LenteraWayracana.id | Dialog interaktif yang berlangsung di Studio Pro 1 RRI Tolitoli pada Senin, 11 Mei 2026, pukul 09.00–10.00 Wita, menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan untuk membahas solusi penataan pedagang ikan di Jalan Baru, Kelurahan Sidoarjo, Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli. Dipandu oleh host Ruth, dialog ini menjadi ruang artikulasi kepentingan publik yang mempertemukan aspek ekonomi rakyat dengan keselamatan berlalu lintas.

Hadir sebagai narasumber, Jemmy Yusuf, Munafri, Efri Y Pattajani, serta Chairuddin. Keempatnya memaparkan perspektif yang saling melengkapi terkait penataan kawasan Jalan Baru yang selama ini menjadi pusat aktivitas perdagangan ikan.
Secara faktual, sekitar 35 pedagang ikan masih memanfaatkan bahu jalan untuk berjualan. Aktivitas ini menimbulkan kepadatan lalu lintas, terutama saat terjadi bongkar muat dan antrean kendaraan distribusi. Dalam pendekatan ilmiah populer, kondisi ini dapat dikategorikan sebagai gangguan traffic flow yang berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan akibat berkurangnya kapasitas efektif jalan.
Dalam dialog tersebut, Kepala Dinas Perdagangan, Chairuddin, SE, menegaskan bahwa pemerintah daerah telah menyiapkan solusi relokasi ke Pasar Bumi Harapan di Kelurahan Baru.
“Saat ini tersedia sekitar 50 lapak yang siap digunakan pedagang, sehingga secara kapasitas sangat mencukupi,” ujarnya.
Sementara itu, Jemmy Yusuf menekankan pentingnya kebijakan yang berkeadilan sosial. Ia menilai relokasi harus dilakukan secara bertahap dan persuasif, dengan mempertimbangkan aspek ekonomi para pedagang.

“Penataan harus hadir sebagai solusi, bukan sekadar penertiban,” tegasnya.
Dari sisi kewilayahan, Munafri, A.Md selaku Lurah Sidoarjo mengungkapkan bahwa kondisi di lapangan memang membutuhkan penanganan serius. Selain mengganggu arus lalu lintas, keberadaan lapak di bahu jalan juga berisiko bagi keselamatan pedagang dan masyarakat sekitar.
Pandangan senada disampaikan Efri Y. Pattajani, SH, MH yang menyoroti pentingnya sinergi lintas sektor dalam menyelesaikan persoalan ini. Ia menilai pendekatan humanis dan komunikasi publik yang intensif menjadi kunci keberhasilan relokasi.
Selain isu relokasi, dialog juga membahas rekayasa lalu lintas di kawasan SPBU Jalan Baru. Usulan pemisahan jalur masuk dan keluar kendaraan serta pengalihan antrean ke jalan penghubung di kilometer satu dinilai sebagai solusi teknis yang efektif untuk mengurangi kemacetan.
Dari sisi human interest, para pedagang ikan di Jalan Baru bukan sekadar pelaku ekonomi, tetapi bagian dari denyut kehidupan pesisir Tolitoli. Relokasi tentu bukan hal mudah, karena menyangkut kebiasaan, jaringan pelanggan, dan keberlangsungan pendapatan. Namun, keselamatan menjadi variabel yang tidak dapat ditawar.
Menariknya, penataan kawasan ini juga membuka peluang pengembangan estetika kota. Dengan tertibnya kawasan Jalan Baru, masyarakat dapat menikmati panorama laut dengan latar Pulau Lutungan dan perahu bagang yang menjadi ikon visual pesisir Tolitoli.
Dialog ini menjadi bukti bahwa ruang komunikasi publik seperti yang difasilitasi RRI mampu menghadirkan solusi berbasis kolaborasi. Pendekatan deskriptif-analitis yang berpijak pada data lapangan, dipadukan dengan narasi humanis, menjadi fondasi dalam merumuskan kebijakan yang tidak hanya efektif, tetapi juga berkeadilan.
(LW.id)

