Lentera Wayracana.id | Tolitoli — Kegiatan silaturahmi nasional yang menghadirkan Prof. Dr. Supratman Andi Agtas, S.H., M.H. bersama Abcandra Muhammad Akbar Supratman SH, berlangsung khidmat dan penuh kehangatan di Desa Soni, Kecamatan Dampal Selatan, Kabupaten Tolitoli, Selasa (17/3/2026).
Agenda yang dipusatkan di kediaman Darwis Magangka, Dusun Tanjung 1, tersebut dihadiri ratusan warga lintas elemen, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga perangkat desa. Kehadiran dua figur nasional yang memiliki keterkaitan emosional dengan daerah ini memunculkan antusiasme kolektif masyarakat, mencerminkan adanya ikatan sosial yang kuat antara representasi negara dan basis komunitas lokal.
Dalam perspektif sosiologis, kegiatan ini tidak sekadar seremoni, melainkan juga menjadi medium reproduksi nilai-nilai kohesi sosial dan integrasi nasional. Hal tersebut tampak dalam sambutan Abcandra Muhammad Akbar Supratman, S.H., yang menekankan pentingnya persatuan sebagai fondasi utama pembangunan berkelanjutan. Ia juga mengutip pesan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, terkait urgensi memperkuat ukhuwah kebangsaan di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.
Sementara itu, Prof. Dr. Supratman Andi Agtas, S.H., M.H., dalam kapasitasnya sebagai Menteri Hukum RI menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat masyarakat. Ia menegaskan bahwa stabilitas keamanan dan partisipasi publik merupakan prasyarat fundamental dalam mendorong akselerasi pembangunan daerah. Dalam kerangka teoritis governance, hal ini menunjukkan adanya relasi simbiotik antara negara dan masyarakat dalam menciptakan tata kelola yang inklusif.
Di balik suksesnya kegiatan tersebut, terdapat peran strategis aparat keamanan, khususnya jajaran Polsek Dampal Selatan. Kapolsek Dampal Selatan, AKP Haspudin Abd Azis, memimpin langsung pengamanan dengan pendekatan yang mengedepankan prinsip preventif dan humanis. Strategi ini sejalan dengan paradigma community policing, yang menitikberatkan pada kemitraan antara aparat dan masyarakat dalam menjaga keamanan berbasis partisipatif.


Sejak pra-kegiatan hingga penutupan, pengamanan dilakukan secara komprehensif melalui pola terbuka dan tertutup. Hasilnya, seluruh rangkaian acara berlangsung aman, tertib, dan kondusif tanpa adanya gangguan signifikan. Interaksi yang harmonis antara aparat dan masyarakat juga memperlihatkan tingkat kepercayaan publik yang relatif tinggi terhadap institusi keamanan.
Selain agenda utama, kegiatan ini turut diisi dengan aksi sosial berupa penyaluran bantuan kepada sekitar 450 warga. Bantuan tersebut diberikan secara proporsional, yakni Rp50 ribu untuk orang dewasa dan Rp20 ribu bagi anak-anak. Distribusi berlangsung tertib, mencerminkan efektivitas manajemen lapangan yang terorganisir.
Momentum kebersamaan semakin menguat melalui kegiatan ramah tamah dan buka puasa bersama. Secara antropologis, interaksi semacam ini memiliki nilai simbolik dalam mempererat relasi sosial serta memperkuat legitimasi kehadiran negara di tengah masyarakat.
Kegiatan berakhir sekitar pukul 21.45 WITA, kemudian rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kota Tolitoli. Secara keseluruhan, keberhasilan acara ini tidak hanya ditentukan oleh kehadiran tokoh nasional, tetapi juga oleh kesiapan aparat dalam mengelola stabilitas keamanan secara profesional dan adaptif.
Dengan demikian, sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat menjadi indikator penting dalam menciptakan ruang publik yang aman, inklusif, dan berkelanjutan di daerah.
(LW.id)

