TASIKMALAYA, LenteraWayracana.id — Di tengah perubahan zaman yang bergerak semakin cepat, masyarakat Desa Sukamahi, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, memilih merawat satu tradisi yang tidak sekadar bersifat seremonial: memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai ruang refleksi, silaturahmi, sekaligus penguatan nilai-nilai keagamaan.
Momentum tersebut diwujudkan melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah yang digelar oleh Majelis Taklim Nurul Huda bersama masyarakat Desa Sukamahi, Jumat (4/9/2026).
Kegiatan tersebut dipimpin oleh Ketua Majelis Taklim Nurul Huda, Wawan Hermawan, dengan menghadirkan KH. Tutang Abdul Basit sebagai penceramah.
Desa Sukamahi sendiri merupakan bagian dari Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Data resmi desa mencatat Sukamahi sebagai salah satu desa di wilayah tersebut.
Maulid Nabi Bukan Sekadar Seremoni

Peringatan Maulid Nabi dalam kehidupan masyarakat memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar mengenang sejarah kelahiran Rasulullah SAW. Ia menjadi ruang sosial tempat nilai agama, kebersamaan, dan tradisi masyarakat bertemu dalam satu momentum.
Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin dinamis, kegiatan keagamaan seperti ini memiliki fungsi penting dalam menjaga kohesi sosial. Warga tidak hanya hadir sebagai jamaah, tetapi juga sebagai bagian dari komunitas yang membangun interaksi, memperkuat silaturahmi, dan merawat ingatan kolektif tentang pentingnya keteladanan.
Dalam perspektif sosial-keagamaan, tradisi tersebut dapat dipahami sebagai bentuk transmisi nilai dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Pesan tentang akhlak, kepedulian, persaudaraan, dan kehidupan bermasyarakat menjadi lebih mudah diterima ketika disampaikan melalui ruang sosial yang dekat dengan keseharian warga.
KH. Tutang Abdul Basit Hadir sebagai Penceramah
Kehadiran KH. Tutang Abdul Basit memberikan dimensi edukatif dalam rangkaian kegiatan tersebut. Melalui tausiah Maulid Nabi, masyarakat mendapatkan ruang untuk kembali menempatkan figur Rasulullah Muhammad SAW sebagai teladan dalam kehidupan.
Keteladanan Nabi tidak berhenti pada aspek ritual keagamaan. Ia juga berkaitan dengan bagaimana manusia membangun hubungan sosial: menghormati sesama, menjaga persaudaraan, mengedepankan kejujuran, serta menghadirkan kemaslahatan di tengah masyarakat.
Karena itu, Maulid Nabi idealnya tidak berhenti ketika acara selesai. Nilai yang disampaikan dalam majelis justru memperoleh makna ketika diterjemahkan ke dalam perilaku sehari-hari.
Dari Majelis Taklim ke Ruang Kebersamaan
Majelis Taklim Nurul Huda bersama masyarakat Desa Sukamahi memperlihatkan bahwa ruang keagamaan di tingkat akar rumput masih memiliki posisi strategis dalam kehidupan sosial.
Majelis taklim bukan hanya tempat berlangsungnya pengajian, tetapi dapat menjadi simpul perjumpaan masyarakat. Di ruang semacam inilah komunikasi sosial tumbuh, hubungan antarmasyarakat dipererat, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar dapat terus dipupuk.
Keterlibatan masyarakat dalam peringatan Maulid Nabi juga memperlihatkan adanya modal sosial yang penting bagi sebuah komunitas. Ketika masyarakat mampu berkumpul dalam satu tujuan yang positif, perbedaan latar belakang dapat menemukan titik temu dalam semangat kebersamaan.
Merawat Tradisi, Menjaga Nilai
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Desa Sukamahi pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah agenda keagamaan. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi cermin bagaimana masyarakat menjaga kesinambungan tradisi sekaligus menjadikannya relevan dengan kehidupan masa kini.
Tradisi yang hidup bukanlah tradisi yang sekadar diulang, melainkan tradisi yang mampu menghadirkan makna baru bagi generasi yang menjalaninya.
Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial, nilai-nilai keteladanan Nabi Muhammad SAW menjadi semacam jangkar moral, menjaga masyarakat agar tidak kehilangan orientasi kemanusiaan di tengah perubahan zaman.
Dari sebuah majelis sederhana di tengah masyarakat, pesan itu kembali ditegaskan: bahwa memperingati kelahiran Nabi bukan hanya mengenang sosok besar dalam sejarah Islam, tetapi juga menghidupkan kembali nilai akhlak dan persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari. (Abd A’la)

