TOLITOLI, LenteraWayracana.id — Lapangan Taman Kota Gaukan Moh Bantilan, Tolitoli, Senin pagi (5/10/2026), menjadi ruang refleksi sekaligus peneguhan komitmen Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam menjalankan amanah pertahanan negara.
Di bawah tema “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”, upacara peringatan HUT ke-81 TNI tidak sekadar menjadi seremoni tahunan. Pesan yang mengemuka justru menyentuh dimensi yang lebih substantif: profesionalisme prajurit, modernisasi pertahanan, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman, serta pentingnya menjaga kepercayaan publik.
Upacara berlangsung mulai pukul 08.00 WITA di Lapangan Taman Kota Gaukan Moh Bantilan, Jalan Letjen MT Haryono, Kelurahan Panasakan, Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli. Sekitar 400 peserta dan undangan hadir dalam kegiatan tersebut.
Dandim 1305/BT Bertindak sebagai Inspektur Upacara
Dandim 1305/BT Letkol Inf Aryanto Rolando, S.I.P., bertindak sebagai inspektur upacara. Sementara Komandan Upacara dipercayakan kepada Kapten Inf Eko Wahyudi, Pasi Intel Kodim 1305/BT.

Adapun Perwira Upacara adalah Lettu Laut (K) dr. Yosua Setiawan Dwi N, Pa Lanal Tolitoli.
Unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, pelajar, mahasiswa, hingga instansi pelayanan publik turut membentuk barisan peserta upacara. Kodim 1305/BT menurunkan dua SST, Kipan C Yonif 711/RKS satu SST, Lanal Tolitoli tiga SST, Kompi Brimob Tolitoli dua SST, serta Polres Tolitoli tiga SST.
Barisan juga diikuti unsur Dishub, Damkar, Satpol PP, mahasiswa STIE Mujahidin, Universitas Madako, siswa SMA Negeri 1 Tolitoli, dan Madrasah Al-Khairat Tolitoli.
Komposisi tersebut memperlihatkan satu pesan sosial yang kuat: pertahanan negara bukanlah ruang eksklusif militer, melainkan kerja kolektif yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Pesan HUT TNI: Kekuatan Harus Berjalan Bersama Kepercayaan Rakyat
Dalam amanatnya, Dandim 1305/BT menyampaikan penghargaan kepada seluruh prajurit dan ASN TNI atas dedikasi, loyalitas, kerja keras, serta pengabdian kepada bangsa dan negara.
Salah satu pesan sentral yang disampaikan adalah mengenai kepercayaan masyarakat terhadap TNI.
Kepercayaan tersebut dipandang bukan hanya sebagai penghargaan, melainkan amanah yang harus dipelihara melalui profesionalisme dan integritas.
Dalam konteks kehidupan bernegara, pesan ini memiliki relevansi yang semakin besar. Kekuatan institusi tidak semata-mata diukur melalui kelengkapan persenjataan atau kapasitas organisasi, tetapi juga melalui kemampuan mempertahankan legitimasi publik.
Modernisasi pertahanan, karena itu, harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, kesiapan operasional, kompetensi, dan akuntabilitas.
Lima Pilar PRIMA: Profesional hingga Adaptif
Amanat HUT ke-81 TNI juga menekankan konsep PRIMA sebagai budaya pengabdian prajurit.
Lima prinsip tersebut mencakup Profesional, Responsif, Integratif, Modern, dan Adaptif.
Profesional berarti setiap prajurit harus menguasai tugas dan tanggung jawabnya, meningkatkan kompetensi melalui latihan yang realistis, serta menjalankan tugas berdasarkan hukum dan integritas.
Responsif berarti kemampuan membaca perubahan dan potensi ancaman sejak dini, kemudian bertindak secara cepat, tepat, dan terukur ketika negara maupun masyarakat membutuhkan.
Sementara prinsip integratif menekankan pentingnya sinergi dengan seluruh komponen bangsa.
