TOLITOLI, LenteraWayracana.id | — Upacara penurunan Bendera Merah Putih dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Tolitoli berlangsung khidmat, tertib, dan penuh nuansa patriotisme di Lapangan Hi Hayun, Senin (17/8/2026) sore.
Di balik keteraturan setiap gerakan pasukan, terdapat sosok yang memegang peranan sentral dalam mengendalikan jalannya upacara. Dia adalah IPTU Lexy Tumonglo, SH, perwira yang dipercaya Polres Tolitoli sebagai Komandan Upacara penurunan Sang Saka Merah Putih.
Sekitar pukul 17.00 WITA, sebelum Inspektur Upacara tiba di lokasi, IPTU Lexy telah lebih dahulu memasuki lapangan. Sebagai Komandan Upacara, ia mengambil alih komando pasukan sekaligus memastikan kesiapan barisan. Setiap aba-aba disampaikan dengan suara tegas, artikulasi jelas, serta gestur yang mencerminkan ketenangan seorang pemimpin lapangan.
Tugas tersebut bukan sekadar persoalan berdiri tegap dan memberikan aba-aba. Dalam perspektif tata upacara, seorang komandan dituntut memiliki penguasaan Peraturan Baris-Berbaris (PBB), kemampuan komunikasi komando, konsentrasi tinggi, serta kecakapan menjaga ritme dan disiplin pasukan.
Kualitas tersebut terlihat dalam kepemimpinan IPTU Lexy sepanjang prosesi berlangsung.

Lulusan Sekolah Inspektur Polisi Angkatan 49
Secara profesional, IPTU Lexy Tumonglo, SH merupakan lulusan Sekolah Inspektur Polisi (SIP) Angkatan 49 Tahun 2020. Angkatan tersebut dikenal dengan nama Resimen Wira Adhibrata Sanskara.
Pengalaman pendidikan kepolisian tersebut menjadi salah satu fondasi yang menunjang kemampuannya dalam menjalankan tugas sebagai Komandan Upacara.
Dalam sebuah upacara kenegaraan, ketepatan gerakan dan aba-aba memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar formalitas. Setiap instruksi merupakan bagian dari orkestrasi kedisiplinan—menyatukan gerak banyak orang menjadi satu kesatuan yang terukur, presisi, dan serempak.
Karena itu, postur tegap, suara lantang, penguasaan PBB, ketenangan mental, serta kewibawaan menjadi instrumen penting yang harus dimiliki seorang Komandan Upacara.
Ketegasan yang Berpadu dengan Ketenangan
IPTU Lexy yang sehari-hari menjabat sebagai Kasat Reserse Narkoba Polres Tolitoli menunjukkan karakter tersebut saat memimpin prosesi penurunan bendera.
Tidak tampak keraguan dalam setiap aba-aba. Suaranya terdengar jelas di tengah suasana lapangan yang dipenuhi peserta upacara dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Kemampuan mengendalikan situasi secara tenang menjadi salah satu kunci. Sebab, kesalahan kecil dalam komando dapat memengaruhi kesinambungan rangkaian upacara.
Dalam konteks inilah, penampilan IPTU Lexy bukan hanya memperlihatkan kemampuan teknis, tetapi juga menghadirkan dimensi kepemimpinan: bagaimana seorang perwira menjaga konsentrasi, mengendalikan pasukan, dan mempertahankan wibawa dalam situasi yang sarat simbol kebangsaan.
Profesionalisme di Balik Seragam
Sosok IPTU Lexy juga memiliki kehidupan keluarga sebagai seorang ayah dari dua anak, putra dan putri, bersama istrinya, Evanny S. Tambing.
Di luar tugas kedinasan, kehidupan keluarga menjadi bagian lain dari perjalanan seorang anggota Polri. Namun ketika mengenakan seragam dan menerima mandat sebagai Komandan Upacara, seluruh perhatian diarahkan pada tanggung jawab negara yang dipercayakan kepadanya.
Penurunan Bendera Merah Putih kemudian berlangsung dengan tertib hingga seluruh rangkaian upacara selesai. Kehadiran Bupati dan Wakil Bupati Tolitoli, Kapolres Tolitoli, Forkopimda, serta peserta dari berbagai instansi menambah bobot seremonial sekaligus kebangsaan dalam kegiatan tersebut.
Upacara berakhir dalam suasana aman dan kondusif.
Bagi IPTU Lexy Tumonglo, tugas tersebut mungkin hanya berlangsung dalam hitungan menit. Namun secara simbolik, setiap aba-aba yang ia kumandangkan menjadi bagian dari ritual kebangsaan yang mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan sekadar tanggal dalam kalender.
Ia adalah ingatan kolektif, penghormatan kepada para pejuang, sekaligus pesan kepada generasi berikutnya bahwa merah putih harus terus dijaga dengan disiplin, pengabdian, dan tanggung jawab.
(Armen Djaru )

