LENTERAWAYRACANA.ID – Indonesia dan Malaysia memperluas sinergi pertahanan bilateral dengan memasukkan isu keamanan siber dalam agenda Tim Perancang Komunikasi dan Siber (TPKS) Malindo ke-34. Langkah ini menandai penguatan kerja sama kedua negara dalam merespons tantangan keamanan modern yang semakin kompleks, terutama di tengah pesatnya transformasi digital.

Forum yang berlangsung pada 14–15 Oktober 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, tersebut dipimpin Asisten Komunikasi dan Elektronika (Askomlek) Panglima TNI Marsekal Muda TNI Basuki Rochmat, CRGP. Pertemuan ini menjadi ruang strategis untuk menyelaraskan kebijakan, meningkatkan interoperabilitas, serta memperkuat kesiapan sistem komunikasi dan pertahanan siber kedua negara.

Siber Masuk Agenda Strategis TPKS Malindo
Pada hari pertama, delegasi Indonesia dan Malaysia menggelar kelompok kerja (working group) serta diskusi untuk merumuskan dokumen Risalah TPKS. Untuk pertama kalinya, bidang siber secara resmi turut diikutsertakan dalam forum tersebut, memperluas cakupan kerja sama yang sebelumnya berfokus pada komunikasi dan elektronika.

Memasuki hari kedua, pertemuan dihadiri Ketua TPKS Malaysia, Laksamana Muda Dato’ Fadhil bin Abdul Rahman, bersama delegasi kedua negara. Pembahasan mencakup penguatan komunikasi dan elektronika, kerja sama yang melibatkan TNI, Basarnas, dan Bakamla, serta peningkatan kolaborasi pertahanan siber.

ACDN Jadi Wadah Kolaborasi Siber Kawasan
Dalam aspek keamanan digital, Indonesia dan Malaysia mengarahkan kerja sama pertahanan siber untuk diwadahi melalui ASEAN Cyber Defense Network (ACDN). Platform ini diharapkan memperkuat koordinasi dan kolaborasi pertahanan siber di kawasan, seiring meningkatnya kebutuhan akan sistem keamanan yang adaptif terhadap ancaman lintas batas.
Memperkuat Interoperabilitas dan Ketahanan Regional
Secara umum, TPKS Malindo ke-34 berlangsung lancar. Hasil pembahasan menjadi pijakan untuk meningkatkan efektivitas koordinasi, interoperabilitas, serta kesiapan sarana komunikasi, elektronika, dan siber dalam mendukung tugas pertahanan kedua negara.
Secara strategis, masuknya isu siber mencerminkan perluasan dimensi pertahanan Indonesia–Malaysia. Keamanan tidak lagi hanya bertumpu pada kemampuan fisik di darat, laut, dan udara, tetapi juga pada ketangguhan infrastruktur digital serta kecepatan pertukaran informasi.
Melalui forum ini, kedua negara menegaskan komitmen mempererat hubungan bilateral dan membangun sinergi menghadapi tantangan keamanan bersama. Di tengah lanskap ancaman yang terus berubah, kolaborasi menjadi modal penting untuk mewujudkan pertahanan yang adaptif, tangguh, dan berkelanjutan. (LW.ID)

