptif terhadap karakter wilayah terdampak.
Dalam perspektif penanggulangan bencana, kecepatan distribusi peralatan merupakan salah satu mata rantai krusial. Ketika api bergerak mengikuti kondisi vegetasi, cuaca, angin, dan tingkat kekeringan, keterlambatan beberapa jam dapat memperbesar luas area terdampak. Karena itu, dukungan dari udara menjadi instrumen penting untuk memangkas hambatan geografis dan mempercepat respons di lapangan.

Komandan Lanud Sjamsudin Noor, Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita, M.M.S., menegaskan kesiapan TNI AU dalam mendukung kebijakan dan arahan pemerintah terkait penanganan karhutla.
Menurutnya, seluruh dukungan yang telah tiba akan dioptimalkan agar dapat segera dimanfaatkan untuk memperkuat operasi penanganan kebakaran di Kalimantan Selatan.
Kehadiran bantuan tersebut sekaligus menggambarkan bagaimana penanganan karhutla membutuhkan orkestrasi lintas sektor. TNI AU berperan dalam mobilisasi melalui udara, sementara Kemhan dan Kementan mendukung dari sisi penyediaan peralatan. Di darat, personel gabungan dan berbagai pemangku kepentingan bekerja menghadapi ancaman api yang secara ekologis tidak mengenal batas administratif.
Di balik deru mesin pesawat yang membawa bantuan, terdapat kerja kemanusiaan yang jauh lebih sunyi: upaya menjaga rumah warga, lahan produktif, kualitas udara, serta ekosistem yang rentan terhadap kerusakan akibat kebakaran.
Karhutla bukan hanya persoalan api yang harus dipadamkan. Ia merupakan persoalan ekologis, sosial, ekonomi, bahkan kesehatan masyarakat. Karena itu, setiap pompa, masker, dan perangkat pemadaman yang tiba di medan operasi memiliki arti lebih besar daripada sekadar inventaris peralatan—ia adalah bagian dari ikhtiar memperkecil risiko dan melindungi kehidupan.
Sinergi antara pemerintah, TNI AU, Kemhan, Kementan, pemerintah daerah, serta seluruh unsur terkait menjadi fondasi penting dalam menghadapi ancaman karhutla. Dukungan dari udara memperkuat perjuangan di darat, sementara koordinasi menjadi jembatan yang menghubungkan kebijakan dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Dengan mobilisasi cepat tersebut, pemerintah menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan respons yang bukan hanya reaktif, tetapi juga terintegrasi dan berbasis kesiapsiagaan.
Dari udara, bantuan didatangkan. Di darat, perjuangan dilanjutkan. Tujuannya sama: memadamkan api, melindungi masyarakat, dan menjaga bentang alam Kalimantan Selatan dari ancaman kerusakan yang lebih luas. (LW.ID)

