BUTON UTARA – Aktivitas melaut bagi Mudi (53), nelayan tradisional asal Kelurahan Bangkudu, Kecamatan Kulisusu, Kabupaten Buton Utara, Sulawesi Tenggara, justru dimulai ketika intensitas cahaya matahari menurun. Sekitar pukul 16.00 WITA, ia rutin mendorong perahu kayu sederhana untuk memulai penangkapan ikan hingga menjelang tengah malam.
Dalam praktik perikanan skala kecil, Mudi mengandalkan pengetahuan ekologi lokal (local ecological knowledge) untuk menangkap ikan karang yang umumnya berasosiasi dengan ekosistem perairan dangkal, seperti padang lamun dan terumbu karang. Namun, variabilitas cuaca laut menjadi faktor pembatas utama. Saat kecepatan angin meningkat dan gelombang melebihi ambang aman, kawasan mangrove menjadi zona perlindungan alami yang kerap ia manfaatkan.
Kondisi tersebut menggambarkan realitas nelayan pesisir yang berada pada posisi rentan terhadap perubahan lingkungan laut dan iklim. Meski demikian, Mudi tetap memegang tujuan jangka panjang yang bersifat sosial-edukatif.
“Saya ingin anak-anak bisa sekolah setinggi mungkin,” ujarnya,
menegaskan bahwa aktivitas melaut baginya bukan sekadar pemenuhan ekonomi harian, tetapi juga investasi sumber daya manusia.
Ia berharap kebijakan pemerintah terkait bantuan nelayan dapat lebih berbasis data dan tepat sasaran, khususnya bagi nelayan tradisional yang bergantung penuh pada sumber daya pesisir. Menurutnya, intervensi yang akurat akan memperkuat ketahanan sosial-ekonomi masyarakat nelayan sekaligus mencegah terjadinya marginalisasi kelompok pesisir.
(Achmad Irawan)

