LenteraWayracana.id | TOLI-TOLI – Di balik denyut kehidupan masyarakat Kabupaten Tolitoli, terdapat sebuah persoalan kesehatan yang terus bergerak dalam diam. Ia tidak menimbulkan kepanikan seperti pandemi global, namun secara perlahan menggerus kualitas hidup masyarakat. Penyakit itu adalah Tuberkulosis (TB), penyakit menular yang hingga kini masih menjadi tantangan serius bagi Indonesia.
Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 telah menetapkan target besar, yakni menurunkan insiden TB menjadi 65 kasus per 100 ribu penduduk pada tahun 2030. Lebih jauh lagi, Indonesia menargetkan eliminasi TB pada tahun 2030 dan Indonesia bebas TB pada tahun 2050.
Strategi nasional yang dikedepankan adalah TOSS TB (Temukan, Obati Sampai Sembuh), sebuah pendekatan yang menempatkan deteksi dini dan pengobatan tuntas sebagai fondasi utama. Seluruh layanan pemeriksaan dan pengobatan TB disediakan secara gratis di fasilitas kesehatan pemerintah.
Data perkembangan prevalensi penyakit Tuberkulosis di Kabupaten Tolitoli menunjukkan dinamika yang patut menjadi perhatian.
- Tahun | Jumlah Kasus| Prevalensi
- 2022 | 412 kasus. | 0,17%
- 2023 | 491 kasus | 0,21%
- 2024 | 657 kasus | 0,27%
2025 (Januari–Mei) | 189 kasus | 0,07%
Secara deskriptif, angka tersebut memperlihatkan adanya peningkatan kasus selama periode 2022 hingga 2024. Kenaikan dari 412 kasus menjadi 657 kasus tidak hanya menunjukkan adanya potensi peningkatan penularan, tetapi juga dapat mengindikasikan semakin aktifnya proses penemuan kasus oleh tenaga kesehatan.

- Perhatian DPRD Tolitoli
Anggota DPRD Kabupaten Tolitoli, Jemi Yusuf, turut memberikan perhatian terhadap persoalan Tuberkulosis yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di daerah. Menurutnya, upaya pengendalian TB membutuhkan keterlibatan seluruh elemen, mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, lembaga legislatif, hingga masyarakat.
Jemi Yusuf menilai bahwa edukasi kesehatan harus terus diperkuat agar masyarakat memahami pentingnya pemeriksaan dini dan kepatuhan menjalani pengobatan hingga tuntas. Ia juga mendorong agar program TOSS TB semakin diperluas hingga ke tingkat desa dan kelurahan.
“Penanganan TB tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas kesehatan. Diperlukan dukungan semua pihak agar target eliminasi TB tahun 2030 dapat tercapai,” ujarnya.
Menurutnya, DPRD memiliki fungsi pengawasan dan dukungan anggaran agar program kesehatan, khususnya penanggulangan TB, dapat berjalan secara optimal di Kabupaten Tolitoli.
- Tuberkulosis dan Wajah Kemanusiaan
Di balik angka-angka statistik itu terdapat manusia, keluarga, dan harapan.
Seorang penderita TB bukan sekadar angka dalam laporan bulanan. Ia bisa menjadi seorang ayah yang kehilangan kemampuan bekerja karena batuk berkepanjangan, seorang ibu yang harus berjuang menjalani terapi berbulan-bulan, atau seorang anak yang terpaksa menghentikan sekolah akibat kondisi kesehatan.
Tuberkulosis bukan hanya penyakit paru. Ia adalah persoalan sosial, ekonomi, dan budaya.
Stigma masih menjadi tembok yang sulit ditembus. Sebagian penderita memilih diam karena takut dijauhi lingkungan. Sebagian lainnya menghentikan pengobatan sebelum waktunya karena merasa telah sembuh.
Padahal, pengobatan TB memerlukan kedisiplinan selama minimal enam bulan. Ketidakpatuhan berpotensi memunculkan resistensi obat yang justru membuat pengobatan menjadi lebih sulit dan mahal.
- Mengapa Kasus Meningkat?
Terdapat beberapa faktor yang dapat menjelaskan peningkatan kasus TB di Tolitoli.
- Pertama, meningkatnya kegiatan skrining dan penemuan kasus aktif oleh petugas kesehatan.
- -Kedua, faktor sosial ekonomi seperti kepadatan hunian, kualitas ventilasi rumah, dan status gizi masyarakat.
- Ketiga, rendahnya kesadaran sebagian masyarakat untuk melakukan pemeriksaan ketika mengalami batuk lebih dari dua minggu.
- Keempat, masih adanya stigma terhadap penderita TB.
Dalam perspektif kesehatan masyarakat, keberhasilan program TB tidak hanya ditentukan oleh rumah sakit dan puskesmas, tetapi juga oleh keterlibatan masyarakat, pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, media massa, dan para pemangku kebijakan termasuk DPRD.
- TOSS TB dan Harapan Baru
Program TOSS TB merupakan strategi yang mengedepankan tiga langkah utama: menemukan penderita, mengobati secara teratur, dan memastikan pasien sembuh.
Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai subjek utama.
Apabila seseorang mengalami batuk selama dua minggu atau lebih, disertai penurunan berat badan, demam, atau keringat malam, maka pemeriksaan di fasilitas kesehatan harus segera dilakukan.
Kabar baiknya, seluruh layanan pemeriksaan dan pengobatan TB di fasilitas kesehatan pemerintah diberikan secara gratis.
Dalam bahasa kesehatan publik, investasi pada pengendalian TB bukanlah pengeluaran, melainkan modal sosial jangka panjang. Setiap pasien yang sembuh berarti satu rantai penularan yang berhasil diputus.
- Menuju Tolitoli Bebas TB
Data Januari hingga Mei 2025 mencatat 189 kasus dengan prevalensi 0,07 persen. Meskipun angka tersebut belum dapat menggambarkan kondisi satu tahun penuh, tren ini perlu terus dipantau.
Target eliminasi TB tahun 2030 bukan sekadar angka administratif, melainkan komitmen kemanusiaan.
Tuberkulosis adalah penyakit yang dapat disembuhkan. Namun kemenangan melawan TB tidak hanya ditentukan oleh obat-obatan, melainkan juga oleh kesadaran kolektif masyarakat.
Di tengah denyut kehidupan Tolitoli, perjuangan melawan TB sesungguhnya adalah perjuangan menjaga masa depan generasi.
Sebab kesehatan bukan sekadar ketiadaan penyakit, melainkan hadirnya harapan, produktivitas, dan martabat manusia.
Sumber:
Data perkembangan prevalensi Tuberkulosis Kabupaten Tolitoli Tahun 2022–2025, Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis, serta pernyataan Anggota DPRD Kabupaten Tolitoli Jemi Yusuf.
( LW.ID )

