BANJARBARU, LenteraWayracana.id — Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi memperburuk kualitas udara serta mengganggu kehidupan masyarakat, dukungan operasi udara menjadi bagian penting dari strategi mitigasi bencana. Pangkalan TNI AU (Lanud) Sjamsudin Noor mengerahkan dukungan operasional bagi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan pesawat NC-212 A-2107, Senin (19/10/2026).

Operasi yang berlangsung melalui Apron Bandara Internasional Syamsudin Noor itu menjadi bagian dari pergerakan Satgas Militer Udara Siaga Darurat Penanggulangan Bencana Karhutla. Misi dipimpin Mayor Pnb Candra Ary W. dengan sasaran wilayah rawan karhutla di Kalimantan Tengah dan sekitarnya.

Pada sortie pertama di wilayah Palangkaraya, pesawat beroperasi pada ketinggian 8.000–10.000 kaki dengan membawa 567 kilogram dry ice. Penerbangan berlangsung selama 2 jam 5 menit. Sortie kedua menjangkau Palangkaraya dan Barito Kuala dengan membawa 800 kilogram bahan semai natrium klorida (NaCl), selama 1 jam 50 menit.

Dua penerbangan tersebut memperlihatkan bagaimana kapasitas penerbangan militer dapat menopang upaya mitigasi bencana melalui intervensi atmosfer. Dalam praktiknya, efektivitas OMC tetap bergantung pada kondisi awan, dinamika atmosfer, dan ketepatan penentuan waktu serta lokasi penyemaian.
Komandan Lanud Sjamsudin Noor, Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita, M.M.S., menegaskan bahwa jajarannya mengoptimalkan fasilitas pangkalan dan kesiapan personel untuk mendukung kelancaran operasi. Menurutnya, kesiapsiagaan tersebut merupakan kontribusi nyata TNI AU dalam mempercepat mitigasi karhutla dan melindungi masyarakat dari dampak asap.

Secara strategis, dukungan udara perlu ditempatkan sebagai bagian dari penanganan terpadu, bukan solusi tunggal. Pemantauan titik panas, pencegahan pembakaran, kesiapan pemadaman darat, serta evaluasi meteorologis tetap menentukan keberhasilan pengendalian karhutla.
Ketika asap melampaui batas wilayah administratif, dampaknya turut meluas ke kesehatan, aktivitas ekonomi, dan kualitas hidup warga. Karena itu, sinergi lintas instansi menjadi kunci agar setiap misi udara berkontribusi pada perlindungan masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan. (LW.ID)

