TOLITOLILenteraWayracana.id |– Aktivitas perdagangan antar pulau dan jasa Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) menjadi bagian penting dalam denyut perekonomian Kabupaten Tolitoli. Persoalan yang menyangkut kedua sektor tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan hearing DPRD Kabupaten Tolitoli, Jumat (7/8/2026).
Hearing tersebut menjadi ruang dialog untuk mendorong terciptanya keadilan bagi pelaku usaha pedagang antar pulau sekaligus penyedia jasa TKBM yang selama ini menjadi mata rantai penting dalam pergerakan barang dari Tolitoli menuju sejumlah wilayah di Kalimantan.
Anggota DPRD Kabupaten Tolitoli, Jemi Yusuf, menilai keberadaan kapal Pelni Sabuk Nusantara memiliki arti strategis bagi konektivitas ekonomi antarpulau. Jalur pelayaran yang menghubungkan Tolitoli dengan Tarakan serta sejumlah daerah di Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur bukan sekadar sarana transportasi, tetapi juga menjadi jembatan ekonomi yang menghubungkan sentra produksi dengan pasar.
Dalam perspektif ekonomi wilayah, konektivitas laut merupakan infrastruktur yang memungkinkan komoditas bergerak dari daerah surplus menuju daerah yang memiliki permintaan. Ketika arus barang semakin lancar, maka peluang terbentuknya rantai nilai baru pun semakin terbuka.
Kondisi tersebut dirasakan terutama oleh sektor pertanian, peternakan, perkebunan dan perikanan Tolitoli. Produk yang sebelumnya memiliki keterbatasan pasar kini mempunyai peluang menjangkau konsumen yang lebih luas di wilayah Kalimantan.

“Semakin meningkatnya permintaan pasar Kalimantan atas produk pertanian, membuka peluang usaha rantai distribusi melalui para pelaku usaha UMKM pedagang antar pulau,” ujar Jemi Yusuf.
Namun, di balik bergeraknya komoditas dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain, terdapat pekerja dan pelaku usaha yang menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem tersebut. Mereka adalah tenaga bongkar muat yang memastikan barang dapat berpindah dari kapal menuju daratan maupun sebaliknya.
Jasa TKBM di Pelabuhan Dede, Pelabuhan Ferry Tanjung Batu dan Pelabuhan Tradisional Haji Hayun Tolitoli menjadi salah satu simpul penting dalam rantai distribusi tersebut.
Karena itu, hubungan antara pedagang antar pulau dan penyedia jasa bongkar muat tidak semestinya dilihat semata-mata dari perspektif transaksi ekonomi. Keduanya merupakan bagian dari satu ekosistem yang saling membutuhkan.
Pedagang membutuhkan layanan bongkar muat agar distribusi komoditas berjalan efisien. Sebaliknya, TKBM membutuhkan aktivitas perdagangan dan distribusi yang sehat agar lapangan pekerjaan serta sumber penghidupan tetap berkelanjutan.
Di titik inilah prinsip keadilan menjadi penting.
Menurut Jemi, hubungan kemitraan antara pelaku usaha pedagang antar pulau dan TKBM perlu dibangun dalam suasana yang saling menguntungkan, transparan dan kondusif. Tujuannya bukan hanya menyelesaikan persoalan sesaat, tetapi menciptakan fondasi hubungan usaha yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
Secara lebih luas, dinamika perdagangan Tolitoli–Kalimantan menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah tidak hanya ditentukan oleh produksi, tetapi juga oleh kemampuan daerah membuka akses pasar dan membangun sistem distribusi yang efisien.
Komoditas pertanian dan perikanan yang melimpah tanpa pasar yang memadai berpotensi kehilangan nilai ekonominya. Sebaliknya, ketika konektivitas transportasi, perdagangan antar pulau dan jasa logistik berjalan harmonis, komoditas lokal dapat memperoleh nilai tambah sekaligus membuka ruang ekonomi bagi masyarakat.
Dengan demikian, keberadaan kapal Sabuk Nusantara dapat dipandang sebagai salah satu urat nadi konektivitas ekonomi antarpulau. Sementara pedagang antar pulau dan TKBM merupakan aktor yang menghidupkan urat nadi tersebut di tingkat lokal.
Di balik aktivitas bongkar muat yang tampak sederhana, sesungguhnya terdapat rantai ekonomi yang panjang: petani menghasilkan komoditas, pedagang menghubungkan dengan pasar, tenaga bongkar muat memastikan barang bergerak, sementara transportasi laut menjadi penghubung antardaerah.
Jika seluruh mata rantai tersebut berjalan secara adil dan proporsional, manfaat ekonominya tidak berhenti pada pelaku usaha tertentu, tetapi dapat mengalir kepada masyarakat yang lebih luas.
“Semoga hubungan saling menguntungkan dan membutuhkan antara pelaku usaha pedagang antar pulau dan penyedia jasa bongkar muat yang diwadahi oleh TKBM Kabupaten Tolitoli dapat berjalan lancar dan saling menguntungkan,” kata Jemi.
Harapan tersebut pada akhirnya bermuara pada satu agenda yang lebih besar: menciptakan iklim berusaha dan investasi yang kondusif bagi pertumbuhan sektor pertanian berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisi Tolitoli sebagai bagian dari jaringan perdagangan antarpulau.
Sebab, ekonomi daerah tidak tumbuh hanya dari besarnya produksi. Ia tumbuh ketika produksi menemukan pasar, distribusi menemukan jalannya, pekerja memperoleh ruang penghidupan, dan seluruh mata rantai ekonomi dapat bergerak dalam prinsip keadilan.
Sumber: Jemi Yusuf, Anggota DPRD Kabupaten Tolitoli. (LW.ID)

