Lentera wayracana.id | Tolitoli — Menjelang puncak ibadah bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, kepedulian sosial kembali ditunjukkan oleh Fraksi Golkar DPRD Kabupaten Tolitoli. Pada Selasa, 17 Maret 2026, yang bertepatan dengan hari ke-27 Ramadhan, bantuan pangan berupa beras kemasan disalurkan kepada kelompok masyarakat rentan yang terdampak tekanan ekonomi menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Sebanyak dua ton beras atau setara 400 sak beras program SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) didistribusikan kepada pemulung, warga di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kabinuang, serta para abang becak. Kelompok ini dinilai paling merasakan dampak fluktuasi harga kebutuhan pokok yang cenderung meningkat menjelang Lebaran.
Ketua Fraksi Golkar DPRD Tolitoli, Jemi Yusuf, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk respons nyata terhadap dinamika ekonomi masyarakat bawah.
“Kami melihat adanya tekanan ekonomi yang meningkat, terutama akibat kenaikan harga pangan menjelang Idul Fitri. Bantuan ini diharapkan dapat sedikit meringankan beban masyarakat berpenghasilan rendah,” ujarnya.
Secara deskriptif, fenomena kenaikan harga bahan pokok menjelang hari besar keagamaan merupakan pola berulang dalam sistem distribusi pangan nasional. Dalam perspektif ilmiah populer, kondisi ini dipicu oleh meningkatnya permintaan (demand shock) yang tidak selalu diimbangi oleh kelancaran pasokan (supply chain), sehingga memicu inflasi musiman.
Dalam konteks lokal Tolitoli, kelompok rentan seperti pemulung dan pekerja sektor informal menjadi pihak yang paling terdampak. Pendapatan yang tidak tetap membuat mereka memiliki daya tahan ekonomi yang terbatas terhadap gejolak harga. Oleh karena itu, intervensi sosial seperti pembagian sembako menjadi penting sebagai bentuk “shock absorber” atau penahan guncangan ekonomi di tingkat akar rumput.

Secara naratif, suasana pembagian bantuan berlangsung sederhana namun penuh haru. Sejumlah penerima manfaat tampak bersyukur atas perhatian yang diberikan. Bagi mereka, bantuan beras bukan sekadar komoditas pangan, tetapi juga simbol kepedulian dan kehadiran negara melalui wakil rakyatnya.
Langkah Fraksi Golkar ini juga dapat dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas sosial di tengah tekanan ekonomi. Dalam analisis kebijakan publik, bantuan langsung seperti ini meskipun bersifat jangka pendek, tetap memiliki dampak signifikan dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus menekan potensi kerawanan sosial menjelang hari besar keagamaan.
“Semoga bantuan ini bisa membantu masyarakat yang terdampak kenaikan harga dan menjadi bagian dari upaya bersama dalam menanggulangi inflasi pangan,” tutup Jemi Yusuf.
(LW.id)
