Yahukimo, LenteraWayracana.id — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, tidak sekadar menjadi seremoni tahunan. Pemilihan Lapangan Abyu GOR Yahukimo sebagai lokasi upacara menghadirkan dimensi simbolik: ruang yang sebelumnya menjadi lokasi pembakaran excavator kini digunakan sebagai panggung untuk menegaskan kembali kehadiran, kewibawaan, dan sinergi institusi negara.

Upacara yang berlangsung Senin (5/10/2026) mulai pukul 09.00 hingga 10.15 WIT itu berjalan khidmat, tertib, dan lancar. Lapangan Abyu di Distrik Dekai menjadi titik temu unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen sosial di Yahukimo.

Dandim 1715/Yahukimo, Letkol Inf Rifqi Khanief G., bertindak sebagai Inspektur Upacara. Kehadiran unsur lintas institusi memperlihatkan bahwa peringatan HUT TNI tidak hanya berorientasi pada aspek militer, tetapi juga menjadi ruang konsolidasi sosial dan kelembagaan.

Upacara HUT TNI di Yahukimo Libatkan Unsur TNI-Polri
Rangkaian kegiatan diawali pada pukul 08.45 WIT dengan masuknya pasukan upacara ke lapangan. Lima belas menit kemudian, upacara resmi dimulai.

Komposisi pasukan mencerminkan keterlibatan berbagai unsur keamanan. Pasukan terdiri atas 2 SSK Yonif TP 816/Doruka, 1 SST Kodim 1715/Yahukimo, 1 SST Polres Yahukimo, dan 1 SST Brimob.
Dari perspektif keamanan, pengamanan kegiatan juga melibatkan sejumlah satuan, yakni Satgas Rajawali, Satgas Marinir, Yonif TP 816/Doruka, Kodim 1715/Yahukimo, dan Polres Yahukimo.
Kehadiran unsur tersebut menunjukkan bahwa stabilitas keamanan di wilayah Yahukimo merupakan kerja kolektif yang membutuhkan koordinasi lintas satuan.
Lapangan Abyu dan Pesan Simbolik Kehadiran Negara
Ada lapisan makna yang membuat peringatan HUT TNI kali ini berbeda.
Lapangan Abyu GOR Yahukimo sebelumnya dikenal sebagai lokasi terjadinya pembakaran excavator. Kini, tempat yang sama digunakan untuk menggelar upacara kenegaraan dengan melibatkan TNI, Polri, pemerintah daerah dan masyarakat.
Dalam perspektif sosial-politik, penggunaan ruang yang pernah dikaitkan dengan gangguan keamanan untuk kegiatan resmi kenegaraan dapat dibaca sebagai simbol pemulihan ruang publik. Negara tidak hanya hadir melalui kekuatan keamanan, tetapi juga melalui keteraturan, pelayanan, komunikasi dan kebersamaan antarlembaga.
Di titik inilah sebuah upacara militer memperoleh dimensi yang lebih luas: ruang yang pernah menjadi simbol keresahan dihadirkan kembali sebagai ruang persatuan dan konsolidasi.
Forkopimda hingga Tokoh Masyarakat Hadir
Sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat turut menghadiri kegiatan tersebut.
Di antaranya Sekda Kabupaten Yahukimo Redison Manurung, Danyonif TP 816/Doruka Letkol Inf Noer Hidayat, Kapolres Yahukimo Kompol Rosman Mansur, para Asisten dan Kepala Dinas Pemerintah Kabupaten Yahukimo.
Hadir pula Kepala Suku Yali-Hubla, serta Ketua Perkumpulan Jawa, Ambon dan NTT.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa peringatan HUT TNI telah menjadi ruang perjumpaan sosial yang melampaui sekat institusi. Seragam dan jabatan memang berbeda, tetapi kepentingannya bertemu pada satu titik: menjaga keamanan, ketertiban dan keberlangsungan kehidupan masyarakat Yahukimo.
Dari Seremoni Menuju Penguatan Sinergi
Setelah rangkaian upacara selesai sekitar pukul 09.15 WIT, kegiatan tidak langsung berakhir. Personel Polri dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) memberikan ucapan selamat HUT TNI, dilanjutkan dengan foto bersama dan hiburan hingga sekitar pukul 10.15 WIT.
Momen sederhana tersebut memiliki arti penting dalam membangun hubungan antarpersonel dan antarinstansi. Dalam konteks daerah yang memiliki tantangan keamanan tersendiri, komunikasi informal sering kali menjadi fondasi bagi koordinasi formal.
Sinergi tidak selalu lahir dari rapat-rapat resmi. Ia juga tumbuh dari ruang perjumpaan, saling menghormati, dan kesediaan untuk berdiri bersama dalam satu momentum kebangsaan.
Karena itu, HUT ke-81 TNI di Yahukimo dapat dibaca bukan semata sebagai perayaan institusional, melainkan sebagai momentum memperkuat kohesi sosial dan komunikasi lintas lembaga.
Pada akhirnya, upacara di Lapangan Abyu menjadi gambaran bahwa kewibawaan negara tidak hanya ditunjukkan melalui kekuatan, tetapi juga melalui ketertiban, persatuan dan kemampuan berbagai unsur untuk hadir bersama di tengah masyarakat.(Lw.id)