Di tengah kompleksitas ancaman kontemporer, pertahanan negara tidak lagi dapat dibaca hanya melalui perspektif konvensional. Perubahan teknologi, ruang informasi, dinamika sosial, hingga perang kognitif menghadirkan medan baru yang menuntut kemampuan lintas sektor.
Karena itu, TNI dituntut mampu menjadi bagian dari kekuatan nasional yang bekerja secara terpadu.
Modernisasi Pertahanan dan Tantangan Zaman
Pesan berikutnya adalah modernisasi. Prajurit dituntut menguasai alat peralatan pertahanan dan keamanan serta teknologi yang menjadi tanggung jawabnya.
Namun modernisasi bukan semata persoalan menghadirkan perangkat baru.
Modernisasi yang sesungguhnya adalah kemampuan manusia di balik teknologi tersebut untuk mengoperasikan, mengintegrasikan, sekaligus mengoptimalkannya menjadi kekuatan pertahanan yang memiliki daya tangkal dan daya tempur nyata.
Pada saat yang sama, prinsip adaptif menuntut setiap pengalaman penugasan menjadi bahan pembelajaran. Doktrin, pendidikan, latihan, hingga kemampuan operasional harus terus disesuaikan dengan karakter ancaman yang berkembang.
Dengan kata lain, TNI dituntut tidak hanya kuat menghadapi ancaman hari ini, tetapi juga memiliki kesiapan menghadapi bentuk ancaman yang mungkin muncul di masa depan.
Forkopimda dan Unsur Masyarakat Hadir Bersama
Upacara tersebut turut dihadiri Bupati Tolitoli H. Amran Hi Yahya, Wakil Bupati Moh. Besar Bantilan, Sekdakab Tolitoli Moh. Asrul Bantilan, S.Sos., serta Ketua DPRD Tolitoli Ny. Hj. Sriyanti Dg Parebba.
Hadir pula Danlanal Tolitoli Letkol Laut (P) Abdul Rahman Gazali, M.Tr.Opsla, Kapolres Tolitoli AKBP Raden Real Mahendra, S.H., S.I.K., Kasdim 1305/BT Mayor Inf Roi Kala Lembang, Kajari Tolitoli Ali Toatubun, S.H., M.H., Danki Brimob Tolitoli AKP Suharyono, serta unsur Subdenpom Tolitoli.
Kehadiran Kalapas Kelas IIB Tolitoli, Kepala UPBU Sultan Bantilan Tolitoli, para perwira TNI-Polri, kepala OPD Pemerintah Kabupaten Tolitoli, organisasi perempuan, serta tamu undangan lainnya memperlihatkan kuatnya spektrum kolaborasi dalam peringatan tersebut.
Upacara Berakhir Aman dan Tertib
Rangkaian upacara berlangsung mulai penghormatan pasukan kepada inspektur upacara, laporan komandan upacara, mengheningkan cipta, pengucapan Sapta Marga, penyampaian amanat, pembacaan doa, Andhika Bhayangkari, hingga laporan akhir komandan upacara.
Seluruh rangkaian kegiatan berakhir sekitar pukul 09.25 WITA.
Berdasarkan laporan kegiatan, pelaksanaan upacara HUT ke-81 TNI di Kabupaten Tolitoli berlangsung aman, tertib, dan lancar. Tidak ditemukan gangguan maupun kejadian menonjol selama kegiatan berlangsung.
Lebih dari sekadar perayaan usia institusi, HUT ke-81 TNI di Tolitoli menjadi momentum untuk kembali mengingat bahwa kekuatan pertahanan pada hakikatnya bertumpu pada dua hal yang saling menguatkan: kemampuan institusi dan kepercayaan rakyat.
Di antara barisan prajurit yang tegak di lapangan dan masyarakat yang menyaksikan dari tepian, terselip pesan sederhana namun fundamental: negara akan semakin kuat ketika rakyat dan aparat pertahanannya berjalan dalam satu arah, menjaga persatuan, kedaulatan, serta masa depan Indonesia.(LW.id)

