TOLITOLI, LenteraWayracana.id — Kesadaran bela negara tidak hanya diuji di medan pertahanan, tetapi juga dalam cara generasi muda menjaga persatuan, menyikapi arus informasi, menaati hukum, dan merawat keberagaman. Berangkat dari semangat tersebut, Komando Distrik Militer (Kodim) 1305/BT menggelar Pembinaan Kesadaran Bela Negara bersama Keluarga Besar TNI Tahun Anggaran 2026 dengan melibatkan Generasi Muda Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan TNI/Polri (GM FKPPI) Kabupaten Tolitoli.

Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (10/10/2026) di Aula Manggala Kodim 1305/BT itu menjadi ruang penguatan wawasan kebangsaan sekaligus upaya menanamkan nilai-nilai nasionalisme kepada generasi muda di tengah perubahan sosial dan derasnya arus informasi digital.

Bela Negara Bukan Sekadar Pertahanan Fisik
Dalam kegiatan tersebut, Staf Pasiter Kodim 1305/BT, Serka Ahmad Ripandy, menyampaikan materi mengenai hakikat bela negara sebagai tanggung jawab kolektif seluruh warga negara Indonesia.

Ia menegaskan, bela negara tidak semata-mata diwujudkan melalui kekuatan fisik atau keterlibatan dalam pertahanan militer. Lebih dari itu, nilai bela negara tercermin dalam kedisiplinan, kepatuhan terhadap hukum, pengamalan Pancasila, serta kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan sosial.

“Bela negara merupakan tanggung jawab seluruh warga negara Indonesia. Setiap warga negara memiliki peran dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan bangsa sesuai dengan kapasitas masing-masing,” ujar Serka Ahmad Ripandy.
Menurutnya, generasi muda perlu memiliki wawasan kebangsaan yang kokoh agar mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan orientasi terhadap identitas nasional dan kepentingan bersama.
Ia juga menyoroti pentingnya kecakapan dalam memilah informasi di era digital. Penyebaran berita bohong, provokasi, intoleransi, dan narasi yang berpotensi memecah belah masyarakat menjadi tantangan yang membutuhkan sikap kritis serta tanggung jawab bersama.
Dalam konteks tersebut, nasionalisme tidak cukup berhenti pada simbol dan slogan. Nilainya harus hadir dalam perilaku sehari-hari, termasuk kemampuan menghormati perbedaan, menjaga kerukunan, dan menggunakan media sosial secara bijaksana.
GM FKPPI Dorong Generasi Muda Berkontribusi Nyata
Ketua GM FKPPI Kabupaten Tolitoli, Agustinus Lukas, menyambut baik pelaksanaan pembinaan tersebut. Ia memandang kegiatan ini sebagai momentum untuk memperkuat karakter, solidaritas organisasi, dan komitmen generasi muda terhadap nilai-nilai kebangsaan.
“Bela negara bukan hanya tentang menjaga pertahanan dan keamanan, tetapi juga tentang bagaimana kita sebagai generasi muda mengamalkan nilai-nilai Pancasila, menjaga persatuan dan kesatuan, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” kata Agustinus.
Ia menekankan bahwa generasi muda memiliki posisi strategis dalam menentukan arah masa depan bangsa. Karena itu, kesadaran bela negara perlu diterjemahkan menjadi tindakan konkret, seperti bersikap disiplin, bertanggung jawab, menghargai perbedaan, dan menghidupkan semangat gotong royong.
Agustinus juga berharap anggota GM FKPPI mampu menjadi bagian dari lingkungan sosial yang produktif, inklusif, dan berintegritas. Organisasi, menurutnya, tidak cukup hanya menjadi wadah berkumpul, tetapi harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat dan daerah.
Ia menambahkan, sinergi antara GM FKPPI, TNI, dan berbagai elemen masyarakat perlu terus diperkuat untuk membangun karakter generasi muda yang memiliki kepedulian sosial serta mampu menjaga keharmonisan di tengah keberagaman.
Menguatkan Nasionalisme di Tengah Tantangan Digital
Pembinaan kesadaran bela negara tersebut mengandung pesan yang lebih luas daripada sekadar penyampaian materi. Di tengah perubahan teknologi dan dinamika kehidupan masyarakat, generasi muda menghadapi tantangan untuk mempertahankan nalar kritis, solidaritas sosial, dan komitmen terhadap kepentingan bangsa.
Dari perspektif kebangsaan, ketahanan nasional tidak hanya bertumpu pada kekuatan pertahanan dan keamanan, tetapi juga pada kualitas karakter warga negara. Masyarakat yang mampu menghargai perbedaan, menolak provokasi, dan membangun kerja sama memiliki modal sosial penting untuk menjaga stabilitas serta persatuan.
Karena itu, pembinaan seperti yang dilaksanakan Kodim 1305/BT akan semakin bermakna apabila nilai-nilainya berlanjut dalam praktik kehidupan sehari-hari. Ukuran keberhasilannya bukan semata-mata terlaksananya kegiatan, melainkan sejauh mana peserta menerapkan pengetahuan tersebut dalam keluarga, organisasi, lingkungan sosial, dan ruang digital.
Melalui kegiatan ini, Kodim 1305/BT dan GM FKPPI Kabupaten Tolitoli diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dalam menumbuhkan semangat nasionalisme, meningkatkan kepedulian sosial, serta mendorong partisipasi generasi muda dalam pembangunan daerah.
Pada akhirnya, bela negara menemukan maknanya bukan hanya dalam kata-kata, melainkan dalam tindakan yang menjaga martabat sesama, merawat persaudaraan, menaati aturan, dan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan yang memecah belah.
Sebab, persatuan tidak tumbuh dengan sendirinya. Ia dirawat melalui kesadaran, diperkuat oleh tanggung jawab, dan diwariskan melalui keteladanan. (Ghufron)

