Lentera Sulawesi.id | Kolaka – Aktivitas pelayaran penyeberangan di kawasan Teluk Bone kembali berlangsung pada Minggu (15/3) dini hari. Kapal feri KM Masagena bertolak dari Pelabuhan Kolaka, Sulawesi Tenggara, menuju Pelabuhan Bajoe, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, sekitar pukul 04.00 WITA.
Keberangkatan kapal pada waktu subuh tersebut menjadi bagian dari rutinitas transportasi laut yang menghubungkan dua wilayah penting di kawasan pesisir Teluk Bone. Jalur Kolaka – Bajoe selama ini dikenal sebagai salah satu lintasan vital bagi mobilitas masyarakat, kendaraan logistik, hingga pelaku usaha yang menggantungkan aktivitas ekonomi pada transportasi laut.
Secara geografis, lintasan ini melintasi perairan Teluk Bone yang memiliki karakteristik arus laut relatif stabil pada waktu dini hari. Kondisi tersebut kerap dimanfaatkan operator pelayaran untuk menjaga ketepatan jadwal sekaligus memastikan keselamatan perjalanan. Dari sudut pandang transportasi maritim, penentuan waktu keberangkatan subuh juga dianggap efisien karena dapat memaksimalkan waktu tempuh kapal dan memperlancar arus kendaraan di kedua pelabuhan.
Di atas kapal, suasana keberangkatan tampak dipenuhi penumpang dari berbagai latar belakang. Sebagian merupakan pemudik, pedagang antarpulau, hingga warga yang hendak melanjutkan perjalanan ke sejumlah daerah di Sulawesi Selatan. Di antara mereka terlihat keluarga yang membawa barang bawaan cukup banyak, menandakan perjalanan bukan sekadar mobilitas biasa, melainkan bagian dari aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat pesisir.
Seorang penumpang mengaku memilih keberangkatan dini hari agar bisa tiba lebih cepat di Bajoe dan melanjutkan perjalanan darat menuju kampung halaman.

“Kalau berangkat subuh, biasanya sampai lebih pagi sehingga perjalanan berikutnya tidak terlalu lama,” ujarnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa transportasi penyeberangan bukan sekadar layanan mobilitas, tetapi juga menjadi denyut kehidupan masyarakat pesisir. Kapal feri seperti KM Masagena memainkan peran strategis sebagai penghubung sosial, ekonomi, dan budaya antara dua provinsi di kawasan timur Indonesia.
Dengan jadwal pelayaran yang konsisten, lintasan Kolaka–Bajoe terus menjadi salah satu jalur transportasi laut yang diandalkan masyarakat. Aktivitas pelayaran dini hari pun menjadi gambaran nyata bagaimana sektor transportasi laut bekerja tanpa henti menjaga konektivitas antarwilayah.
(JAMAL. A)
