Lenterawayracana.id | PINRANG – Aroma menyengat yang menguar dari tumpukan sampah di Jalan Cumi-Cumi, Kelurahan Penrang, Kecamatan Watang Sawitto, Kabupaten Pinrang, kini bukan sekadar persoalan estetika kota. Di balik gunungan limbah rumah tangga yang kian meninggi, tersimpan kegelisahan warga yang perlahan berubah menjadi kecemasan kolektif.
Sudah hampir satu bulan terakhir, menurut keterangan warga, armada pengangkut sampah tidak lagi terlihat melintasi kawasan tersebut. Akibatnya, kantong-kantong sampah yang semula hanya menumpuk di sudut jalan kini membentuk lanskap urban yang memprihatinkan.
Di tengah denyut kehidupan masyarakat perkotaan, sampah sesungguhnya merupakan indikator paling sederhana dari kualitas tata kelola lingkungan. Ketika sistem pengangkutan terhenti, maka yang muncul bukan hanya persoalan kebersihan, melainkan juga ancaman ekologis dan kesehatan masyarakat.
Bau busuk yang menyebar setiap hari menjadi realitas yang harus diterima warga. Pada saat bersamaan, tumpukan sampah berpotensi menjadi habitat ideal bagi lalat, tikus, dan nyamuk yang dikenal sebagai vektor berbagai penyakit. Dalam perspektif kesehatan lingkungan, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat apabila tidak segera ditangani.
Seorang warga mengaku khawatir apabila kondisi itu terus dibiarkan. Menurutnya, selain mengganggu kenyamanan, keberadaan sampah yang menumpuk dapat membahayakan kesehatan anak-anak dan lansia yang tinggal di sekitar lokasi.

Fenomena ini menggambarkan bahwa persoalan sampah bukan sekadar urusan teknis pengangkutan, melainkan juga menyangkut dimensi sosial, kesehatan, dan kualitas hidup masyarakat. Kota yang sehat sesungguhnya dibangun dari ruang-ruang publik yang bersih dan sistem pelayanan yang berjalan secara konsisten.
Secara deskriptif, Jalan Cumi-Cumi kini menghadirkan kontras yang tajam antara aktivitas masyarakat dengan tumpukan limbah yang belum terkelola. Secara analitis, kondisi tersebut menunjukkan adanya gangguan dalam rantai pelayanan kebersihan yang seharusnya menjadi layanan dasar pemerintah daerah.
Warga pun mendesak Pemerintah Kabupaten Pinrang, khususnya instansi yang menangani kebersihan dan lingkungan hidup, agar segera menurunkan armada pengangkut sampah. Mereka berharap langkah cepat dapat dilakukan sebelum dampak yang lebih luas muncul, baik terhadap kesehatan masyarakat maupun kualitas lingkungan permukiman.
Sampai berita ini ditayangkan, pihak terkait belum memberikan keterangan resmi mengenai penyebab terhentinya pengangkutan sampah di kawasan tersebut.
( Mamad )

