BUTON UTARA — Di balik narasi pembangunan infrastruktur yang kerap digaungkan, kondisi riil jalan di Kabupaten Buton Utara (Butur), Provinsi Sulawesi Tenggara, justru menunjukkan fakta yang kontradiktif. Sejumlah ruas jalan strategis yang menjadi penghubung pusat ekonomi, kawasan permukiman, hingga akses desa masih berada dalam kondisi rusak berat dan belum tersentuh perbaikan signifikan.
Berdasarkan hasil penelusuran dan dokumentasi lapangan, kerusakan jalan ditemukan di berbagai titik vital, di antaranya kawasan Pasar Lama Ereke, Lasora, ruas Ereke–Bone, Desa Kampo Enta, Desa Rombo, Desa Linsowu, serta sejumlah wilayah lainnya. Kerusakan ini telah berlangsung dalam kurun waktu lama dan berdampak langsung pada aktivitas sosial-ekonomi masyarakat.
Fakta Lapangan: Jalur Permukiman Serupa Lintasan Off-Road
Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi jalan yang berubah menjadi kubangan lumpur saat musim hujan dan menimbulkan debu tebal pada musim kemarau. Lubang-lubang besar menganga di badan jalan, diperparah minimnya penerangan jalan umum, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas, khususnya pada malam hari.
Situasi ini menyebabkan penurunan tingkat mobilitas warga. Kendaraan logistik dan transportasi umum harus bergerak sangat lambat, bahkan kerap mengalami kerusakan akibat medan jalan yang lebih menyerupai lintasan off-road ketimbang jalan kabupaten yang layak.
Infrastruktur Jalan sebagai Urat Nadi Perekonomian


Secara konseptual, infrastruktur jalan merupakan prasarana vital yang berfungsi sebagai urat nadi pergerakan ekonomi dan sosial masyarakat. Dalam perspektif ekonomi regional, kerusakan jalan berdampak langsung terhadap efisiensi distribusi, akses layanan publik, dan daya saing wilayah.
Di Buton Utara, kondisi jalan yang rusak memicu beberapa dampak serius, antara lain terjadinya stagnasi ekonomi lokal akibat terhambatnya distribusi hasil pertanian dan kebutuhan pokok, meningkatnya biaya logistik yang pada akhirnya dibebankan kepada masyarakat, serta terbatasnya akses layanan kesehatan dan pendidikan, terutama bagi warga desa.
Selain itu, potensi pariwisata daerah yang sejatinya cukup menjanjikan turut terhambat. Akses menuju destinasi wisata dinilai belum representatif untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata berbasis kunjungan.
Jeritan Warga: Menunggu Perbaikan yang Tak Kunjung Datang
Kondisi ini memicu kekecewaan warga. Wa Seli (39), warga Desa Rombo, mengungkapkan bahwa kerusakan jalan di wilayahnya telah terjadi bertahun-tahun tanpa perbaikan yang berarti.
“Jalan di desa kami ini sudah lama sekali rusak parah. Kalau dihitung, mungkin sudah tiga sampai empat tahun kondisinya dibiarkan seperti ini tanpa ada perbaikan nyata,” ujar Wa Seli saat ditemui di lokasi, Jumat (30/1).
Keluhan serupa juga disampaikan warga lain yang setiap hari harus mempertaruhkan keselamatan saat melintasi jalan rusak untuk bekerja, bersekolah, maupun mengakses layanan kesehatan.
Desakan Publik: 2026 Momentum Perbaikan Serentak
Meskipun Pemerintah Daerah dan Pemerintah Provinsi disebut telah mengalokasikan anggaran infrastruktur pada tahun 2025, masyarakat menilai kebijakan perbaikan yang bersifat parsial atau tambal sulam tidak lagi relevan dengan tingkat kerusakan yang ada.
Tahun 2026 dinilai harus menjadi momentum perubahan. Pemerintah Kabupaten Buton Utara didesak mengambil langkah strategis dan progresif dengan melakukan perbaikan jalan secara serentak dan terintegrasi di seluruh wilayah kabupaten.
Dalam pendekatan pembangunan berkelanjutan, peningkatan kualitas infrastruktur jalan merupakan prasyarat utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Jika jalan merupakan urat nadi pembangunan, maka membiarkannya rusak sama halnya dengan menghentikan aliran darah perekonomian daerah. Oleh karena itu, sudah saatnya Pemda Buton Utara menjadikan perbaikan infrastruktur jalan sebagai prioritas utama anggaran daerah.
Pemulihan jalan-jalan yang selama bertahun-tahun mengalami kerusakan bukan sekadar tuntutan, melainkan kebutuhan mendesak yang tidak dapat ditawar lagi demi masa depan Buton Utara yang lebih maju dan berdaya saing.
(Achmad Irawan)

