Lenterawayracana id | Kabupaten Tangerang – Momentum peringatan Milad ke-1 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) II Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Indonesia (TTKKBI) Kabupaten Tangerang tidak sekadar menjadi ajang seremonial, tetapi juga merepresentasikan upaya konkret pelestarian budaya lokal di tengah dinamika modernitas.

Kegiatan yang dirangkaikan dengan Halal Bihalal ini digelar pada Sabtu malam (4/4/2026) di kediaman Ketua DPW II Kabupaten Tangerang, Yaman Kalahideng, Kampung Cibebek, Desa Klebet, Kecamatan Kemiri. Sejak pukul 20.00 WIB, suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti jalannya acara, mencerminkan kuatnya kohesi sosial antaranggota dan tamu undangan.
Secara sosiokultural, kegiatan ini menjadi ruang interaksi lintas elemen, mulai dari pemerintah, aparat keamanan, hingga organisasi kemasyarakatan. Hadir dalam kesempatan tersebut Camat Kemiri Rudi Hadikarsono, perwakilan Dispora Kabupaten Tangerang, Asisten Daerah (Asda) III mewakili Bupati Tangerang, unsur TNI-Polri, serta pengurus TTKKBI dari berbagai wilayah.
Dalam perspektif deskriptif-analitis, kehadiran beragam aktor ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak berdiri sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi multisektor. Seni bela diri tradisional seperti Tjimande bukan hanya warisan fisik, tetapi juga mengandung nilai-nilai filosofis seperti kedisiplinan, solidaritas, dan identitas kolektif masyarakat Banten.
Ketua DPW II TTKKBI Kabupaten Tangerang, Yaman Kalahideng, dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjaga kesinambungan budaya leluhur di tengah arus globalisasi. Ia menilai organisasi yang dipimpinnya bukan sekadar wadah silat, tetapi juga ruang pembinaan karakter dan penguatan jejaring sosial.
Sementara itu, Camat Kemiri Rudi Hadikarsono memberikan apresiasi atas konsistensi TTKKBI dalam menjaga nilai-nilai budaya lokal. Ia menekankan bahwa pelestarian budaya memiliki relevansi dengan pembangunan sosial, terutama dalam menciptakan masyarakat yang harmonis dan berkarakter.

“Budaya adalah fondasi identitas. Ketika budaya dijaga, maka stabilitas sosial juga akan ikut terbangun,” ujarnya.
Dari sudut pandang human interest, kegiatan ini juga memperlihatkan sisi emosional kebersamaan. Interaksi hangat antaranggota, silaturahmi lintas daerah, serta keterlibatan organisasi masyarakat seperti GRIB, Pemuda Pancasila, PPBNI, dan BPPKB menjadi bukti bahwa nilai gotong royong masih hidup dan berkembang.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah, mempertegas semangat persatuan yang menjadi inti dari kegiatan tersebut.
Kehadiran TTKKBI dalam ruang sosial masyarakat Kabupaten Tangerang pada akhirnya tidak hanya berfungsi sebagai penjaga tradisi, tetapi juga sebagai agen pemersatu di tengah keberagaman.
Sumber: Forum Jurnalis Kecamatan Kemiri (FJak)
Editor: Yudi Sayuti
