TOLITOLI, LenteraWayracana.id — Di tengah dinamika kehidupan yang kian kompleks, lantunan dzikir, istighosah, dan sholawat menjadi ruang spiritual bagi masyarakat untuk menenangkan hati, memperdalam ilmu agama, sekaligus meneguhkan ikhtiar batin melalui doa. Suasana religius tersebut mewarnai kegiatan rutin Majelis Dzikir Sabdo Hidayatussholawat di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, Selasa malam, 13 Oktober 2026.

Kegiatan yang berlangsung setiap malam Rabu itu diikuti lebih dari 100 jamaah. Mereka datang dari berbagai wilayah, baik dari dalam Kota Tolitoli maupun sejumlah desa di luar kota, di antaranya Desa Bajugan, Desa Aung di Kecamatan Galang, serta Desa Janja dan Desa Sibea di Kecamatan Lampasio.

Kehadiran jamaah dari lintas wilayah tersebut memperlihatkan bagaimana majelis dzikir menjadi ruang perjumpaan sosial yang mempertemukan masyarakat dalam satu ikhtiar spiritual: mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Istighosah sebagai Ruang Menuntut Ilmu dan Menata Hati
Pengasuh Majelis Dzikir Sabdo Hidayatussholawat, Aiptu S. Ragil Hidayat, S.H., yang akrab disapa Gus Ragil oleh para jamaah, menjelaskan bahwa kegiatan rutin tersebut tidak semata-mata menjadi agenda ibadah bersama, tetapi juga sarana thalabul ilmi atau menuntut ilmu.

Menurutnya, dzikir dan sholawat merupakan bagian dari ikhtiar untuk mengasah kepekaan batin, memperkuat kesadaran ketuhanan, serta membiasakan diri untuk senantiasa mengingat Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan tersebut, jamaah diajak membangun hubungan spiritual yang lebih mendalam, tidak hanya melalui rangkaian bacaan dzikir dan sholawat, tetapi juga melalui kesungguhan hati dalam berdoa, bermunajat, dan memperbaiki kualitas keimanan.
Bagi Gus Ragil, tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan iman dan takwa, sekaligus menyediakan ruang bagi jamaah untuk memanjatkan doa atas berbagai hajat dan harapan yang mereka bawa.
Dari Berbagai Desa, Jamaah Dipertemukan oleh Doa
Lebih dari 100 jamaah yang hadir berasal dari latar geografis yang beragam. Perjalanan dari desa-desa menuju lokasi kegiatan menjadi bagian dari ikhtiar mereka untuk mengikuti majelis yang digelar secara rutin tersebut.
Dalam perspektif sosial-keagamaan, pertemuan semacam ini memiliki makna yang melampaui pelaksanaan ritual. Majelis dzikir dapat menjadi ruang untuk merawat kebersamaan, mempererat silaturahmi, dan membangun ikatan sosial yang bertumpu pada nilai-nilai spiritual.
Di tengah kehidupan masyarakat yang diwarnai beragam kesibukan dan tantangan, ruang kebersamaan seperti ini menghadirkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas, menata kembali orientasi hidup, serta menguatkan hubungan antarsesama.
Dzikir menjadi pengingat tentang keterbatasan manusia, sedangkan doa menjadi ungkapan harapan dan penyerahan diri kepada Sang Pencipta. Sementara itu, sholawat menegaskan kecintaan umat kepada Rasulullah SAW sebagai teladan dalam menjalani kehidupan.
Doa Bersama untuk Keselamatan Kabupaten Tolitoli
Selain menjadi sarana menuntut ilmu dan memperkuat keimanan, kegiatan istighosah tersebut juga diisi dengan doa bersama agar Kabupaten Tolitoli senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT.
Gus Ragil menyampaikan bahwa jamaah bermunajat agar daerah tersebut dijauhkan dari segala bala, bencana, dan musibah. Doa itu menjadi wujud kepedulian spiritual terhadap keselamatan masyarakat dan ketenteraman daerah.
Harapan tersebut menempatkan doa bukan sekadar ungkapan personal, melainkan juga ekspresi kepedulian kolektif terhadap lingkungan sosial tempat masyarakat hidup dan beraktivitas.
Kendati doa merupakan ikhtiar batin, semangat menjaga keselamatan bersama juga relevan diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti memperkuat solidaritas sosial, meningkatkan kepedulian terhadap sesama, dan berpartisipasi dalam upaya menjaga keamanan serta ketenteraman lingkungan.
Merawat Spiritualitas di Tengah Kehidupan Modern
Kegiatan rutin Majelis Dzikir Sabdo Hidayatussholawat menunjukkan bahwa kehidupan beragama tetap memiliki ruang penting dalam keseharian masyarakat. Bagi para jamaah, majelis ini menjadi wadah untuk memperkuat iman, memperluas pemahaman keagamaan, dan merawat hubungan sosial melalui kegiatan yang berorientasi pada ibadah.
Secara sosial, keberlangsungan majelis keagamaan juga dapat berkontribusi terhadap terbentuknya komunitas yang lebih erat apabila nilai-nilai yang dipelajari diterjemahkan ke dalam perilaku sehari-hari, seperti kejujuran, kepedulian, kesantunan, dan semangat saling membantu.
Pada akhirnya, makna sebuah majelis dzikir tidak hanya tercermin dari banyaknya jamaah yang hadir atau lantunan doa yang menggema, tetapi juga dari nilai-nilai kebaikan yang tumbuh dan dibawa pulang ke tengah keluarga serta masyarakat.
Dari Tolitoli, lantunan dzikir dan sholawat menjadi pengingat bahwa ikhtiar memperkuat kehidupan spiritual dapat berjalan beriringan dengan upaya merawat persaudaraan dan membangun kehidupan sosial yang harmonis. (LW.id)

