KenteraQayracana.id | Tolitoli – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tidak semestinya dipahami hanya sebagai agenda seremonial untuk menyambut peserta didik baru. Lebih dari itu, momentum ini merupakan fondasi awal dalam menanamkan nilai, etika, dan budaya sekolah yang akan membentuk karakter siswa selama menempuh proses pendidikan

Semangat itulah yang tampak dalam pelaksanaan MPLS Tahun Pelajaran 2026/2027 di SMP Negeri 5 Tolitoli. Guru Bimbingan dan Konseling (BK), Ghufron Arsyah Prawira, S.Sos., dipercaya menjadi narasumber yang menyampaikan materi mengenai tata tertib sekolah, Budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun), serta pencegahan perundungan (bullying).

Materi tersebut disampaikan sebagai bagian dari strategi sekolah dalam membangun ekosistem pendidikan yang aman, inklusif, serta berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik sejak hari pertama mereka memasuki lingkungan sekolah.
Dalam pemaparannya, Ghufron menegaskan bahwa tata tertib sekolah bukan sekadar seperangkat aturan administratif yang wajib dipatuhi. Lebih jauh, tata tertib merupakan instrumen pendidikan yang berfungsi membangun disiplin, tanggung jawab, kejujuran, serta penghormatan terhadap hak dan kewajiban setiap warga sekolah.
“Dengan mematuhi tata tertib, peserta didik akan terbiasa hidup tertib dan bertanggung jawab, sehingga tercipta suasana belajar yang kondusif,” jelasnya.

Selain aspek kedisiplinan, peserta MPLS juga diperkenalkan dengan Budaya 5S sebagai implementasi pendidikan karakter dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan sederhana seperti tersenyum, memberi salam, menyapa, bersikap sopan, dan santun diyakini memiliki daya transformasi sosial yang besar dalam membangun hubungan harmonis antarsesama warga sekolah.
Dalam perspektif psikologi pendidikan, budaya positif seperti 5S berkontribusi terhadap terciptanya iklim belajar yang sehat. Interaksi yang dibangun atas dasar penghormatan dan empati menjadi modal sosial yang memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus mengurangi potensi konflik di lingkungan sekolah.
Topik lain yang mendapat perhatian serius adalah pencegahan perundungan (bullying). Ghufron menjelaskan bahwa perundungan tidak hanya berbentuk kekerasan fisik, tetapi juga dapat terjadi melalui ucapan, pengucilan sosial, hingga media digital atau cyberbullying.
Menurutnya, setiap bentuk perundungan meninggalkan dampak yang tidak sederhana. Korban dapat mengalami tekanan psikologis, kehilangan rasa percaya diri, menurunnya prestasi belajar, bahkan mengalami gangguan perkembangan karakter apabila tidak segera mendapatkan pendampingan.
Karena itu, seluruh peserta didik diajak menjadi bagian dari solusi dengan berani menolak segala bentuk perundungan serta membangun budaya saling menghormati dan saling melindungi di lingkungan sekolah.
Menariknya, penyampaian materi tidak hanya bertumpu pada pendekatan normatif, tetapi juga diperkuat dengan nilai-nilai spiritual. Ghufron mengutip hadis Rasulullah SAW yang mengibaratkan teman baik seperti penjual minyak wangi dan teman buruk seperti pandai besi.
Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa lingkungan pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter seseorang. Teman yang baik akan mendorong lahirnya prestasi, akhlak mulia, serta kepatuhan terhadap aturan. Sebaliknya, lingkungan yang negatif berpotensi menyeret seseorang pada perilaku menyimpang, termasuk tindakan perundungan.
Secara sosiologis, kualitas relasi antarteman memang menjadi salah satu determinan penting dalam proses pembentukan kepribadian remaja. Sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial merupakan tiga pilar utama yang saling berkaitan dalam membangun generasi yang berintegritas.
Melalui materi yang disampaikan dalam MPLS ini, SMP Negeri 5 Tolitoli menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya menghasilkan peserta didik yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional, etika sosial, dan karakter yang kuat.
Pendidikan pada hakikatnya bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses memanusiakan manusia. Ketika disiplin, budaya santun, dan sikap anti-perundungan tumbuh sejak dini, sekolah sesungguhnya sedang menanam benih peradaban yang kelak akan tumbuh menjadi generasi berkarakter, berempati, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan bermasyarakat.
(Gf)

