Lentera Wayracana.id | Tolitoli — Dinamika kunjungan silaturahmi Menteri Hukum Republik Indonesia, Prof. Dr. Supratman Andi Agtas, S.H., M.H., bersama Wakil Ketua MPR RI, Abcandra Supratman, S.H., di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, menghadirkan dua realitas yang berjalan simultan: antusiasme publik dalam skala besar dan kesiapsiagaan aparat keamanan dalam menjaga stabilitas situasi.
Sejak pukul 13.00 WITA, ribuan masyarakat mulai memadati kawasan Hotel Bumi Harapan Tolitoli. Konsentrasi massa yang tinggi tersebut tidak hanya merepresentasikan euforia terhadap kehadiran tokoh nasional, tetapi juga mencerminkan fenomena sosial berupa penguatan relasi simbolik antara elite politik dan masyarakat. Dalam kerangka sosiologis, kondisi ini dapat dipahami sebagai akumulasi kapital sosial yang terbentuk melalui interaksi berulang, khususnya melalui kegiatan berbagi yang konsisten dilakukan.
Agenda utama berupa pembagian takjil dan bantuan tunai menjadi magnet utama kehadiran masyarakat. Warga dewasa menerima bantuan sebesar Rp100.000, sementara anak-anak memperoleh Rp50.000. Praktik ini tidak sekadar berdimensi karitatif, tetapi juga memiliki implikasi psikososial yang memperkuat rasa keterikatan (sense of belonging) di tengah masyarakat, terutama dalam konteks bulan Ramadan yang sarat nilai solidaritas.
Di tengah eskalasi jumlah massa, peran Polres Tolitoli menjadi determinan utama dalam menjaga situasi tetap aman dan terkendali. Kapolres Tolitoli, AKBP Raden Real Mahendra, S.H., S.I.K., memimpin langsung pengamanan dengan menerapkan strategi kombinatif antara pola terbuka dan tertutup. Pendekatan ini secara konseptual selaras dengan prinsip risk-based security management, di mana identifikasi potensi kerawanan dilakukan secara sistematis berbasis variabel kepadatan, mobilitas, dan dinamika perilaku massa.
Wakapolres Kompol Alfius Parangi, S.H., bersama jajaran pejabat utama turut mengoptimalkan fungsi koordinatif di lapangan. Di antaranya Kasat Intelkam AKP Army Casriyanto, S.H., M.H., Kabag Ops AKP Suprojo, S.H., M.H., serta Kasat Narkoba IPTU Lexy Tumonglo, S.H., yang berperan aktif dalam pemantauan situasi dan penguatan pengamanan di titik-titik krusial.


Distribusi personel dilakukan secara taktis dengan mempertimbangkan pola sebaran massa. Langkah ini merupakan implementasi dari pendekatan crowd control modern yang tidak semata mengedepankan aspek represif, tetapi juga mengintegrasikan dimensi preventif dan persuasif. Dalam praktiknya, aparat kepolisian tampak mengedepankan pendekatan humanis, membantu masyarakat, mengatur antrean, serta memberikan perhatian kepada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Sementara itu, kehadiran Ketua DPC Gerindra Tolitoli, Andi Syarif, yang juga menjabat sebagai Ketua KKSS Tolitoli dan merupakan adik kandung Menteri Hukum, turut memperkuat dimensi kultural dalam kegiatan tersebut. Bersama Wakil Ketua MPR RI, ia ikut terlibat dalam pembagian takjil, menciptakan suasana kebersamaan yang kental.
Kegiatan berlangsung hingga menjelang waktu berbuka puasa dalam kondisi aman, tertib, dan kondusif. Keberhasilan ini tidak hanya mencerminkan profesionalisme aparat kepolisian, tetapi juga menunjukkan efektivitas sinergi antara negara dan masyarakat dalam menjaga stabilitas sosial.
Dalam perspektif analitis, peristiwa ini menegaskan bahwa keamanan publik bukan semata hasil dari kontrol struktural, melainkan juga produk dari interaksi sosial yang harmonis antara aparat dan masyarakat. Pendekatan humanis yang diterapkan Polres Tolitoli menjadi indikator transformasi institusional menuju model kepolisian yang lebih adaptif, responsif, dan berorientasi pada pelayanan publik.
(LW.id)

