LenteraWayracana.id | Puncak Jaya — Kepedulian terhadap masyarakat tidak selalu diwujudkan melalui program berskala besar. Terkadang, kehadiran sederhana di tengah momentum penting kehidupan warga justru menjadi jembatan yang mempererat hubungan emosional antara aparat dan masyarakat.

Semangat itulah yang tercermin dalam kegiatan anjangsana dan penyaluran bantuan sembako oleh Babinsa Koramil 1714-01/Mulia kepada warga yang melangsungkan pernikahan di Kampung Kulok Enggame, Distrik Pagaleme, Kabupaten Puncak Jaya, Kamis (17/9/2026)

Kehadiran personel TNI tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari silaturahmi, tetapi juga menghadirkan perhatian sosial bagi keluarga yang tengah menyelenggarakan salah satu peristiwa penting dalam kehidupan mereka.

Babinsa Salurkan Sembako, Wujud Kepedulian kepada Warga
Dalam kegiatan tersebut, Sertu Ditus bersama Praka Albert, selaku Babinsa wilayah setempat, menyambangi keluarga yang sedang melangsungkan pernikahan sekaligus menyerahkan bantuan berupa kebutuhan pokok.
Sertu Ditus menjelaskan, kehadiran mereka berawal dari informasi mengenai warga yang sedang menggelar pernikahan. Berangkat dari informasi tersebut, Babinsa berinisiatif datang untuk bersilaturahmi sekaligus memberikan bantuan sederhana.

“Kami mendengar ada warga melangsungkan pernikahan, maka kami hadir membawa sedikit bantuan berupa sembako. Semoga bermanfaat dan dapat meringankan kebutuhan keluarga dalam acara ini,” ujar Sertu Ditus.
Bantuan tersebut menjadi simbol kepedulian sekaligus bentuk dukungan moral kepada keluarga yang sedang merayakan momen kebahagiaan.
Tradisi Bakar Batu, Ruang Kebersamaan TNI dan Masyarakat
Suasana keakraban semakin terasa ketika warga menjalankan tradisi bakar batu, sebuah kegiatan komunal yang menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat setempat.
Di tengah suasana kebersamaan tersebut, kehadiran Babinsa disambut hangat oleh warga. Keluarga dan masyarakat yang hadir turut menyampaikan apresiasi serta ucapan terima kasih atas perhatian yang diberikan.
Tradisi bakar batu bukan semata-mata aktivitas memasak secara bersama-sama. Dalam konteks sosial masyarakat Papua, tradisi ini juga menjadi ruang interaksi, solidaritas, dan penguatan hubungan antarkeluarga maupun komunitas.
Pertemuan dalam suasana pernikahan dan tradisi tersebut menghadirkan kesempatan bagi Babinsa untuk membangun komunikasi secara langsung, dalam lingkungan sosial yang akrab dan penuh kekeluargaan.
Kemanunggalan TNI–Rakyat Dibangun Melalui Kedekatan Sosial
Kegiatan anjangsana ini mencerminkan pelaksanaan peran pembinaan teritorial Babinsa yang tidak hanya berkaitan dengan aspek keamanan, tetapi juga menyentuh dimensi sosial kemasyarakatan.
Kedekatan dengan warga menjadi salah satu unsur penting dalam membangun komunikasi, memahami kondisi masyarakat, serta memelihara hubungan yang harmonis di wilayah binaan.
Melalui interaksi langsung, Babinsa memiliki ruang untuk mengenali dinamika kehidupan masyarakat, sementara warga memperoleh kesempatan untuk berkomunikasi dengan aparat kewilayahan dalam suasana yang lebih terbuka.
Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kemanunggalan TNI–rakyat dapat dibangun melalui tindakan sederhana yang dilandasi kepedulian, konsistensi, dan penghormatan terhadap kehidupan sosial masyarakat.
Ulasan Singkat: Kepedulian Sederhana, Makna Sosial yang Lebih Luas
Secara sosial, kegiatan Babinsa Koramil 1714-01/Mulia di Kampung Kulok Enggame memperlihatkan pentingnya pendekatan humanis dalam pembinaan wilayah.
Bantuan sembako yang diberikan mungkin sederhana dari sisi material. Namun, kehadiran langsung di tengah peristiwa penting keluarga menunjukkan bentuk perhatian yang memiliki makna emosional bagi penerimanya.
Dalam perspektif kemasyarakatan, hubungan yang kuat antara aparat dan warga tidak hanya bertumpu pada pelaksanaan tugas formal, tetapi juga tumbuh melalui interaksi sehari-hari, kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat, dan penghargaan terhadap tradisi lokal.
Meski demikian, keberlanjutan hubungan tersebut tetap memerlukan komunikasi yang konsisten dan keterlibatan yang sesuai dengan kebutuhan warga.
Pada akhirnya, kemanunggalan TNI–rakyat bukan hanya tentang kehadiran dalam sebuah kegiatan, melainkan tentang bagaimana kehadiran itu dirasakan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.(Lw.id)

