BANJARBARU, LenteraWayracana.id | – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan memasuki fase yang tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman dari permukaan. Di kawasan Guntung Damar, Banjarbaru, bara api justru masih berpotensi bertahan di bawah permukaan tanah gambut, sebuah ancaman laten yang dapat kembali menyala ketika kondisi mendukung.

Situasi tersebut menjadi perhatian serius Komandan Lanud Sjamsudin Noor, Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita, M.M.S., bersama Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kalsel saat meninjau langsung perkembangan penanganan karhutla, Senin (31/8/2026).

Peninjauan lapangan itu bukan sekadar agenda monitoring. Di tengah hamparan lahan yang terdampak, tim melihat persoalan yang kerap luput dari pandangan: api di lahan gambut dapat menjalar dan bertahan di bawah tanah, sementara permukaan terlihat seolah telah aman.

Ring 1 Bandara Syamsudin Noor Jadi Titik Strategis
Guntung Damar memiliki posisi strategis karena berada di ring 1 Bandara Syamsudin Noor. Karena itu, karhutla di kawasan tersebut memiliki dimensi penanganan yang lebih luas.

Ancaman api tidak hanya menyangkut kerusakan ekosistem dan kualitas lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan apabila asap maupun titik api berkembang dan mengganggu kawasan sekitar bandara.
Dalam konteks inilah, penanganan karhutla membutuhkan respons yang presisi. Pemadaman tidak boleh berhenti ketika kobaran api di permukaan telah menghilang. Bara yang tersimpan di lapisan gambut harus dipastikan benar-benar kehilangan sumber panasnya.
Injeksi Air, Menjangkau Bara yang Tersembunyi
Salah satu pendekatan yang diuji di lapangan adalah inovasi injeksi air menggunakan pipa dengan panjang sekitar dua meter.
Metode tersebut dilakukan dengan menancapkan pipa ke lapisan tanah gambut, kemudian mengalirkan air hingga mencapai bagian bawah permukaan. Tujuannya sederhana namun strategis: membawa efek pendinginan langsung ke sumber bara yang sulit dijangkau melalui penyemprotan konvensional dari permukaan.
Secara ilmiah, karakteristik gambut membuat api dapat bertahan dalam kondisi minim oksigen dan bergerak secara perlahan di bawah permukaan. Karena itu, pendinginan lapisan bawah menjadi bagian penting dalam memutus keberlanjutan sumber panas.
Pendekatan ini memperlihatkan pergeseran cara pandang dalam penanganan karhutla: dari sekadar memadamkan api yang terlihat menuju upaya mengendalikan sumber panas yang tersembunyi.
Danlanud Turun Langsung Uji Peralatan
Komandan Lanud Sjamsudin Noor tidak hanya mengamati proses tersebut dari sisi lapangan. Ia turut mencoba langsung alat injeksi air yang digunakan personel.
Didampingi petugas di lokasi, Danlanud Sjamsudin Noor melakukan penyemprotan air melalui pipa yang telah ditancapkan ke lapisan gambut.
Aksi tersebut memberikan pesan penting bahwa efektivitas penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan langsung, evaluasi lapangan, serta keberanian menguji pendekatan baru ketika metode konvensional menghadapi keterbatasan.
Bagi lahan gambut, keberhasilan pemadaman bukan semata ketika asap menghilang atau api tidak lagi terlihat. Ukuran keberhasilan yang lebih substantif adalah ketika sumber panas di bawah permukaan benar-benar terkendali sehingga peluang munculnya kembali titik api dapat ditekan.
Sinergi Lintas Instansi Jadi Kunci
Penanganan karhutla di Kalsel juga memperlihatkan bahwa persoalan ekologis tersebut tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja.
TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD dan berbagai unsur terkait terus membangun koordinasi dalam menghadapi ancaman karhutla. Sinergi tersebut menjadi penting karena karakter kebakaran lahan gambut membutuhkan kombinasi antara kemampuan personel, dukungan peralatan, ketersediaan sumber air, pemantauan titik api, serta strategi pemadaman yang adaptif.
Di tengah ancaman perubahan kondisi lahan dan cuaca, inovasi seperti injeksi air menjadi bagian dari ikhtiar untuk memperkuat efektivitas operasi di lapangan.
Lebih jauh, langkah tersebut menunjukkan bahwa perang terhadap karhutla bukan hanya pertarungan menghadapi kobaran api yang kasatmata. Ia juga merupakan perjuangan menghadapi bara yang bersembunyi di bawah tanah, diam, tetapi sewaktu-waktu dapat kembali mengancam.
Karena itu, setiap inovasi yang mampu menjangkau sumber masalah hingga ke lapisan terdalam menjadi bagian penting dari strategi pencegahan kebakaran berulang. (LW.ID)

