LENTERAWAYRACANA.ID | Tolitoli – Di tengah geliat pembangunan sektor pertanian yang semakin memperoleh perhatian strategis, hamparan lahan seluas dua hektare di Dusun Baboanjam, Desa Pangi, Kecamatan Baolan, Minggu (21/6/2026), menjadi saksi tumbuhnya sebuah ikhtiar kolektif yang melampaui sekadar aktivitas bercocok tanam. Di tanah yang dikelola BUMDes Bunga Cengkeh Desa Pangi itu, benih-benih jagung Bisi 18 mulai ditanam sebagai bagian dari program ketahanan pangan yang mendapat pendampingan Polsek Baolan.

Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 WITA tersebut menandai dimulainya musim tanam jagung dengan total bibit sebanyak 20 kilogram atau 20 bungkus yang diproyeksikan memasuki masa panen pada Oktober 2026 mendatang.

Di balik aktivitas sederhana menanam jagung, tersimpan makna yang jauh lebih dalam. Ketahanan pangan bukan semata persoalan produksi, melainkan sebuah konstruksi sosial yang menyangkut ketersediaan pangan, stabilitas ekonomi masyarakat, dan keberlanjutan desa.
Bhabinkamtibmas Desa Tambun yang juga membina Desa Pangi, Aiptu Mahmualim, turut melakukan pendampingan terhadap kelompok tani dan pengelola BUMDes. Pendekatan yang dilakukan aparat kepolisian ini menunjukkan transformasi peran Polri yang tidak hanya hadir dalam dimensi keamanan, tetapi juga sebagai katalisator pembangunan masyarakat.
Ketua kelompok pengelola, Sahrun, S.Pd.I, bersama masyarakat setempat memulai penanaman dengan penuh optimisme. Dalam perspektif pembangunan pedesaan, keterlibatan BUMDes menjadi instrumen penting dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.

Secara ilmiah, jagung merupakan komoditas strategis yang memiliki tingkat adaptasi tinggi terhadap kondisi lahan tropis dan berkontribusi terhadap diversifikasi pangan nasional. Varietas Bisi 18 yang digunakan dikenal memiliki produktivitas yang baik sehingga diharapkan mampu memberikan hasil optimal pada musim panen mendatang.
Di hamparan tanah Desa Pangi, benih-benih kecil itu sesungguhnya sedang menuliskan puisi tentang harapan. Setiap lubang tanam menjadi metafora tentang masa depan, sementara setiap butir jagung yang ditanam menjadi simbol ketahanan keluarga petani terhadap ketidakpastian ekonomi.
Program ketahanan pangan yang dilaksanakan Polsek Baolan melalui pendampingan Bhabinkamtibmas memperlihatkan bahwa keamanan dan kesejahteraan merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Ketika masyarakat memiliki akses terhadap pangan dan penghidupan yang layak, maka stabilitas sosial akan tumbuh secara alami.
Analisis sederhana menunjukkan bahwa model kolaborasi antara aparat kepolisian, BUMDes, dan masyarakat desa seperti yang berlangsung di Desa Pangi dapat menjadi contoh pembangunan berbasis partisipasi. Pendekatan ini tidak hanya menghasilkan komoditas pertanian, tetapi juga menumbuhkan modal sosial, kepercayaan publik, dan semangat gotong royong.
Di tengah tantangan perubahan iklim, fluktuasi harga pangan, dan dinamika ekonomi global, langkah kecil di Dusun Baboanjam tersebut menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan nasional sesungguhnya berakar dari desa-desa yang tetap menanam harapan di atas tanahnya sendiri.
( LW.ID )

