Lentera Wayracana.id | Tolitoli — Di penghujung bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Komisariat Daerah (Komda) Alkhairaat Kabupaten Tolitoli menggelar kegiatan Safari Ramadhan sebagai bagian dari strategi dakwah yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga konsolidatif dan transformatif.


Berdasarkan surat penugasan Nomor 06/Komda-Alkh/Tli/III/2026 tertanggal 10 Maret 2026, tim Safari Ramadhan diterjunkan untuk menyambangi empat kecamatan dan enam desa/kelurahan di wilayah Kabupaten Tolitoli. Kegiatan ini dirancang sebagai upaya memperkuat kohesi sosial umat sekaligus memantau perkembangan pendidikan di bawah naungan Perguruan Islam Alkhairaat.

Ketua Komda Alkhairaat Tolitoli, Jemi Yusuf, menjelaskan bahwa safari dakwah ini memiliki dimensi strategis dalam membangun komunikasi dua arah antara ulama dan masyarakat.
“Safari ini bukan sekadar rutinitas keagamaan, tetapi menjadi ruang refleksi kolektif untuk membaca dinamika keumatan dan pendidikan Islam di daerah,” ujarnya.
Tim dakwah dipimpin oleh KH. Faletehan, LC, MA yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tolitoli. Ia didampingi sejumlah dai dan ulama, di antaranya Drs. KH. Makmur Mohammad, M.Pd.I, Ustaz Abriansyah, LC, MH, KH. Husni Mubarak, LC, Ustaz Aslam Abubakar, serta Ustaz Adam, S.Ag.
Dalam pendekatan deskriptif-analitis, kegiatan ini mencerminkan model dakwah partisipatif yang mengedepankan interaksi langsung dengan masyarakat. Para Da’i tidak hanya menyampaikan ceramah keagamaan, tetapi juga menyerap aspirasi lokal, mengidentifikasi tantangan pendidikan, serta mendorong penguatan nilai-nilai keislaman sebagai basis pembangunan sosial.

Secara naratif faktual, rangkaian kegiatan berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kehangatan. Di sejumlah titik kunjungan, masyarakat menyambut tim safari dengan antusias, menunjukkan tingginya kebutuhan akan sentuhan spiritual sekaligus bimbingan keagamaan yang kontekstual.
Dari sisi human interest, interaksi antara Da’i dan masyarakat memperlihatkan kedekatan emosional yang kuat. Tidak sedikit warga yang memanfaatkan momentum ini untuk berkonsultasi terkait persoalan keagamaan, pendidikan anak, hingga kehidupan sosial sehari-hari. Hal ini mempertegas bahwa dakwah memiliki fungsi terapeutik sekaligus edukatif dalam kehidupan umat.
Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan dampak berkelanjutan, khususnya dalam meningkatkan kualitas keimanan serta memperkuat komitmen keislaman masyarakat. Dalam perspektif ilmiah populer, penguatan nilai spiritual yang terinternalisasi secara kolektif diyakini berkontribusi terhadap pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter dan berdaya saing.
“Harapannya, materi dakwah yang disampaikan dapat menjadi solusi jalan hidup, sekaligus mendorong kemajuan pendidikan dan pembangunan daerah,” tambah Jemi Yusuf.
Safari Ramadhan Komda Alkhairaat Tolitoli menjadi cerminan bahwa dakwah yang adaptif dan berbasis kebutuhan masyarakat mampu menjadi instrumen penting dalam membangun peradaban umat yang inklusif dan berkelanjutan.
(LW.id)
