TOLITOLI,LenteraWayracana.id | — Peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia menjadi momentum penting bagi Masyarakat Adat Dondo untuk meneguhkan kembali identitas, tradisi, serta warisan kebudayaan yang diwariskan para leluhur dari generasi ke generasi.

Peringatan tersebut diisi dengan hiburan masyarakat adat yang menampilkan beragam seni tari adat dan ekspresi budaya Suku Dondo. Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan, sekaligus menjadi ruang publik bagi masyarakat untuk merawat ingatan kolektif tentang akar budaya mereka.
Di tengah derasnya arus modernisasi, pertunjukan seni tradisional tidak sekadar hadir sebagai hiburan. Ia merupakan bahasa kebudayaan yang menyimpan narasi sejarah, nilai sosial, filosofi kehidupan, serta kearifan lokal masyarakat adat.
Gerak tari, irama musik, busana tradisional, dan berbagai simbol yang ditampilkan menjadi semacam arsip hidup yang merekam perjalanan panjang masyarakat Dondo. Dalam perspektif kebudayaan, keberadaan seni tradisi memiliki fungsi strategis sebagai medium transmisi pengetahuan antargenerasi.
Karena itu, peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia bagi Masyarakat Adat Dondo memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar seremoni. Momentum tersebut menjadi refleksi bahwa kemajuan zaman tidak harus berujung pada terputusnya hubungan manusia dengan akar budayanya.

Merawat Identitas di Tengah Perubahan Zaman
Kebudayaan pada hakikatnya merupakan ruang tempat sebuah komunitas mengenali dirinya. Ketika tradisi masih dipraktikkan, dipelajari, dan diwariskan, maka identitas masyarakat tetap memiliki pijakan yang kuat.
Bagi masyarakat Dondo, seni tari dan budaya adat menjadi salah satu instrumen untuk menjaga kesinambungan tersebut. Anak-anak dan generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengenali simbol, nilai, dan filosofi yang terkandung dalam kebudayaan leluhur.
Dari perspektif ilmiah populer, proses pewarisan budaya semacam ini merupakan bagian dari mekanisme reproduksi sosial. Pengetahuan yang sebelumnya hidup melalui pengalaman para tetua kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya melalui praktik, cerita, ritual, seni, dan interaksi sosial.
Di sinilah seni tradisional memperoleh relevansinya. Ia tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga menjadi jembatan menuju masa depan.
Dari Panggung Budaya Menuju Kesadaran Kolektif
Panggung hiburan masyarakat adat yang menghadirkan seni tari dan budaya Suku Dondo memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan cara yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Suasana kebersamaan yang tercipta menunjukkan adanya ikatan sosial yang masih hidup. Masyarakat berkumpul, menyaksikan pertunjukan, dan merayakan kebudayaan mereka sendiri. Ada kebanggaan yang tumbuh dari kesadaran bahwa mereka memiliki warisan budaya yang khas dan bernilai.
Secara analitis, kegiatan seperti ini juga memiliki potensi menjadi instrumen penguatan kohesi sosial. Ketika masyarakat bersama-sama merawat tradisi, batas-batas individual melebur dalam sebuah identitas kolektif.
Namun, tantangan pelestarian budaya tidak berhenti pada penyelenggaraan pertunjukan. Dibutuhkan kesinambungan melalui pendidikan budaya, dokumentasi, keterlibatan generasi muda, serta ruang yang memadai bagi masyarakat adat untuk mengembangkan dan memperkenalkan kebudayaannya.
Sebab, budaya yang hanya dipertontonkan tanpa diwariskan berisiko menjadi sekadar artefak. Sebaliknya, budaya yang terus dipraktikkan akan tetap menjadi denyut kehidupan masyarakat.
Peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia akhirnya menjadi pengingat bahwa menjaga adat bukan berarti menolak perubahan. Justru, masyarakat adat dapat berjalan mengikuti zaman sembari tetap membawa kompas identitasnya.
Bagi Masyarakat Adat Dondo , seni tari dan budaya yang dipentaskan adalah bahasa yang tak lekang oleh waktu—sebuah pesan dari leluhur bahwa identitas harus dirawat, bukan sekadar dikenang. (LW.ID)

