LENTERAWAYRACANA.ID, BANDUNG — Penanggulangan bencana bukan semata-mata persoalan kecepatan bergerak, melainkan juga kemampuan berbagai unsur untuk bekerja dalam satu orkestrasi yang terukur. Prinsip itulah yang tercermin dalam kegiatan Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR) pada rangkaian Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Multinasional Super Garuda Shield (SGS) 2026 di Bandung, Jawa Barat, Jumat (4/9/2026).

Kegiatan tersebut mempertemukan unsur TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), rumah sakit daerah, serta negara-negara mitra. Kolaborasi lintas institusi dan lintas negara itu menjadi gambaran bahwa respons terhadap bencana modern membutuhkan keterpaduan sumber daya, informasi, personel, dan kemampuan teknis.

Dalam konteks kebencanaan, waktu merupakan variabel yang tidak dapat ditawar. Keterlambatan informasi maupun koordinasi dapat memperbesar dampak terhadap masyarakat yang berada di wilayah terdampak. Karena itu, HADR dalam SGS 2026 tidak berhenti pada latihan prosedural, tetapi diarahkan untuk membangun kemampuan menghadapi situasi darurat secara lebih sistematis dan adaptif.

Dari Ruang Koordinasi ke Medan Bencana
Rangkaian kegiatan diawali dengan kunjungan peserta latihan ke BPBD Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Di kedua institusi tersebut, peserta memperoleh paparan mengenai mekanisme manajemen penanggulangan bencana, sistem pelaporan, hingga kesiapan aset yang dapat dikerahkan ketika terjadi keadaan darurat.

Paparan tersebut memberikan perspektif bahwa penanganan bencana merupakan sebuah sistem yang memiliki banyak mata rantai. Mulai dari deteksi dan pelaporan, pengambilan keputusan, pengerahan sumber daya, pencarian dan pertolongan, pelayanan kesehatan, hingga pemulihan awal harus bergerak dalam satu alur koordinasi.
Setelah mendapatkan gambaran mengenai sistem penanggulangan bencana, peserta kemudian bergerak menuju lokasi bencana longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Kunjungan lapangan menjadi bagian penting karena pengetahuan mengenai bencana tidak cukup hanya dipahami melalui peta, data, atau paparan di ruang konferensi. Medan nyata menghadirkan kompleksitas tersendiri: kondisi geografis, akses menuju lokasi, potensi longsor susulan, kebutuhan evakuasi, serta keselamatan masyarakat dan petugas harus diperhitungkan secara simultan.
Di titik inilah latihan HADR menemukan dimensi kemanusiaannya. Di balik koordinat dan data teknis, terdapat manusia yang membutuhkan pertolongan ketika alam berubah menjadi kekuatan yang tak terduga.
Membangun Respons yang Cepat dan Saling Melengkapi
Koordinator HADR, Kolonel Lek Panca Dianto, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi sarana untuk membangun kemampuan merespons bencana secara cepat, terkoordinasi, dan saling melengkapi antarelemen.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan utama dalam operasi kemanusiaan bukan hanya terletak pada kapasitas satu institusi, melainkan pada kemampuan seluruh unsur mengintegrasikan keunggulannya masing-masing.
TNI memiliki kapasitas pengerahan personel dan dukungan logistik, Polri memiliki kemampuan pengamanan dan pengelolaan situasi di lapangan, Basarnas memiliki kompetensi pencarian dan pertolongan, sementara BPBD menjadi salah satu simpul penting dalam koordinasi penanggulangan bencana di daerah. Dukungan fasilitas kesehatan kemudian menjadi bagian integral dalam memastikan korban memperoleh pertolongan medis secara tepat.
Dengan demikian, HADR dapat dipandang sebagai laboratorium interoperabilitas—sebuah ruang latihan untuk menguji seberapa jauh berbagai kemampuan dapat dipadukan ketika berhadapan dengan krisis kemanusiaan.
Memperkuat Kesiapsiagaan Bersama
Keterlibatan negara mitra dalam HADR SGS 2026 juga memiliki arti strategis. Bencana tidak mengenal batas administratif maupun geopolitik. Gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, maupun bencana hidrometeorologi lainnya dapat berkembang menjadi keadaan darurat yang membutuhkan mobilisasi sumber daya dalam skala besar.
Karena itu, kemampuan bekerja bersama menjadi aset penting dalam menghadapi ancaman nonmiliter yang berdampak langsung terhadap keselamatan manusia.
Latihan HADR SGS 2026 diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan bersama sekaligus meningkatkan kemampuan TNI dan negara-negara mitra dalam menjalankan misi kemanusiaan serta penanggulangan bencana secara terpadu.
Lebih jauh, latihan ini memperlihatkan perubahan paradigma dalam menghadapi bencana: dari sekadar bereaksi setelah kejadian menjadi membangun kesiapan sebelum krisis terjadi.
Di tengah lanskap kebencanaan yang semakin kompleks, kesiapsiagaan bukan sekadar slogan. Ia adalah investasi kemanusiaan, sebuah ikhtiar agar ketika bencana datang, tidak ada waktu yang terbuang untuk mencari siapa yang harus bergerak dan bagaimana harus bertindak.(LW.ID)

