LenteraWayracana.id | Tolitoli, 13 Mei 2026 — Saya sebagai pasien kembali menjalani konsultasi kedua dalam rangka pengobatan lanjutan di RSUD Mokopido melalui layanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dengan nomor antrean mobile 3 di Poli Bedah Umum sejak pukul 09.30 WITA, saya merasakan secara langsung sistem pelayanan kesehatan yang semakin adaptif dan terstruktur.

Dalam perspektif tata kelola layanan publik, sistem antrean digital merepresentasikan efisiensi prosedural sekaligus peningkatan kualitas layanan yang berorientasi pada kepastian dan kenyamanan pasien. Hal ini menjadi indikator bahwa transformasi layanan kesehatan berbasis teknologi mulai berjalan secara progresif di daerah.
Pada konsultasi kedua tersebut, dokter bedah melakukan evaluasi klinis lanjutan terhadap kondisi saya. Hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darah saya berada pada angka 120/70 mmHg, yang secara medis tergolong normal (normotensif) dan menjadi indikator stabilitas kondisi umum tubuh.
Berdasarkan evaluasi tersebut, saya diarahkan untuk menjalani pemeriksaan penunjang berupa foto rontgen—yang dalam istilah awam dikenal sebagai “poto ronggeng”. Secara ilmiah, rontgen merupakan metode diagnostik berbasis sinar-X yang memungkinkan visualisasi struktur internal tubuh secara non-invasif, sehingga membantu dokter dalam memperoleh data objektif guna menegakkan diagnosis secara lebih presisi.
Selain itu, saya juga diberikan terapi farmakologis berupa obat-obatan sebagai bagian dari penanganan lanjutan. Pendekatan ini mencerminkan integrasi antara praktik klinis berbasis evidensi (evidence-based medicine) dengan intervensi medis yang sistematis.


Dalam konsultasi tersebut, dokter bedah juga memberikan anjuran medis agar saya melakukan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit di Makassar, yang merupakan tempat saya pertama kali menjalani tindakan operasi. Rekomendasi ini memiliki dasar pertimbangan medis, yakni untuk memastikan kesinambungan data klinis serta evaluasi yang lebih komprehensif oleh tim yang sebelumnya menangani kondisi saya.
Namun demikian, pengalaman sebagai pasien tidak hanya berkaitan dengan aspek biologis semata. Terdapat dimensi psikologis dan spiritual yang turut berkontribusi dalam proses pemulihan. Harapan, ketenangan batin, serta dukungan sosial menjadi faktor penting dalam memperkuat proses penyembuhan secara holistik.
Dalam kerendahan hati, saya mohon doa dari rekan-rekan semua agar diberikan kesembuhan, kekuatan, serta kelancaran dalam menjalani setiap tahapan pengobatan ini. Aamiin.
Konsultasi kedua ini tidak sekadar menjadi prosedur medis, melainkan bagian dari perjalanan ikhtiar yang mempertemukan ilmu pengetahuan, sistem pelayanan kesehatan, serta nilai-nilai kemanusiaan dalam satu tujuan besar: kesembuhan.
(LW.id)

