LENTERAWAYRACANA.ID, JAKARTA – Diplomasi perdamaian tidak hanya dibangun melalui meja perundingan, tetapi juga melalui kesiapan personel, kecakapan operasional, dan pengabdian nyata di wilayah konflik. Prinsip inilah yang diperlihatkan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI (PMPP TNI) saat menerima kunjungan diplomat dari delapan negara dalam program Diplomat Tour Kementerian Luar Negeri RI, Selasa (27/10/2026).

Kunjungan yang berlangsung pada 26–28 Oktober 2026 di sejumlah lokasi di Jakarta dan sekitarnya tersebut menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan kemampuan Indonesia dalam menyiapkan prajurit bagi misi pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Delapan negara yang mengirimkan perwakilan ialah Eritrea, Tanzania, Saint Kitts dan Nevis, Bahama, Dominika, Nauru, Mikronesia, dan Tajikistan.

Memperkuat Diplomasi melalui Kapasitas Pertahanan
Mengacu pada keterangan Pusat Penerangan TNI (Puspen TNI), kegiatan diawali dengan penyambutan delegasi di Hall Mancanegara PMPP TNI, pemutaran video profil lembaga, serta sambutan Komandan PMPP TNI Mayjen TNI Iwan Bambang Setiawan, S.I.P., dan Wakil Tetap Republik Indonesia untuk PBB, Umar Hadi.


Agenda tersebut memperlihatkan bahwa diplomasi pertahanan tidak semata-mata bertumpu pada komunikasi politik, melainkan juga pada kemampuan institusi dalam membuktikan kesiapan sumber daya manusia, sistem pelatihan, dan dukungan operasional bagi misi internasional.
Bagi Indonesia, partisipasi dalam misi perdamaian PBB merupakan salah satu instrumen untuk memperkuat kontribusi terhadap stabilitas global. Profesionalisme personel menjadi faktor penting karena tugas penjaga perdamaian menuntut disiplin, ketepatan prosedur, serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan penugasan yang kompleks.
Penghormatan kepada Prajurit dan Demonstrasi EOD
Suasana khidmat mewarnai peletakan karangan bunga di Patung Peacekeeper. Prosesi tersebut menjadi penghormatan kepada prajurit TNI yang gugur ketika menjalankan tugas pemeliharaan perdamaian, sekaligus mengingatkan bahwa kontribusi terhadap keamanan dunia memiliki dimensi kemanusiaan dan pengorbanan.
Delegasi kemudian meninjau fasilitas serta area latihan PMPP TNI. Salah satu agenda utama ialah demonstrasi Explosive Ordnance Disposal (EOD), yakni kemampuan penanganan dan penjinakan bahan peledak, oleh personel Satgas Kizi TNI Konga XXXVII-M MINUSCA CAR yang dipersiapkan untuk bertugas di Republik Afrika Tengah.
Demonstrasi tersebut memberikan gambaran konkret mengenai kesiapan teknis personel dalam menghadapi risiko di wilayah misi. Dalam operasi perdamaian, kemampuan semacam ini berperan penting untuk mendukung keselamatan personel dan pelaksanaan mandat di lapangan.
Kegiatan turut dihadiri perwakilan pejabat Kementerian Luar Negeri RI beserta staf dan para pejabat utama PMPP TNI.
Lebih dari sekadar kunjungan institusional, agenda ini menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk menunjukkan bahwa komitmen terhadap perdamaian dunia harus ditopang oleh kompetensi, kesiapan, dan pengabdian. Kepercayaan internasional pada akhirnya tidak hanya dibangun melalui pernyataan, tetapi juga melalui kemampuan yang dapat dibuktikan.


