Lenterawayracana.id | Tolitoli, Di Dusun Batunobota Bota, Desa Dadakitan, Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli, sebuah pemandangan yang menyentuh sekaligus mengkhawatirkan kembali terjadi. Arus air berwarna coklat pekat mengalir deras menutupi badan Jembatan Limpas Batunobota, memutus akses utama warg, terutama anak-anak sekolah.

Sebuah video yang beredar di masyarakat memperlihatkan seorang warga dengan sigap mengevakuasi anak-anak melintasi jembatan yang tengah terendam. Di sisi lain, sejumlah warga tampak berjaga, menanti debit air surut sebelum berani melintas. Situasi ini menggambarkan kondisi kerentanan infrastruktur terhadap dinamika hidrologi, khususnya saat intensitas curah hujan meningkat.
Secara ilmiah, fenomena banjir pada jembatan limpasan (low water crossing) seperti Batunobota terjadi karena kapasitas tampung aliran tidak sebanding dengan volume air yang datang secara tiba-tiba. Ketika debit meningkat, air akan melimpas dan menutup badan jembatan, menjadikannya tidak aman untuk dilalui.
Anggota DPRD Tolitoli, Jemi Yusuf, menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi tersebut. Ia menegaskan bahwa kejadian ini bukan yang pertama kali terjadi.
“Setiap hujan deras, orang tua selalu dihantui kekhawatiran terhadap keselamatan anak-anak mereka,” ujarnya.
Menurut Jemi, kondisi jembatan tersebut telah lama menjadi keluhan masyarakat. Jembatan limpasan yang ada saat ini tidak mampu mengakomodasi kebutuhan mobilitas warga, baik untuk aktivitas pendidikan maupun distribusi hasil perkebunan.

Dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Baolan tahun 2027, peningkatan kapasitas Jembatan Batunobota telah diusulkan sebagai prioritas pembangunan. Rencana tersebut mencakup peningkatan menjadi jembatan permanen yang lebih adaptif terhadap kondisi hidrologi setempat.
Namun demikian, realisasi pembangunan mengalami penundaan. Jemi menjelaskan bahwa anggaran yang semula direncanakan pada tahun 2025 harus mengalami rasionalisasi akibat kebijakan pemerintah pusat yang memprioritaskan program nasional lainnya.
“Kita tidak dalam kondisi bencana atau perang, tetapi hujan ringan saja sudah membuat anak-anak tidak bisa sekolah. Ini persoalan mendasar yang harus segera ditangani,” tegasnya.
Bagi warga Desa Dadakitan, jembatan ini bukan sekadar infrastruktur, melainkan urat nadi kehidupan. Ia menjadi satu-satunya akses bagi pelajar menuju sekolah serta jalur utama distribusi hasil pertanian.
Peristiwa banjir yang kembali terjadi menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur dasar di wilayah pedesaan masih membutuhkan perhatian serius. Di tengah arus air yang deras, tersimpan harapan warga akan hadirnya jembatan yang lebih aman, bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga bagi masa depan generasi mereka.
Sumber: Olahan dari keterangan warga dan pernyataan Anggota DPRD Tolitoli Jemi Yusuf.
(LW.id)
