Lenterawayracana.id | Pinrang, 15 Mei 2026 – Polemik genangan air yang merendam sekitar lima hektar sawah di Desa Marawi, Kecamatan Tiroang, akhirnya mendapat titik terang. Klarifikasi resmi menyebutkan bahwa peristiwa tersebut bukan disebabkan oleh kelalaian petugas pintu air, melainkan akibat faktor alam yang melampaui kapasitas sistem irigasi.

Berdasarkan hasil koordinasi lapangan pada Jumat (15/5), genangan yang terjadi di area persawahan Jl. Libukang dipicu oleh curah hujan ekstrem sejak Rabu (13/5) sore. Intensitas hujan yang tinggi dalam waktu relatif singkat menyebabkan volume air meningkat drastis, hingga melampaui daya tampung saluran irigasi yang tersedia.
Secara ilmiah, kondisi ini dapat dikategorikan sebagai runoff surge, yakni lonjakan limpasan air permukaan akibat tanah tidak lagi mampu menyerap air hujan secara optimal. Dalam situasi demikian, sistem irigasi, yang dirancang berdasarkan kapasitas normal, akan mengalami tekanan berlebih, sehingga genangan menjadi sulit dihindari.
Di sisi lain, petugas pintu air disebut telah menjalankan tugas sesuai prosedur operasional standar (SOP). Pembukaan pintu air dilakukan pada Kamis (14/5) dini hari, menyesuaikan dengan kondisi debit air di wilayah hulu. Langkah tersebut diambil untuk mencegah dampak yang lebih luas, termasuk potensi banjir di wilayah hilir.
Hasil penelusuran sementara juga tidak menemukan indikasi adanya kelalaian maupun keterlambatan yang disengaja. Proses pengambilan keputusan di lapangan dinilai telah mempertimbangkan aspek teknis dan keselamatan wilayah secara menyeluruh.


Meski demikian, dampak genangan tetap dirasakan oleh para petani. Beberapa di antaranya mengaku khawatir terhadap potensi gagal panen, mengingat fase pertumbuhan padi yang cukup sensitif terhadap kelebihan air. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa sektor pertanian sangat bergantung pada stabilitas iklim dan infrastruktur pendukung yang adaptif.
Sebagai bentuk tanggung jawab jurnalistik, redaksi menyampaikan permohonan maaf atas pemberitaan awal yang sempat menimbulkan dugaan kelalaian petugas. Klarifikasi ini diharapkan dapat meluruskan informasi yang beredar serta menjaga objektivitas dan kepercayaan publik terhadap pemberitaan.
Ke depan, peristiwa ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sistem mitigasi bencana berbasis lingkungan, termasuk peningkatan kapasitas irigasi dan sistem peringatan dini terhadap cuaca ekstrem.
(Mamad)

