TOLITOLI, LenteraWayracana.id | — Kekeringan tidak hanya mengeringkan tanah, tetapi juga menguji ketahanan sosial dan spiritual masyarakat. Di tengah kondisi tersebut, sekitar 1.000 jamaah memadati Lapangan Dg. Mallawa, Desa Bangkir, Kecamatan Dampal Selatan, Kabupaten Tolitoli, Jumat (11/9/2026), untuk melaksanakan Shalat Istisqa sebagai ikhtiar bersama memohon turunnya hujan.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 07.30 WITA itu menjadi ruang perjumpaan antara doa, refleksi keagamaan, dan kesadaran ekologis. Pemerintah Kecamatan Dampal Selatan bersama KUA, unsur TNI-Polri, pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, pelajar, serta berbagai elemen masyarakat hadir dalam satu barisan.

Kapolsek Dampal Selatan AKP Haspudin Abd Azis bersama personelnya turut hadir sekaligus memastikan kegiatan berlangsung aman dan tertib. Pengamanan dilakukan secara terbuka dan tertutup bersama personel Koramil 1305-10 Dampal Selatan serta panitia pelaksana.

Aiptu Hasanuddin Sampaikan Tata Cara Shalat Istisqa
Sebelum pelaksanaan salat, jamaah mengikuti rangkaian kegiatan berupa pembukaan, zikir bersama, penyampaian tata cara Shalat Istisqa, pelaksanaan salat, khutbah, doa bersama, hingga penutupan.


Tuntunan pelaksanaan Shalat Istisqa disampaikan oleh Aiptu Hasanuddin, Ps. Kanit Provos Polsek Dampal Selatan. Penyampaian tersebut menjadi bagian penting agar pelaksanaan ibadah berlangsung sesuai tuntunan yang telah ditetapkan.
Shalat Istisqa kemudian dilaksanakan dengan Zulfahmi sebagai imam, sementara khutbah disampaikan Kepala KUA Kecamatan Dampal Selatan, Irwan Halide, S.Sy., M.Pd.
Kekeringan sebagai Momentum Muhasabah
Dalam khutbahnya, Irwan Halide tidak semata mengajak jamaah memohon hujan. Ia membawa persoalan kekeringan ke wilayah refleksi yang lebih luas: hubungan manusia dengan Tuhan sekaligus hubungan manusia dengan alam.
Ia mengingatkan bahwa manusia merupakan khalifah di muka bumi yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga, memelihara, dan tidak melakukan kerusakan terhadap lingkungan.
Pesan tersebut dikaitkan dengan kandungan QS. Ar-Rum ayat 41, yang mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut berkaitan dengan perbuatan manusia.
Karena itu, kekeringan diposisikan bukan sekadar fenomena alam, melainkan momentum untuk melakukan muhasabah, memperbanyak istighfar, bertaubat, serta memperbaiki relasi sosial dan ekologis.
Jamaah juga diingatkan untuk menjauhi berbagai bentuk kemaksiatan dan perilaku yang dapat merusak tatanan kehidupan, termasuk perjudian, penyalahgunaan narkotika, minuman keras, perzinaan, riba, serta tindakan lain yang merugikan diri sendiri maupun masyarakat.
Doa untuk Hujan, Tanggung Jawab untuk Lingkungan
Pesan keagamaan dalam kegiatan tersebut kemudian bersentuhan langsung dengan persoalan ekologis. Masyarakat diajak mengurangi penggunaan sampah plastik, menjaga hutan, menghemat air, menjaga kebersihan lingkungan, serta menghindari tindakan yang dapat memperparah kerusakan alam.
Di titik inilah Shalat Istisqa memperoleh makna yang lebih substantif. Doa tidak ditempatkan sebagai pengganti ikhtiar manusia, melainkan menjadi bagian dari kesadaran bahwa menghadapi kekeringan membutuhkan dimensi spiritual sekaligus tindakan nyata.
Bagi masyarakat yang aktivitas kehidupannya bersentuhan langsung dengan ketersediaan air dan pertanian, hujan bukan sekadar perubahan cuaca. Air adalah penopang kehidupan, produktivitas, dan keberlangsungan ekonomi keluarga.
Karena itu, doa agar hujan turun menjadi ekspresi kegelisahan sekaligus harapan masyarakat menghadapi keterbatasan air.
TNI-Polri dan Pemerintah Kecamatan Bersama Masyarakat
Kegiatan tersebut turut dihadiri Camat Dampal Selatan Abd Gafur, S.Sos.I., M.Si., Sekcam M. Firdaus, S.E. bersama staf, Kapolsek Dampal Selatan AKP Haspudin Abd Azis bersama anggota, Danramil 1305-10 Dampal Selatan Lettu Cpt Ramli Dg. Matutu bersama anggota, perwakilan Kacabjari Bangkir, jajaran KUA, ASN, para kepala desa dan aparat desa, kepala UPT/instansi, pengurus masjid, TP PKK, majelis taklim, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, serta masyarakat dan perwakilan pelajar SMA/MTs se-Kecamatan Dampal Selatan.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kekeringan memiliki dimensi lintas sektor. Ia menyentuh aspek keagamaan, sosial, lingkungan, keamanan, hingga kehidupan ekonomi masyarakat.
Berakhir Aman dan Terkendali
Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama untuk memohon ampunan, rahmat, pertolongan Allah SWT, serta turunnya hujan yang bermanfaat, berkah, dan mencukupi kebutuhan masyarakat.
Kegiatan berakhir sekitar pukul 08.10 WITA dalam keadaan aman, lancar, dan terkendali.(LW.id)

