LENTERAWAYRACANA.ID | Tolitoli — Aroma laut yang khas bercampur dengan hiruk pikuk aktivitas nelayan menjadi daya tarik tersendiri di Pelabuhan Tradisional Haji Hayun, Tanjung Batu, Kelurahan Baru, Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli. Di akhir pekan, kawasan ini tidak hanya menjadi pusat pendaratan ikan, tetapi juga ruang interaksi sosial dan ekonomi yang hidup bagi masyarakat pesisir.

Sejak pagi hari, perahu-perahu nelayan bersandar membawa hasil tangkapan segar. Ikan-ikan pelagis seperti cakalang (deho), tuna, marlin, lajang, katombo atau kembung, hingga tembang tersusun rapi di lapak sederhana. Warna perak mengilap dan mata ikan yang jernih menjadi indikator kualitas kesegaran yang masih terjaga.
Secara ilmiah, ikan pelagis merupakan spesies yang hidup di kolom perairan terbuka dan memiliki mobilitas tinggi. Kandungan protein yang tinggi serta asam lemak omega-3 menjadikan jenis ikan ini bernilai gizi penting bagi kesehatan manusia, terutama dalam mendukung fungsi kardiovaskular dan perkembangan otak.
Kabupaten Tolitoli sendiri memiliki posisi geografis strategis di pesisir barat Pulau Sulawesi. Wilayah ini terbagi dalam 10 kecamatan, dengan delapan di antaranya berada di kawasan pesisir. Garis pantai yang mencapai sekitar 450 kilometer menjadi modal alam yang besar bagi sektor perikanan tangkap.
Berdasarkan hasil penelitian Dinas Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah, potensi lestari perikanan tangkap di wilayah ini mencapai sekitar 60 ribu ton per tahun. Namun, tingkat pemanfaatannya saat ini baru sekitar 25 ribu ton atau 40 persen dari total potensi. Angka ini menunjukkan masih terbukanya ruang pengembangan sektor perikanan secara berkelanjutan.

Di sisi lain, keterbatasan armada tangkap masih menjadi tantangan utama. Data Dinas Perikanan Kabupaten Tolitoli mencatat, kapal penangkap ikan berkapasitas 30 Gross Tonnage (GT) jenis Inka Mina hanya berjumlah sembilan unit, yang merupakan bantuan pemerintah pusat pada periode 2010 hingga 2014.
Kondisi ini menciptakan paradoks antara potensi sumber daya yang melimpah dan kapasitas produksi yang belum optimal. Namun, bagi sebagian masyarakat, seperti para nelayan di Pelabuhan Haji Hayun, situasi ini justru menjadi ruang harapan.
“Kalau cuaca bagus, hasil tangkapan cukup. Tapi kalau kapal lebih besar dan alat lebih modern, pasti bisa lebih banyak,” ujar salah satu nelayan setempat sambil membersihkan ikan hasil tangkapan.
Fenomena ini membuka peluang investasi yang cukup luas, tidak hanya pada sektor perikanan tangkap, tetapi juga pada budidaya dan pengolahan hasil laut. Hilirisasi menjadi kata kunci penting untuk meningkatkan nilai tambah, mulai dari pengolahan ikan menjadi produk beku, asap, hingga olahan siap konsumsi.
Di akhir pekan, suasana pelabuhan berubah menjadi lebih santai. Warga datang untuk membeli ikan segar langsung dari nelayan, bahkan beberapa memilih langsung membakarnya di sekitar lokasi. Aktivitas sederhana ini mencerminkan hubungan erat antara masyarakat dengan laut sebagai sumber kehidupan.
Pelabuhan Haji Hayun bukan sekadar titik distribusi ikan, tetapi juga potret kecil tentang bagaimana potensi besar perikanan Tolitoli menunggu untuk dikelola secara lebih optimal, berkelanjutan, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat pesisir.
(LW.ID)
