TOLITOLI | lenterawayracana.id | – Upacara pedang pora di Mapolres Tolitoli berubah menjadi momen perpisahan yang menguras emosi. Tangis tak terbendung, pelukan erat, dan hujan yang turun perlahan menyatu dalam satu peristiwa penuh makna saat AKBP Wayan Wayracana Aryawan, S.I.K., resmi mengakhiri masa tugasnya sebagai Kapolres Tolitoli dan melangkah menuju amanah baru sebagai Kapolres Banggai.
Prosesi sakral tersebut dipimpin Kapolres Tolitoli AKBP Raden Real Mahendra, S.H., S.I.K., didampingi Wakapolres Tolitoli Kompol Alfius Parangi, S.H., serta dihadiri para Pejabat Utama (PJU), perwira staf, seluruh Kapolsek jajaran, personel Polres Tolitoli, dan Bhayangkari.
Namun, dalam prosesi pedang pora, hanya para perwira yang membentuk barisan kehormatan, mengelilingi AKBP Wayan Wayracana Aryawan sebagai simbol pengawalan terakhir dari institusi.
Lingkaran pedang pora terbentuk dengan rapi, menciptakan ruang simbolik yang sarat makna. Dalam perspektif sosiologis, lingkaran tersebut merepresentasikan proteksi, penghormatan, dan ikatan kolektif antara pemimpin dan anggota. Setelah prosesi berjalan khidmat, AKBP Wayan Wayracana Aryawan perlahan melangkah keluar dari lingkaran pedang pora, sebuah gestur simbolik yang menandai transisi kepemimpinan dan akhir pengabdian di Bumi Cengkeh.
Saat melangkah keluar, suasana emosional tak lagi terbendung. AKBP Wayan Wayracana Aryawan menyalami satu per satu mantan anak buahnya. Pelukan pun terjalin, erat dan tulus, menggambarkan kedekatan emosional yang terbangun selama masa kepemimpinannya. Dalam kajian psikologi organisasi, fenomena ini dikenal sebagai affective commitment, yakni keterikatan emosional anggota terhadap pemimpin yang dianggap adil, humanis, dan inspiratif.
Air mata menetes tanpa terasa di pipi para anggota. Wajah-wajah tegar aparat negara seketika luluh oleh rasa kehilangan. Bahkan hingga menuju pintu gerbang Mapolres Tolitoli, AKBP Wayan Wayracana Aryawan terus menerima salam, jabat tangan, dan pelukan perpisahan yang sarat empati.
Di gerbang Mapolres, prosesi pedang pora kembali dibentangkan. Para perwira kembali berdiri tegap, mengangkat pedang sebagai penghormatan terakhir sebelum sang perwira menengah Polri itu melangkah menuju kendaraan dinas. Langkahnya mantap, namun suasana batin di sekelilingnya diliputi kesedihan mendalam.

Setelah memasuki mobil, AKBP Wayan Wayracana Aryawan bersama Ketua Bhayangkari Cabang Tolitoli Ny. Made Wayan perlahan meninggalkan Mapolres. Mobil bergerak menjauh, membawa sosok pemimpin yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan Polres Tolitoli. Sementara itu, para mantan anggota yang ditinggalkan tak lagi mampu menyembunyikan air mata.
Hujan pun turun membasahi halaman Mapolres, seolah alam turut bersedih dan menangis. Dalam sudut pandang simbolik, hujan menjadi metafora duka dan keharuan kolektif, menyatu dengan perasaan kehilangan yang dirasakan seluruh keluarga besar Polres Tolitoli.
Peristiwa ini menegaskan bahwa mutasi jabatan di tubuh Polri bukan semata proses administratif, melainkan peristiwa sosial yang sarat nilai kemanusiaan. Kepemimpinan yang dilandasi keteladanan, empati, dan integritas akan selalu meninggalkan jejak emosional yang mendalam, bahkan setelah langkah kaki sang pemimpin meninggalkan tempat pengabdian.
Pedang pora pun berakhir, namun kenangan dan keteladanan AKBP Wayan Wayracana Aryawan akan terus hidup di hati para mantan anak buahnya, sebagaimana hujan yang membasahi bumi—sunyi, namun penuh makna.
Editor Redaksi.
