PUNCAK JAYA, LenteraWayracana.id — Di tengah lanskap Papua Tengah yang memiliki kompleksitas sosial dan geografis tersendiri, peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Kabupaten Puncak Jaya tidak sekadar menjadi seremoni militer. Upacara tersebut menjadi ruang simbolik untuk menegaskan kembali arti kebersamaan, soliditas, dan sinergi antaraparat dalam menjaga persatuan.

Kodim 1714/Puncak Jaya menggelar upacara HUT ke-81 TNI di Makodim 1714/PJ, Jalan Trans Papua, Distrik Pagaleme, Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua Tengah, Senin (5/10/2026).

Peringatan tahun ini mengusung tema “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Tema tersebut menemukan relevansinya bukan hanya dalam konteks pertahanan negara, tetapi juga dalam relasi sosial antara institusi pertahanan, kepolisian, dan masyarakat.

Upacara dipimpin Dandim 1714/PJ Letkol Inf Bagus Kurniawan, M.Han. selaku Inspektur Upacara. Komandan Upacara dipercayakan kepada Letda CZI Toding Gayang, yang menjabat Pasi Ter Kodim 1714/PJ, sementara Serka Rano bertugas sebagai pembantu upacara.
Sekitar 150 personel Kodim 1714/PJ bersama unsur satuan lainnya mengikuti prosesi tersebut. Barisan prajurit yang berdiri dalam satu formasi menjadi gambaran sederhana tentang disiplin organisasi sekaligus representasi tanggung jawab institusional TNI di wilayah penugasan.

Amanat Panglima TNI: PRIMA sebagai Etos Pengabdian
Rangkaian upacara berlangsung khidmat dan tertib. Prosesi dimulai dari persiapan pasukan, laporan, pemeriksaan pasukan, penghormatan terhadap lambang satuan, mengheningkan cipta, pengucapan Sapta Marga, hingga pembacaan amanat Panglima TNI.
Dalam amanat tersebut, Panglima TNI menekankan pentingnya budaya PRIMA, yakni Profesional, Responsif, Integratif, Modern, dan Adaptif.
PRIMA tidak semata-mata diposisikan sebagai akronim kelembagaan. Ia merupakan kerangka etik dan profesionalisme yang menuntut prajurit serta ASN TNI mampu membaca perubahan zaman, merespons dinamika masyarakat, membangun integrasi, sekaligus mempertahankan kapasitas pertahanan negara.
Dalam perspektif yang lebih luas, profesionalisme militer pada akhirnya tidak hanya diukur dari kemampuan menjalankan tugas pertahanan, tetapi juga dari kemampuan institusi menjaga kepercayaan publik.
Di titik inilah tema “bersama rakyat” memperoleh makna substantif. Hubungan TNI dan masyarakat bukan sekadar relasi formal, melainkan bagian dari modal sosial yang menopang ketahanan nasional.
TNI dan Polri: Solidaritas yang Diperlihatkan Secara Nyata
Salah satu momen yang memberi warna kuat dalam peringatan HUT ke-81 TNI di Puncak Jaya adalah kehadiran Kapolres Puncak Jaya beserta personel Polres Puncak Jaya.
Kehadiran jajaran kepolisian tersebut bukan hanya sebagai bagian dari undangan resmi. Mereka secara langsung menyampaikan ucapan selamat HUT TNI kepada jajaran Kodim 1714/PJ.
Ucapan tersebut disambut hangat oleh Dandim beserta seluruh jajaran.
Secara sosial, gestur sederhana itu memiliki arti yang lebih besar daripada seremoni. Di wilayah dengan tantangan keamanan dan kondisi geografis yang tidak sederhana, komunikasi serta koordinasi antara TNI dan Polri menjadi elemen penting dalam membangun stabilitas.
Jika institusi negara bekerja dalam ruang yang terpisah, efektivitas pengabdian akan mudah terfragmentasi. Sebaliknya, ketika koordinasi dibangun dalam semangat kebersamaan, negara hadir dengan wajah yang lebih solid di tengah masyarakat.
Satgas TNI Hadir, Kebersamaan Menjadi Kekuatan
Sejumlah pejabat satuan tugas turut hadir dalam upacara tersebut. Di antaranya Dansatgas Yonif 721/MKS Letkol Inf Saud Pardamaian Nainggolan, Dansatgas Yonif 136/Tuah Sakti Letkol Inf Yudi Satria Prabowo, dan Dansatgas Yonif 527/BY Letkol Inf Heri Suseno.
Hadir pula para perwira dari jajaran Kodim, Satgas, dan Posgat Mulia.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa peringatan HUT TNI di Puncak Jaya menjadi titik temu berbagai elemen yang menjalankan tugas negara di wilayah tersebut.
Dalam konteks human interest, peristiwa itu menunjukkan sisi lain kehidupan prajurit. Di balik seragam, struktur komando, dan tugas pengamanan, terdapat kebutuhan yang sama untuk membangun rasa persaudaraan dan kebersamaan.
Dari Lapangan Upacara ke Ruang Kekeluargaan
Setelah prosesi utama selesai, suasana bergeser dari formalitas upacara menuju nuansa kekeluargaan.
Kegiatan dilanjutkan dengan pemberian hadiah bagi pemenang pertandingan bola voli dan futsal, kemudian ramah-tamah serta pemotongan tumpeng.
Momentum tersebut ditutup dengan makan bersama seluruh peserta kegiatan.
Tradisi makan bersama memiliki dimensi sosial yang sederhana, tetapi kuat. Ia mencairkan batas-batas formal antara struktur komando, satuan tugas, kepolisian, dan personel lainnya. Dalam suasana seperti itu, kebersamaan tidak lagi sekadar slogan, tetapi hadir sebagai pengalaman sosial yang dirasakan bersama.
Pemotongan tumpeng pun menjadi simbol rasa syukur atas perjalanan panjang TNI sekaligus harapan agar pengabdian institusi pertahanan terus memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara.
Pada akhirnya, HUT ke-81 TNI di Puncak Jaya bukan hanya tentang bertambahnya usia sebuah institusi. Ia menjadi refleksi tentang bagaimana kekuatan pertahanan negara dibangun melalui profesionalisme, persatuan, komunikasi, dan kepercayaan.
Di tengah dinamika Papua Tengah, pesan tersebut memperoleh bobot tersendiri: kekuatan negara tidak hanya bertumpu pada instrumen pertahanan, tetapi juga pada kemampuan seluruh unsur untuk berjalan dalam satu irama pengabdian.(LW.id)

