Lenterawayracana.id | Konawe Selatan — Dinas Kesehatan setempat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Puskesmas Benua dan Motaha sebagai bagian dari upaya penguatan tata kelola layanan kesehatan primer. Kegiatan ini tidak sekadar bersifat administratif, melainkan menyentuh langsung aspek kedisiplinan sumber daya manusia hingga kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan.

Sidak diawali dengan apel bersama yang diikuti seluruh tenaga kesehatan. Momentum ini dimanfaatkan untuk mengevaluasi kehadiran staf sekaligus memastikan bahwa layanan esensial seperti Unit Gawat Darurat (UGD), rawat jalan, dan rawat inap berjalan optimal. Dalam perspektif manajemen kesehatan, kehadiran tenaga medis yang konsisten menjadi variabel kunci dalam menjaga kesinambungan pelayanan (continuity of care).

Selanjutnya, tim Dinas Kesehatan memberikan arahan terkait peningkatan kedisiplinan serta mutu pelayanan. Penekanan juga diberikan pada capaian indikator CKG (Cakupan Kinerja Gizi atau indikator program kesehatan lainnya), yang menjadi tolok ukur keberhasilan layanan berbasis komunitas. Pendekatan ini mencerminkan pentingnya integrasi antara pelayanan kuratif dan promotif-preventif dalam sistem kesehatan modern.
Pengecekan lapangan dilakukan secara menyeluruh, mencakup aktivitas pelayanan di poli umum, layanan USG, UGD, hingga ruang persalinan. Dari sisi operasional, pengawasan ini bertujuan memastikan bahwa alur pelayanan berjalan sesuai standar prosedur, serta menjamin keselamatan pasien (patient safety).
Tidak kalah penting, tim juga meninjau sarana dan prasarana, mulai dari kondisi ruang pelayanan, ketersediaan alat kesehatan, hingga stok obat-obatan dan bahan medis habis pakai (BMHP). Dalam terminologi kesehatan masyarakat, ketersediaan logistik medis merupakan bagian dari health system readiness yang sangat menentukan kualitas output layanan.


Di tengah proses sidak, petugas di lapangan turut menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi, mulai dari keterbatasan alat hingga kebutuhan mendesak yang memerlukan tindak lanjut cepat. Catatan ini menjadi bahan evaluasi strategis bagi Dinas Kesehatan dalam merumuskan kebijakan berbasis kebutuhan riil (evidence-based policy).
Pendekatan human interest juga terlihat dari interaksi langsung antara tim sidak dan tenaga kesehatan. Dialog yang terbangun tidak hanya bersifat evaluatif, tetapi juga suportif, memberikan ruang bagi petugas untuk menyampaikan aspirasi sekaligus memperkuat motivasi kerja di tengah tantangan pelayanan.
Secara keseluruhan, sidak ini menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan dasar. Dengan pengawasan yang berkelanjutan dan responsif terhadap kebutuhan lapangan, diharapkan Puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan mampu memberikan layanan yang lebih profesional, merata, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Sumber: Kontributor Ikmal Saranani

