Tolitoli, LenteraWayracana.id — Denting aktivitas di Jalan Trans Sulawesi, Desa Buntuna, Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli, mendadak berubah menjadi tragedi. Sebuah kecelakaan lalu lintas yang melibatkan mobil Toyota Kijang Innova dan sepeda motor Suzuki Skydrive terjadi sekitar pukul 11.12 WITA, 14 September 2026.
Peristiwa itu merenggut satu nyawa dan membuat dua orang lainnya harus mendapatkan penanganan medis. Kecelakaan tersebut kini ditangani penyidik Satuan Lalu Lintas Polres Tolitoli untuk mengurai secara terang kronologi serta dugaan kelalaian yang mungkin terjadi dalam peristiwa tersebut.
Kronologi Kecelakaan di Jalan Lurus Buntuna
Berdasarkan informasi yang dihimpun LenteraWayracana.id dari pihak Satuan Lalu Lintas Polres Tolitoli, kecelakaan bermula ketika sebuah Toyota Kijang Innova warna hitam metalik dengan nomor polisi KT 1728 KN, berpelat dasar putih dan membawa empat orang penumpang, melaju dari arah Desa Pangi menuju Desa Tambun.
Saat kendaraan melintas di ruas Jalan Trans Sulawesi Desa Buntuna, kondisi jalan berada dalam keadaan lurus. Di sisi kanan terdapat sebuah mobil truk yang sedang terparkir.

Dalam situasi tersebut, sebuah kendaraan dari arah berlawanan diketahui hendak mendahului truk yang terparkir. Pada saat bersamaan, dari belakang truk muncul sepeda motor Suzuki Skydrive warna silver dengan nomor polisi DN 4500 DH, yang dikendarai Udin Larate dengan membonceng Muriani serta seorang anak bernama Safaniya.
Situasi lalu lintas yang berlangsung dalam ruang jalan terbatas tersebut kemudian berkembang menjadi kondisi yang sulit diantisipasi.
Pengemudi Innova, Jamal, disebut berupaya menghindari benturan dengan memutar kemudi ke kiri sekaligus menginjak pedal rem. Namun, jarak antarkendaraan yang sudah terlalu dekat membuat upaya tersebut tidak mampu mencegah tabrakan.
Benturan pun terjadi.
Satu Korban Meninggal Dunia
Kecelakaan tersebut mengakibatkan Udin Larate mengalami luka berat pada bagian kaki. Sementara Muriani yang menjadi penumpang sepeda motor kemudian mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Mokopido, namun nyawanya tidak tertolong.
Adapun Safaniya mengalami kondisi yang membutuhkan penanganan serius dan menjalani perawatan medis di rumah sakit.
Di balik angka dan rangkaian kronologi kecelakaan, terdapat kehilangan yang tidak pernah sederhana bagi keluarga korban. Jalan raya yang semestinya menjadi ruang mobilitas berubah dalam hitungan detik menjadi titik perpisahan yang menyisakan duka.
Peristiwa ini kembali memperlihatkan betapa tipis jarak antara perjalanan biasa dan sebuah tragedi. Dalam lalu lintas, sepersekian detik, jarak beberapa meter, serta keputusan untuk mendahului dapat membawa konsekuensi yang sama sekali tidak terduga.
Penyidik Satlantas Polres Tolitoli Lakukan Olah TKP
Pasca-kecelakaan, personel Satuan Lalu Lintas Polres Tolitoli melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi.
Langkah tersebut menjadi bagian dari proses penyidikan untuk memastikan rangkaian kejadian secara objektif, termasuk kondisi kendaraan, posisi masing-masing kendaraan saat kecelakaan, situasi jalan, serta faktor lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Kanit Sidik Satlantas Polres Tolitoli Aptu Awaludin menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.
Ia juga mengingatkan seluruh pengguna jalan agar meningkatkan kewaspadaan ketika berkendara, terutama pada situasi jalan yang terdapat kendaraan berhenti atau terparkir dan ketika hendak melakukan manuver mendahului.
Pesannya sederhana, tetapi memiliki bobot yang panjang: kehati-hatian di jalan bukan sekadar kewajiban, melainkan bentuk penghormatan terhadap keselamatan diri sendiri dan pengguna jalan lainnya.
Ulasan: Ketika Ruang Jalan Menjadi Titik Risiko
Secara lalu lintas, kawasan jalan lurus sering kali menciptakan ilusi rasa aman karena jarak pandang terlihat lebih terbuka. Namun, keberadaan kendaraan yang terparkir, kendaraan dari arah berlawanan, serta pengguna jalan yang melakukan manuver secara bersamaan dapat menciptakan apa yang dalam perspektif keselamatan disebut sebagai konflik lalu lintas.
Kecelakaan di Buntuna menjadi pengingat bahwa keselamatan tidak hanya ditentukan oleh kondisi jalan, tetapi juga oleh kecepatan, jarak aman, kewaspadaan, visibilitas, dan kemampuan pengemudi membaca situasi beberapa detik ke depan.
Karena proses hukum masih berjalan, penyebab dan pihak yang bertanggung jawab secara hukum tetap harus menunggu hasil penyidikan Satuan Lalu Lintas Polres Tolitoli. Namun, satu hal telah menjadi fakta pahit: sebuah perjalanan berakhir dengan kehilangan nyawa.
“Hari nahas tidak ada dalam kalender.” Karena itu, kewaspadaan tidak boleh hanya hadir setelah kecelakaan terjadi.
Penulis: Armen Djaru
LenteraWayracana.id

