LenteraWayracana.id | TOLITOLI — Suasana pagi di Studio Pro 1 RRI Tolitoli pada Rabu (13/5/2026) terasa dinamis. Program Dialog Pagi RRI Tolitoli Menyapa mengangkat tema strategis tentang pelaksanaan Lomba Desa dan Kelurahan di tengah kebijakan efisiensi anggaran desa.
Dialog ini menghadirkan sejumlah narasumber yang berkompeten di bidangnya, yakni Jemmy Yusuf, Surianto Madi, Andi Irmayani Aziz, serta Irfan Lnni. Diskusi dipandu oleh host Datra Hasan.
Pelaksanaan Lomba Desa di Kabupaten Tolitoli tetap berjalan meskipun anggaran desa mengalami pengurangan hingga 75–80 persen. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kualitas pelayanan publik di tingkat desa.
Secara deskriptif, lomba desa bukan sekadar agenda rutin, melainkan instrumen evaluatif terhadap tata kelola pemerintahan desa. Hal ini selaras dengan amanah Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, yang menekankan pentingnya pelayanan publik yang efektif, transparan, dan partisipatif.
Dari sudut pandang analitis, efisiensi anggaran menjadi tantangan nyata yang menuntut desa untuk lebih adaptif dan inovatif. Dalam dialog tersebut, para narasumber menekankan bahwa keterbatasan anggaran tidak boleh mengurangi kualitas layanan dasar kepada masyarakat.
Penilaian lomba difokuskan pada berbagai indikator penting, seperti kualitas pelayanan publik, inovasi desa, serta tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Selain itu, program prioritas seperti pencegahan stunting, penanganan gizi buruk, serta penurunan angka putus sekolah menjadi perhatian utama.

Layanan kesehatan dasar melalui Posyandu, Pustu, dan Puskesmas juga menjadi indikator penting dalam memastikan masyarakat tetap mendapatkan pelayanan optimal, meskipun dalam kondisi keterbatasan anggaran.
Pendekatan human interest terlihat dari semangat gotong royong masyarakat yang tetap terjaga. Di tengah keterbatasan fiskal, partisipasi aktif warga menjadi kekuatan utama dalam menjaga keberlangsungan pembangunan desa.
Dialog ini menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan desa tidak semata ditentukan oleh besaran anggaran, melainkan oleh efektivitas pengelolaan, inovasi, serta keterlibatan masyarakat.
Di akhir dialog, masyarakat diajak untuk terus berpartisipasi aktif dalam mendukung program desa, sehingga pelayanan publik tetap berjalan optimal dan berkelanjutan.
(LW.id)
Selengkapnya, tonton videonya.
