Lenterawayracana.id | Toli-Toli, Pasca Lebaran 2026, para petani di Kabupaten Tolitoli bersiap menyongsong Musim Tanam (MT) April–September (Asep). Harapan akan panen yang lebih baik kembali menggeliat, namun di balik optimisme itu tersimpan persoalan klasik yang belum tuntas: keterbatasan sarana produksi utama yang berpotensi menahan laju produktivitas padi sawah.

Secara agronomis, produktivitas padi sangat ditentukan oleh tiga komponen kunci, yaitu ketersediaan benih unggul bersertifikat, kecukupan air irigasi yang didukung saluran fungsional, serta distribusi pupuk yang tepat waktu dan memadai. Ketiga faktor ini bekerja secara sinergis dalam menentukan hasil akhir produksi. Ketika salah satu komponen melemah, sistem produksi pun menjadi tidak optimal.
Data Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Tolitoli melalui surat Nomor: 521.2/2879.160/TP/DISTAPANGHORTI/2025 menunjukkan bahwa ketersediaan benih padi bersertifikat untuk MT 2025/2026 hanya berada pada kisaran 35.000 hingga 57.900 kilogram. Angka ini baru memenuhi sekitar 15–20 persen dari total kebutuhan benih untuk MT Asep 2026. Jika dibandingkan dengan capaian nasional yang telah mencapai 65 persen, kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup signifikan.
Secara ilmiah, penggunaan benih unggul bersertifikat memiliki korelasi positif terhadap peningkatan produktivitas. Benih dengan mutu genetik, fisiologis, dan fisik yang terjamin mampu menghasilkan tanaman yang lebih seragam, tahan terhadap hama dan penyakit, serta responsif terhadap input pemupukan. Sebaliknya, penggunaan benih non-sertifikat cenderung menghasilkan pertumbuhan yang tidak seragam dan rentan terhadap tekanan lingkungan.
Implikasi dari rendahnya ketersediaan benih unggul ini mulai terlihat pada capaian produktivitas padi sawah di Tolitoli yang masih berkisar 2,5–2,8 ton Gabah Kering Giling (GKG) per hektare. Angka tersebut jauh tertinggal dibandingkan rata-rata produktivitas tingkat Provinsi Sulawesi Tengah yang mencapai 4–5 ton GKG per hektare, serta capaian nasional sebesar 5,31 ton GKG per hektare (Kementerian Pertanian, 2025).

Di lapangan, petani seperti tidak memiliki banyak pilihan. Keterbatasan akses terhadap benih bersertifikat memaksa sebagian dari mereka menggunakan benih hasil panen sebelumnya. Praktik ini memang menghemat biaya jangka pendek, namun dalam perspektif ilmiah, dapat menyebabkan degradasi mutu benih secara bertahap akibat segregasi genetik dan penurunan vigor.
Selain benih, tantangan lain juga mengemuka pada aspek ketersediaan air. Sekitar 8.800 hektare sawah irigasi di Tolitoli sangat bergantung pada kondisi aktual saluran irigasi yang dikelola Dinas PUPR. Kerusakan atau ketidakefisienan distribusi air berpotensi menurunkan indeks pertanaman dan produktivitas. Air, dalam fisiologi tanaman padi, berperan penting dalam proses fotosintesis, transpor nutrisi, hingga pembentukan bulir.
Sementara itu, kebutuhan pupuk untuk 9.275 hektare lahan sawah irigasi yang masuk dalam kawasan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) sebagaimana diatur dalam Perda Nomor 2 Tahun 2022 juga menjadi perhatian. Ketidakseimbangan pemupukan dapat menyebabkan efisiensi serapan hara yang rendah, sehingga pertumbuhan tanaman tidak optimal.
Di tengah berbagai keterbatasan ini, harapan tetap disandarkan pada peran Balai Benih serta petani penangkar lokal. Mereka menjadi garda terdepan dalam memperkuat sistem perbenihan daerah. Upaya peningkatan produksi benih unggul bersertifikat tidak hanya menjadi kebutuhan teknis, tetapi juga strategi penting dalam mewujudkan kemandirian pangan.
Secara makro, penguatan sektor perbenihan merupakan bagian integral dari agenda swasembada pangan. Tanpa dukungan benih berkualitas, program peningkatan produksi akan sulit mencapai target. Oleh karena itu, intervensi kebijakan, dukungan anggaran, serta kolaborasi lintas sektor menjadi krusial.
Musim tanam Asep 2026 menjadi momentum penting. Bukan hanya tentang menanam padi, tetapi juga tentang memperbaiki fondasi sistem produksi pertanian. Di tangan petani, benih bukan sekadar awal kehidupan tanaman, melainkan juga penentu masa depan ketahanan pangan daerah dan bangsa.
(LW.id)

